Menelusuri Sejarah Rawon, Dari Prasasti Taji 901 M hingga Jadi Sup Terbaik Dunia

SURABAYA, HeadlineJatim.com — Di hampir setiap resepsi pernikahan di Jawa Timur, satu hidangan nyaris tak tergantikan: rawon. Kuah hitam pekat berbasis kluwek ini kerap hadir sebagai menu utama dalam sistem prasmanan, bukan sekadar pelengkap. Kehadirannya tidak hanya memenuhi selera tamu, tetapi juga memperlihatkan posisi sejarah rawon Jawa Timur sebagai bagian dari identitas sosial masyarakat yang sangat kuat.

​Namun, di balik popularitasnya yang masif, rawon menyimpan teka-teki sejarah yang panjang. Muncul pertanyaan mendasar: sejak kapan rawon dikenal, dan bagaimana kluwek yang sejatinya beracun bisa bertransformasi menjadi bumbu utama yang melegenda? Penelusuran terhadap literatur sejarah dan kajian pangan menunjukkan bahwa rawon adalah hasil evolusi kecerdasan kolektif masyarakat Jawa.

Read More

Jejak “Rarawwan” dalam Prasasti Taji

​Jejak awal yang sering dikaitkan dengan sejarah rawon Jawa Timur berasal dari Prasasti Taji yang bertarikh 901 M. Prasasti dari era Mataram Kuno ini menyebutkan istilah “rarawwan” dalam daftar hidangan upacara. Meski para peneliti kuliner seperti Fadly Rahman dan Titi Surti Nastiti menafsirkan istilah ini sebagai cikal bakal rawon, interpretasi ini tetap harus dibaca secara hati-hati.

​Prasasti Taji tidak memuat resep atau teknik memasak secara rinci. Oleh karena itu, istilah “rarawwan” lebih aman dipahami sebagai akar terminologi kuliner purba, bukan bukti bahwa rawon modern dengan bumbu kluwek sudah eksis dalam bentuk yang sama pada abad ke-10. Hal ini menjadi catatan penting agar fakta sejarah tidak bercampur dengan asumsi modern.

Kluwek, Keajaiban Teknologi Pangan Lokal

​Ciri utama rawon terletak pada penggunaan kluwek (Pangium edule). Menariknya, biji kluwek mentah mengandung senyawa sianogenik yang sangat beracun (sianida). Di sinilah letak keunikan sejarah rawon Jawa Timur; ia merupakan bukti keberhasilan teknologi pangan tradisional dalam menetralisir racun melalui proses fermentasi yang rumit.

​Proses pengolahan kluwek meliputi perebusan dan pemeraman di dalam tanah atau abu sekam selama puluhan hari. Teknik ini secara empiris menurunkan kadar toksisitas hingga menghasilkan karakter rasa gurih dan warna hitam yang aman dikonsumsi. Pengetahuan ini diwariskan secara lisan lintas generasi tanpa ada satu individu pun yang tercatat sebagai “penemu” resep pertama.

Rawon di Era Kolonial dan Urbanisasi

​Memasuki era kolonial, tanaman kluwek mulai menarik perhatian botanis Belanda seperti Caspar Georg Carl Reinwardt pada 1825. Namun, pemerintah kolonial lebih fokus pada klasifikasi botani ketimbang mendokumentasikan resep rawon. Rawon tetap lestari di jalur non-formal melalui dapur rumah tangga, pasar tradisional, dan hajatan desa.

​Baru pada abad ke-20, rawon mengalami transformasi menjadi ikon urban, khususnya di Surabaya. Munculnya warung-warung legendaris seperti Rawon Setan atau Rawon Kalkulator menunjukkan bahwa hidangan ini telah beradaptasi dengan dinamika kota. Rawon bukan lagi sekadar makanan rumahan, melainkan pengalaman kuliner malam yang dicari oleh wisatawan dan warga kota.

Simbol Status dalam Resepsi Pernikahan

​Dalam konteks sosiologis Jawa Timur, penggunaan daging sapi dalam rawon di acara pernikahan memberi kesan kehormatan bagi tuan rumah. Rawon dianggap mampu mewakili cita rasa lokal yang kuat namun tetap praktis disajikan dalam jumlah besar. Perpaduan antara kuah kluwek, tauge pendek, telur asin, dan sambal terasi menciptakan harmoni rasa yang diterima oleh semua kelas sosial.

Pengakuan Dunia melalui TasteAtlas

​Kini, rawon telah melampaui batas wilayah Jawa Timur. Pada tahun 2023, platform kuliner global TasteAtlas menempatkan rawon dalam daftar sup terbaik dunia. Pencapaian ini membawa rawon masuk ke dalam peta gastrodiplomasi Indonesia, memperkenalkan identitas budaya Nusantara kepada publik internasional melalui kelezatan kuah hitamnya.

Kecerdasan Kolektif yang Tak Lekang oleh Zaman

​Jika ditelusuri lebih jauh, rawon sebenarnya adalah sebuah sistem budaya. Ia mencerminkan relasi manusia dengan ekologi, kemampuan adaptasi terhadap bahan alam yang ekstrem, serta struktur sosial yang terjaga. Ketiadaan nama “penemu” tunggal justru menegaskan bahwa rawon adalah milik bersama masyarakat Jawa Timur.

​Di setiap suapan rawon, tersimpan memori budaya dan pengetahuan pangan yang terus hidup. Dari dapur kuno di pedalaman hingga meja hotel berbintang, rawon tetap menjadi simbol bahwa kuliner dapat bertahan bukan karena satu nama besar, tetapi karena terus dirawat oleh masyarakat yang menghidupkannya.

 

Sumber Data & Referensi:

Prasasti Taji 901 M; Museum Nasional Indonesia; Titi Surti Nastiti, Pasar di Jawa pada Masa Mataram Kuno; Fadly Rahman, Jejak Rasa Nusantara; kajian IPB tentang Pangium edule; Jurnal UNM tentang fermentasi kluwek; Journal of Ethnic Foods 2024; TasteAtlas 2023; dan ANTARA News terkait gastrodiplomasi Indonesia.

Related posts