“Sehari Menggunakan Bahasa Jawa?”
Mungkin kalimat seperti itu sempat terlintas dalam pikiran beberapa siswa ketika mengetahui akan ada kegiatan pembelajaran dan pembiasaan menggunakan bahasa Jawa di sekolah. Bagi sebagian anak, menggunakan bahasa Jawa bukanlah sesuatu yang mudah. Terlebih ketika mereka lebih terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari.
Kondisi tersebut menjadi pengalaman menarik yang saya temui ketika mengikuti program Asistensi Mengajar di SD Negeri Suko 2. Sekitar tiga minggu setelah pelaksanaan Asistensi Mengajar dimulai, sekolah menghadirkan sebuah program baru yang diberi nama Sejawa (Sehari Basa Jawa).
Program tersebut bukan sekadar kegiatan menggunakan bahasa Jawa selama satu hari. Di dalamnya terdapat upaya untuk mengenalkan kembali bahasa daerah kepada siswa melalui pembiasaan di lingkungan sekolah.
Sejawa Dimulai dengan Sebuah Pembukaan
Program Sejawa di SD Negeri Suko 2 diawali dengan upacara atau apel pembukaan program oleh Bapak Kepala Sekolah Suwandi, S. Pd. Pembukaan tersebut menjadi penanda dimulainya sebuah kebiasaan baru di lingkungan sekolah.
Bagi siswa, hadirnya program baru tentu membutuhkan proses penyesuaian. Bahasa Jawa yang sebelumnya mungkin lebih sering mereka dengar dalam lingkungan keluarga atau pembelajaran tertentu, kini mulai dibiasakan dalam aktivitas di sekolah.
Pada awal pelaksanaannya, beberapa siswa menunjukkan bahwa mereka merasa kesulitan. Bahkan, sempat muncul pemikiran dari siswa bahwa mereka tidak ingin mengikuti pembelajaran yang menggunakan bahasa Jawa.
Reaksi tersebut sebenarnya cukup wajar.
Sebuah kebiasaan baru memang tidak selalu langsung diterima dengan mudah. Terlebih bagi anak-anak yang belum terbiasa menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Mereka harus mengingat kosakata, memahami cara penggunaannya, sekaligus menyesuaikan bahasa yang digunakan ketika berbicara dengan orang lain.
Di sinilah Sejawa menjadi menarik. Program tersebut tidak hanya berbicara tentang hasil akhir, tetapi juga tentang proses membangun kebiasaan.
Ketika Basa Jawa Terasa Tidak Mudah
Bagi sebagian siswa, menggunakan bahasa Jawa ternyata menghadirkan tantangan tersendiri. Mereka tidak hanya harus mengetahui arti sebuah kata, tetapi juga perlu memahami bagaimana kata tersebut digunakan dalam situasi tertentu.
Hal ini berkaitan dengan adanya unggah-ungguh basa dalam bahasa Jawa. Cara berbicara kepada teman sebaya tentu dapat berbeda dengan cara berbicara kepada guru atau orang yang lebih tua.
Bagi anak-anak sekolah dasar, hal tersebut membutuhkan latihan dan pembiasaan.
Ketika pertama kali diperkenalkan, tidak mengherankan jika ada siswa yang merasa kesulitan atau bahkan kurang tertarik. Namun, kondisi tersebut justru menjadi pengingat bahwa pelestarian bahasa daerah tidak cukup hanya dengan meminta anak-anak untuk menggunakannya.
Mereka perlu diberikan kesempatan untuk mencoba.
Mereka juga perlu merasa bahwa belajar bahasa Jawa bukan sesuatu yang menakutkan ketika mereka melakukan kesalahan.
Dari Penolakan Menuju Proses Pembiasaan
Hal yang paling menarik dari program ini bukanlah ketika semua siswa langsung mampu menggunakan bahasa Jawa dengan lancar. Justru proses ketika siswa yang awalnya merasa kesulitan mulai berhadapan dengan kebiasaan baru itulah yang menjadi bagian penting dari Sejawa.
Program yang baru berjalan sekitar dua minggu tersebut masih berada pada tahap awal. Karena itu, proses adaptasi menjadi sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dari pelaksanaannya.
Sekolah perlu memberikan ruang bagi siswa untuk belajar secara bertahap. Guru memiliki peran penting dalam memberikan contoh penggunaan bahasa Jawa, sedangkan siswa mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkannya dalam interaksi sehari-hari.
Dalam kondisi seperti ini, kesalahan bukan sesuatu yang harus ditertawakan atau membuat siswa berhenti mencoba. Kesalahan justru dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Dengan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, bahasa Jawa diharapkan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang asing bagi siswa, tetapi perlahan menjadi bagian dari lingkungan sekolah mereka.
Sejawa Bukan Sekadar Berbicara Basa Jawa
Ada alasan mengapa program seperti Sejawa layak mendapatkan perhatian. Bahasa Jawa tidak hanya memiliki fungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga membawa nilai budaya di dalamnya.
