Sering Dibasmi, Ilmuwan Justru Bilang Kecoak Tak Boleh Punah

Surabaya, HeadlineJatim.com – Banyak orang memiliki reaksi spontan yang sama ketika melihat kecoak, ingin segera membasminya.

Serangga ini identik dengan dapur kotor, kamar mandi lembap, dan bayangan menjijikkan saat tiba-tiba berlari dari celah tembok ketika lampu dinyalakan.

Namun di balik reputasi buruknya, para ilmuwan justru mengingatkan sesuatu yang terdengar paradoks: Bumi bisa mengalami gangguan ekosistem serius jika kecoak benar-benar punah.

Makhluk yang selama ini dianggap hama ternyata memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.

Ribuan Spesies Kecoak Hidup di Bumi

Dalam kajian Entomologi, kecoak termasuk kelompok serangga yang sangat beragam. Para ilmuwan saat ini mencatat sekitar 4.600 spesies kecoak telah dideskripsikan secara ilmiah dalam kelompok Blattodea ordo serangga yang juga mencakup rayap. Namun jumlah sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar.

Banyak ahli meyakini total spesies kecoak di dunia bisa mendekati 10.000 jenis. Perbedaan angka ini muncul karena masih banyak spesies yang hidup di habitat yang jarang diteliti, seperti hutan hujan tropis, tanah lembap, hingga gua.

Wilayah tropis seperti Indonesia, Brazil, dan Madagascar dikenal sebagai pusat keanekaragaman serangga dunia, tempat para peneliti kerap menemukan spesies baru.

Menariknya, dari ribuan jenis tersebut hanya sekitar empat spesies yang benar-benar hidup sebagai hama di rumah manusia, di antaranya:

  • Blattella germanica
  • Periplaneta americana
  • Supella longipalpa
  • Periplaneta australasiae

Sebagian besar kecoak lainnya hidup di alam liar dan hampir tidak pernah terlihat oleh manusia.

Indonesia Menjadi Rumah Banyak Kecoak Tropis

Sebagai negara dengan keanekaragaman hayati tinggi, Indonesia juga menjadi habitat bagi banyak spesies kecoak yang hidup di alam liar.

Serangga ini biasanya ditemukan di batang kayu yang membusuk, tanah lembap di hutan, lapisan serasah daun dan ekosistem gua. Di lingkungan tersebut kecoak menjalankan peran penting sebagai pengurai alami.

Mereka membantu memecah material organik seperti daun mati, kayu lapuk, dan sisa organisme lain sehingga nutrisi dapat kembali ke tanah. Tanpa proses ini, siklus nutrisi di alam akan berjalan jauh lebih lambat.

Peringatan Ilmuwan: Kecoak Punah, Dunia Terancam

Penjelasan mengenai pentingnya kecoak bagi ekosistem pernah disampaikan oleh Srini Kambhampati, profesor biologi dari University of Texas at Tyler di Amerika Serikat.

Kambhampati dikenal sebagai peneliti yang mempelajari genetika serta evolusi kecoak.

Pendapatnya mengenai dampak kepunahan kecoak dikutip dalam laporan sains yang dipublikasikan oleh Live Science pada tahun 2018 saat membahas pertanyaan hipotetis: apa yang akan terjadi jika kecoak punah dari Bumi.

Dalam laporan tersebut, ia menjelaskan bahwa sebagian besar kecoak hidup di hutan tropis dan berperan sebagai pengurai bahan organik.

“Kepunahan kecoak akan berdampak besar pada kesehatan hutan,” ujar Kambhampati.

Peran Kecoak dalam Siklus Nitrogen

Sebagian besar kecoak memakan bahan organik yang membusuk.

Mereka mengonsumsi daun mati, kayu lapuk, hingga sisa organisme lain yang kaya nitrogen.

Melalui proses pencernaan, unsur nitrogen tersebut dilepaskan kembali ke tanah melalui kotorannya.

Proses ini merupakan bagian penting dari Nitrogen Cycle yang menjaga kesuburan tanah dan membantu tanaman tumbuh.

Tanpa pengurai seperti kecoak, daur ulang nutrisi alami di alam bisa terganggu.

Kecoak Sudah Hidup di Bumi Selama Ratusan Juta Tahun

Kecoak juga termasuk salah satu serangga paling tua di planet ini. Fosil kecoak menunjukkan bahwa kelompok serangga ini sudah ada sejak sekitar 300 juta tahun lalu, jauh sebelum kemunculan dinosaurus.

Kemampuan beradaptasi yang tinggi membuat kecoak mampu bertahan menghadapi berbagai perubahan lingkungan sepanjang sejarah Bumi.

Karena itu, para ilmuwan sering menyebut kecoak sebagai salah satu makhluk paling tangguh di planet ini.

Jika Kecoak Hilang, Rantai Makanan Bisa Terganggu

Selain berperan sebagai pengurai, kecoak juga menjadi sumber makanan bagi banyak hewan. Di alam liar, serangga ini dimangsa oleh burung, reptil, amfibi dan mamalia kecil

Jika kecoak menghilang, predator yang selama ini bergantung pada mereka harus mencari sumber makanan lain. Perubahan ini berpotensi memicu gangguan pada rantai makanan di ekosistem.

Tetap Hama di Rumah, Tapi Jangan Dipukul Sembarangan

Meski memiliki peran penting di alam liar, beberapa spesies kecoak tetap menjadi masalah di lingkungan manusia. Serangga ini dapat membawa bakteri berbahaya seperti Salmonella dan Escherichia coli Kedua bakteri tersebut dapat menyebabkan keracunan makanan hingga penyakit tifus.

Para ahli bahkan menyarankan tidak memukul kecoak hingga hancur, karena dapat menyebarkan bakteri ke permukaan di sekitarnya.

Cara paling efektif untuk mencegah kecoak adalah menjaga kebersihan rumah dan menutup celah yang memungkinkan serangga ini masuk.

Kecoak mungkin tidak pernah menjadi serangga favorit manusia. Namun di alam liar, makhluk kecil ini justru membantu menjaga keseimbangan ekosistem—mulai dari mengurai bahan organik hingga menjaga rantai makanan tetap berjalan.

Dengan kata lain, meskipun manusia ingin rumah bebas kecoak, Bumi ternyata masih sangat membutuhkan keberadaan mereka.

 

SUMBER DATA: NATIONALGEOGRAPHIC.CO.ID

Related posts