Krisis Timur Tengah Bayangi Energi, DPRD Jatim Ungkap “Pemborosan Tersembunyi” di Kantor Pemerintah

Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Lilik Hendarwati.

SURABAYA, HeadlineJatim.com — Saat dunia waspada terhadap potensi krisis energi imbas konflik di Timur Tengah, perhatian justru diarahkan ke kebiasaan kecil yang luput dari pengawasan, listrik kantor yang terus menyala tanpa aktivitas. Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Lilik Hendarwati, menyebut fenomena ini sebagai “pemborosan tersembunyi” yang terjadi setiap hari di lingkungan birokrasi.

Read More

Menurutnya, ancaman krisis energi global seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk berbenah, bukan hanya lewat kebijakan besar, tetapi juga disiplin dalam penggunaan energi di level paling dasar.

“Kalau kita bicara efisiensi energi, jangan hanya berhenti di kebijakan. Di kantor-kantor itu masih banyak lampu menyala padahal ruangannya kosong. Ini pemborosan yang nyata,” tegas Lilik, Senin (30/3/2026).

Ia menilai, langkah penghematan energi kerap terjebak pada wacana makro, sementara praktik sehari-hari justru diabaikan. Padahal, jika kebiasaan sederhana seperti mematikan lampu dan perangkat listrik saat tidak digunakan diterapkan secara masif, dampaknya bisa signifikan terhadap pengurangan konsumsi energi.

Di sisi lain, kebijakan work from home (WFH) ASN setiap hari Rabu yang diterapkan Pemprov Jatim juga tak luput dari sorotan. Kebijakan ini memang diarahkan untuk menekan konsumsi BBM dari mobilitas pegawai, namun dinilai belum tentu efektif.

“WFH itu belum tentu langsung hemat energi. Kalau ASN tetap keluar rumah atau bepergian, maka tujuannya bisa tidak tercapai. Ini harus dievaluasi berbasis data,” ujarnya.

Lilik justru melihat peluang yang lebih konkret melalui perubahan pola transportasi. Ia mendorong masyarakat, termasuk ASN, untuk beralih ke transportasi umum sebagai langkah nyata menekan konsumsi energi.

“Transportasi umum seperti Bus Trans Jatim dan Suroboyo Bus itu sudah ada. Tinggal bagaimana kita dorong penggunaannya. Ini bukan hanya soal hemat energi, tapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Di tengah bayang-bayang krisis global, kritik ini menjadi tamparan bagi pola pengelolaan energi yang selama ini dianggap sepele. Sebab, di balik lampu yang terus menyala di ruang kosong, tersimpan ironi: upaya penghematan digaungkan, namun pemborosan masih berlangsung tanpa kendali.

Related posts