Surabaya, Headlinejatim.com – Di sejumlah desa di Jawa Timur, belalang kini bukan sekadar hama sawah. Serangga ini telah bertransformasi menjadi lauk pauk, sumber penghasilan, hingga identitas musiman bagi warga. Namun, di balik kerenyahannya, tersimpan pelajaran penting tentang pengetahuan, keamanan pangan, dan tanggung jawab bersama.
Pagi yang Beraroma Minyak Panas di Wuluhan
Musim hujan selalu membawa dua kabar bagi petani di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember: tanaman padi yang tumbuh subur dan kedatangan gerombolan belalang.
Bagi sebagian petani, belalang adalah ancaman. Namun bagi warga lain, terutama pelaku usaha rumahan, kehadiran serangga ini adalah berkah. Di dapur sederhana rumahnya, Sri Lestari, pelaku UMKM yang telah lebih dari satu dekade mengolah belalang goreng, memulai aktivitas sejak subuh.
Belalang yang ditangkap dari area persawahan dibersihkan, direbus, lalu digoreng hingga kering. Produk buatannya dijual di pasar desa dan dititipkan di warung-warung sekitar. Saat musim puncak, angka penjualannya bisa melonjak tajam. Fenomena serupa juga jamak ditemui di Situbondo dan Mojokerto, di mana belalang goreng menjadi komoditas musiman yang diminati.
Namun, dari dapur-dapur inilah muncul pertanyaan besar: apakah semua belalang aman untuk dikonsumsi?
Tradisi yang Mengakar dan Literasi Pengetahuan
Secara budaya, konsumsi belalang atau praktik entomofagi (konsumsi serangga sebagai pangan) bukanlah hal baru. Belalang termasuk jenis serangga yang paling umum dikonsumsi di berbagai negara Asia.
Menurut Prof. Purnama Hidayat, Pakar Entomologi dari IPB University, serangga memiliki potensi besar sebagai sumber protein alternatif.
“Serangga, termasuk belalang, mengandung protein tinggi dan memiliki efisiensi produksi yang baik. Tetapi aspek keamanan tetap menjadi faktor utama sebelum dikonsumsi secara luas,” ujarnya dalam keterangan akademik terkait pangan alternatif.
Pernyataan tersebut krusial karena di lapangan, masyarakat sering membedakan belalang hanya berdasarkan ukuran atau ketersediaannya, bukan dari spesies biologinya. Padahal secara ilmiah, setiap jenis belalang memiliki karakter yang berbeda.
Identifikasi Spesies: Mana yang Aman?
Di Pulau Jawa, terdapat dua jenis belalang yang paling sering dan aman dikonsumsi:
- Valanga nigricornis (Belalang kayu/hijau)
- Oxya (Belalang padi)
Kedua jenis ini memiliki warna hijau atau cokelat alami dan tidak memiliki mekanisme pertahanan kimia yang agresif. Namun, masyarakat perlu waspada terhadap jenis Aularches miliaris.

Spesies yang dikenal sebagai “belalang setan” ini memiliki warna mencolok—kombinasi merah, kuning, biru, dan hitam. Dalam biologi, warna ini disebut sinyal aposematik, yakni tanda peringatan bagi predator. Belalang ini mampu mengeluarkan cairan berbusa sebagai mekanisme pertahanan diri.
Berdasarkan laporan media nasional dan lokal terkait kejadian di Bojonegoro pada tahun 2024, spesies ini diduga berhubungan dengan kasus keracunan fatal setelah dikonsumsi. Peristiwa tersebut menjadi titik balik kesadaran bagi para sentra belalang goreng di Jawa Timur.
Diskursus Kesehatan dan Risiko Pestisida
Isu ini turut mendapat perhatian dari ranah kesehatan publik. Ari Fahrial Syam, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia, menegaskan bahwa sumber protein alternatif wajib memenuhi standar keamanan.
“Konsumsi pangan apa pun, termasuk serangga, harus memperhatikan potensi alergi, toksisitas, dan kontaminasi. Higienitas dan identifikasi bahan menjadi kunci,” jelasnya.
Selain faktor spesies, residu pestisida menjadi tantangan yang lebih kompleks. Belalang yang hidup di lahan pertanian intensif berpotensi membawa paparan bahan kimia. Hal ini membuat lokasi asal tangkapan menjadi sama pentingnya dengan identifikasi jenis serangga itu sendiri.
Kini, sentra belalang goreng di Jember dan Situbondo mulai berbenah. Sejumlah pelaku usaha hanya menerima pasokan dari wilayah tertentu yang dianggap aman dan menerapkan proses perebusan sebelum penggorengan guna meminimalkan risiko mikroba.
Menyeimbangkan Ekonomi dan Standar Keamanan
Belalang goreng bukan sekadar urusan perut, melainkan penopang ekonomi keluarga. Kepala Badan Gizi Nasional, Prof. Dadan Hindayana, menyebutkan bahwa potensi protein alternatif harus disertai regulasi dan edukasi.
“Potensi serangga sebagai sumber gizi ada, namun keamanan dan standar pengolahannya harus jelas agar tidak menimbulkan risiko kesehatan,” ungkapnya.
Pernyataan ini menjadi refleksi bahwa tradisi harus beradaptasi dengan ilmu pengetahuan. Di beberapa pasar desa di Jawa Timur, pedagang kini lebih selektif dalam memilih stok berdasarkan warna, bentuk tubuh, hingga asal tangkapan.
Kini, belalang tetap digoreng hingga kering dan disajikan hangat. Namun, di balik bunyi renyahnya, ada pengetahuan baru yang menyertai. Belalang goreng adalah titik temu antara tradisi, ekonomi rakyat, dan literasi sains. Jika dikelola dengan benar, ia adalah solusi pangan; jika diabaikan keamanannya, ia bisa menjadi ancaman kesehatan.






