SURABAYA, Headlinejatim.com – Setelah peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026, ruang digital Indonesia justru ramai membicarakan negara-negara yang sedang menghadapi tekanan energi dan ekonomi. Nama Kuba, Venezuela, hingga Sri Lanka muncul di Instagram, TikTok, YouTube, Facebook, sampai platform X sebagai bahan diskusi publik tentang listrik, utang, dolar, harga hidup, dan masa depan negara berkembang.
Fenomena itu mulai ramai setelah akun Instagram Narasi Newsroom mengunggah carousel tentang blackout atau pemadaman listrik besar di Kuba pada Mei 2026. Unggahan @Narasinewsroom tersebut memperlihatkan jalanan Havana yang gelap, warga memukul panci di malam hari, hingga narasi tentang embargo Amerika Serikat dan krisis bahan bakar yang sedang dialami Kuba.
Melalui Unggahan itu kemudian menyebar luas ke berbagai platform media sosial dan memunculkan banyak komentar publik Indonesia seperti:
“jangan sampai seperti Sri Lanka,”
“blackout bukan sekadar listrik,”
“energi menentukan stabilitas negara,”
hingga “negara modern bisa goyah karena listrik dan utang.”
Secara jurnalistik, komentar-komentar tersebut merupakan bagian dari interpretasi publik di ruang digital, bukan fakta bahwa Indonesia sedang mengalami kondisi yang sama dengan Kuba, Venezuela, atau Sri Lanka.
Laporan media internasional memang menunjukkan Kuba sedang menghadapi tekanan energi serius. Media Inggris The Guardian pada 14 Mei 2026 mempublikasikan laporan berjudul:
“Cuba has run out of diesel and fuel oil, energy minister says, as US blockade pushes island to brink.”
Laporan yang ditulis jurnalis Tom Phillips itu mengutip pernyataan Menteri Energi Kuba, Vicente de la O Levy.
“We have absolutely no fuel [oil] and absolutely no diesel,” kata Vicente de la O Levy seperti dikutip The Guardian.
Pemerintah Kuba menyebut jaringan listrik negaranya berada dalam kondisi kritis. Sebagian wilayah mengalami pemadaman hingga lebih dari 20 jam sehari. Warga Havana turun ke jalan sambil memukul panci sebagai bentuk protes sosial terhadap kondisi listrik dan ekonomi.
Media internasional Reuters.com juga melaporkan tekanan energi Kuba berkaitan dengan terganggunya pasokan minyak dari Venezuela serta embargo Amerika Serikat terhadap Kuba.
Dalam laporan Reuters Mei 2026, pemerintah Kuba disebut mulai menyesuaikan harga bahan bakar karena biaya impor energi semakin berat. Di saat yang sama, hubungan Kuba dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Washington memperketat tekanan ekonomi dan energi terhadap Havana.
Nama Venezuela ikut ramai dibahas karena negara itu selama bertahun-tahun menjadi salah satu pemasok minyak utama Kuba. Namun Venezuela sendiri masih menghadapi tekanan ekonomi dan politik berkepanjangan.
Negara yang memiliki salah satu cadangan minyak terbesar dunia itu mengalami kombinasi masalah: Hiperinflasi, penurunan produksi minyak, konflik politik internal, serta sanksi ekonomi internasional.
Presiden Venezuela Nicolás Maduro kembali sering muncul dalam pemberitaan internasional karena situasi ekonomi dan geopolitik negara tersebut.
Media seperti BBC News dan Al Jazeera English beberapa tahun terakhir banyak membahas bagaimana Venezuela berubah dari negara kaya minyak menjadi negara dengan tekanan ekonomi dan migrasi besar-besaran.
Sementara itu, Sri Lanka menjadi simbol berbeda dalam percakapan publik Indonesia.
Negara Asia Selatan tersebut mengalami krisis utang dan devisa pada 2022. Saat itu masyarakat Sri Lanka menghadapi antrean panjang BBM, pemadaman listrik, Inflasi tinggi, kelangkaan pangan, hingga demonstrasi besar-besaran yang mengguncang pemerintahan.
Pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, dalam laporan ANTARA News pada 13 Juli 2022 menyebut krisis Sri Lanka perlu menjadi pelajaran bagi negara lain, termasuk Indonesia.
“Gagal bayar utang Sri Lanka harus jadi pelajaran bagi negara lain, termasuk Indonesia,” ujar Telisa.
Ekonom senior Universitas Indonesia, Faisal Basri, juga pernah mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam pengelolaan ekonomi dan utang negara agar Indonesia tetap stabil menghadapi tekanan global.
Meski begitu, para pengamat menegaskan Indonesia tidak berada dalam kondisi seperti Kuba, Venezuela, maupun Sri Lanka. Indonesia tidak mengalami embargo ekonomi seperti Kuba, tidak mengalami hiperinflasi seperti Venezuela, dan tidak mengalami gagal bayar utang seperti Sri Lanka.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM RI juga menyatakan kondisi energi nasional masih aman. Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia, pada April 2026 menyebut pasokan energi nasional tetap terkendali di tengah gejolak global.
Meski begitu, isu energi tetap sensitif bagi masyarakat Indonesia karena langsung berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seperti harga BBM, tarif listrik, harga pangan, Biaya transportasi, hingga pengeluaran rumah tangga.
Karena itu, ketika publik Indonesia melihat kota-kota gelap di Kuba atau antrean BBM di Sri Lanka, banyak orang kemudian ikut bercermin dan bertanya tentang ketahanan energi dan ekonomi nasional di masa depan.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana media sosial mengubah krisis luar negeri menjadi refleksi psikologis publik dalam negeri.
Dalam kajian komunikasi modern, situasi seperti ini sering disebut sebagai Reflective international narrative, yakni ketika masyarakat memakai peristiwa global untuk membaca kecemasan sosial, ekonomi, dan politik di negaranya sendiri.
Di Indonesia, isu energi memang sangat sensitif. Kenaikan BBM atau harga kebutuhan pokok hampir selalu berdampak langsung terhadap suasana sosial masyarakat.
Karena itu, blackout Kuba tidak hanya dibaca sebagai berita luar negeri semata. Bagi sebagian publik digital Indonesia, ia berubah menjadi simbol tentang ketahanan negara, kestabilan ekonomi, dan kemampuan pemerintah menjaga kehidupan masyarakat di tengah tekanan global.
Namun secara jurnalistik, penting untuk membedakan antara fakta, analisis, dan opini publik media sosial.
Hingga saat ini tidak ada data resmi yang menunjukkan Indonesia berada dalam kondisi seperti Kuba, Venezuela, atau Sri Lanka, yang berkembang di ruang digital adalah kekhawatiran publik, refleksi sosial, dan diskusi tentang pentingnya menjaga energi, ekonomi, dan stabilitas nasional di tengah situasi dunia yang terus berubah.
Di era media sosial hari ini, listrik bukan lagi sekadar soal lampu menyala atau padam. Ia sudah berubah menjadi simbol bagi kepercayaan publik, Kestabilan negara, dan kemampuan sebuah bangsa bertahan menghadapi tekanan global modern.
Daftar Sumber dan Referensi Penunjang
1. TheGuardian.com, – “Cuba has run out of diesel and fuel oil, energy minister says, as US blockade pushes island to brink”, dipublikasikan 14 Mei 2026 oleh Tom Phillips.
2. Reuters.com, – Laporan krisis energi Kuba, pasokan minyak Venezuela, dan tekanan embargo AS, Mei 2026.
3. Narasi Newsroom Instagram.com, – Carousel blackout Kuba dan krisis energi, Mei 2026.
4. ANTARANews.com, – Pernyataan Telisa Aulia Falianty terkait Sri Lanka dan Indonesia, 13 Juli 2022.
5. Kementerian ESDM RI, – Data dan keterangan ketahanan energi nasional Indonesia.
6. BBCNews.com, – Dokumentasi konflik Venezuela dan krisis ekonomi Amerika Latin.
7. AlJazeeraEnglish.com, – Laporan geopolitik Venezuela dan tekanan ekonomi Amerika Latin.






