RPH Surabaya Catat 143 Pendaftar Kurban, Targetkan 200 Ekor pada Iduladha 2026

SURABAYA, Headlinejatim.com – Rumah Potong Hewan Kota Surabaya mencatat sebanyak 143 ekor hewan kurban telah terdaftar hingga 18 Mei 2026. Jumlah tersebut disampaikan Direktur Jasa Niaga RPH Surabaya, Megawati, saat ditemui di Gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (18/5/2026).

Megawati mengatakan, pihaknya tahun ini tetap berkomitmen hanya melayani jasa pemotongan hewan kurban. Kebijakan itu dilakukan untuk memastikan proses pemotongan berjalan sesuai syariat Islam dan prinsip kesejahteraan hewan.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh customer yang sudah mempercayakan pelayanan jasa pemotongan di RPH Kota Surabaya. Tahun ini kami tetap sesuai komitmen hanya melayani jasa pemotongan saja. Mudah-mudahan ini yang terbaik secara syar’i dan ihsan untuk mewujudkan harapan customer mendapatkan daging ASUH, yakni aman, sehat, utuh, dan halal,” ujar Megawati.

Ia menjelaskan, hingga saat ini jumlah pendaftar hewan kurban mencapai 143 ekor. Sementara target yang dipatok tahun ini berada di angka 200 ekor.

“Target sebenarnya di angka 200 ekor. Tahun sebelumnya sekitar 170-an, sehingga kami berharap tahun ini bisa lebih baik,” katanya.

Menurut Megawati, meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap RPH Surabaya tidak lepas dari kualitas pelayanan, kapasitas pemotongan, hingga sistem layanan kepada konsumen.

RPH Surabaya juga menawarkan dua jenis layanan pemotongan. Untuk layanan “sontor” atau pemotongan lepas tulang dikenakan biaya Rp2 juta per ekor. Sedangkan layanan jasa kemas dipatok Rp2,8 juta per ekor.

“Jasa kemas ini mencakup potong, cacah hingga pengiriman. Konsumen nanti menerima daging yang sudah dikemas per satu kilogram dan siap distribusi,” jelasnya.

Terkait kendala di lapangan, Megawati menyebut tantangan utama berada pada pelaksanaan teknis pemotongan agar tetap memenuhi standar kesejahteraan hewan.

“Yang menjadi perhatian bagaimana operator melaksanakan pemotongan dengan baik. Selama ini RPH sudah dipercaya banyak konsumen karena mereka bisa melihat langsung praktik di lapangan, termasuk bagaimana kami memperhatikan kesejahteraan hewan saat proses pemotongan. Ini yang membedakan dengan tempat lain,” ujarnya.

Megawati juga memastikan rencana kepindahan ke Tambak Oso Wilangun tidak memengaruhi jumlah masyarakat yang menggunakan jasa pemotongan hewan kurban di RPH Surabaya.

“Momentum kurban ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan rencana kepindahan ke TOW. Jadi tidak berpengaruh,” pungkasnya.

Related posts