Melalui unggah-ungguh basa, siswa dapat belajar mengenai kesopanan dan penghormatan terhadap orang lain. Mereka belajar bahwa cara menyampaikan sesuatu juga perlu disesuaikan dengan siapa yang menjadi lawan bicara.
Dengan demikian, Sejawa memiliki potensi untuk menjadi lebih dari sekadar program pembiasaan bahasa.
Ia dapat menjadi ruang untuk mempertemukan bahasa, budaya, dan pendidikan karakter.
Ketika seorang anak belajar menyapa gurunya dengan bahasa yang lebih santun, misalnya, proses yang terjadi bukan hanya pembelajaran kosakata. Ada nilai menghargai orang lain yang ikut dipelajari.
Mahasiswa Asistensi Mengajar Ikut Menjadi Bagian dari Proses
Bagi saya sebagai mahasiswa yang sedang mengikuti Asistensi Mengajar di SD Negeri Suko 2, hadirnya program Sejawa memberikan pengalaman yang berbeda.
Asistensi Mengajar selama ini mungkin mudah dipahami sebagai kegiatan mahasiswa membantu guru dalam proses pembelajaran. Namun, pengalaman di sekolah menunjukkan bahwa kehidupan pendidikan jauh lebih luas daripada kegiatan belajar di dalam kelas.
Mahasiswa juga belajar memahami kebiasaan dan budaya yang sedang dibangun oleh sekolah.
Dalam program Sejawa, mahasiswa tidak hanya menjadi pengamat. Berada di tengah lingkungan sekolah membuat mahasiswa ikut menjadi bagian dari suasana pembiasaan tersebut. Interaksi dengan siswa dan guru menjadi kesempatan untuk belajar beradaptasi sekaligus memberikan contoh dalam penggunaan bahasa.
Pengalaman ini memberikan pelajaran bahwa calon guru tidak hanya perlu memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga perlu memahami lingkungan sosial dan budaya tempat pendidikan berlangsung.
Tantangan yang Tidak Harus Dihindari
Munculnya rasa kesulitan bahkan keengganan dari sebagian siswa pada awal program tidak harus dilihat sebagai kegagalan. Justru hal tersebut dapat menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan Sejawa semakin sesuai dengan karakteristik siswa.
Pembiasaan bahasa membutuhkan waktu. Tidak semua anak memiliki latar belakang penggunaan bahasa Jawa yang sama. Karena itu, prosesnya perlu dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan dan tidak membuat siswa merasa terpaksa.
Guru dapat memberikan teladan melalui penggunaan bahasa Jawa dalam komunikasi sehari-hari. Siswa dapat diberikan kesempatan untuk mencoba tanpa takut salah. Mahasiswa yang berada di sekolah juga dapat ikut mendukung suasana tersebut.
Dengan cara demikian, Sejawa tidak hanya menjadi aturan penggunaan bahasa selama satu hari, tetapi dapat berkembang menjadi pengalaman belajar budaya yang menyenangkan.
Sekolah sebagai Ruang untuk Menghidupkan Kembali Basa Jawa
Apa yang dilakukan SD Negeri Suko 2 melalui Sejawa menunjukkan bahwa sekolah memiliki ruang yang besar dalam menjaga keberadaan bahasa daerah.
Pelestarian bahasa tidak harus selalu dimulai melalui kegiatan yang besar. Terkadang, langkah kecil berupa pembiasaan komunikasi dapat menjadi awal yang berarti.
Bagi siswa, Sejawa memberikan kesempatan untuk mengenal kembali bahasa Jawa melalui pengalaman langsung. Bagi guru, program ini menjadi salah satu ruang untuk menanamkan kebiasaan berbahasa sekaligus nilai kesantunan. Bagi sekolah, Sejawa dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan budaya lokal di tengah perubahan zaman.
Sementara bagi mahasiswa Asistensi Mengajar, program ini menjadi pengalaman nyata bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang materi pelajaran. Ada budaya, karakter, kebiasaan, dan nilai-nilai yang juga perlu diperhatikan dalam proses mendidik anak.
Sehari dalam Seminggu, untuk Kebiasaan yang Lebih Panjang
Sejawa baru berjalan sekitar dua minggu sejak diperkenalkan di SD Negeri Suko 2. Masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa program ini telah menghasilkan perubahan besar. Namun, justru pada tahap awal inilah sebuah kebiasaan sedang dibangun.
Perjalanan dari siswa yang merasa kesulitan dan sempat tidak ingin mengikuti pembelajaran dengan bahasa Jawa menuju proses mencoba dan beradaptasi merupakan perjalanan yang membutuhkan waktu.
Bahasa daerah tidak akan tetap hidup hanya karena diajarkan sebagai materi. Bahasa akan terus hidup ketika digunakan, didengar, dan diwariskan dalam kehidupan sehari-hari.
Mungkin Sejawa hanya memberikan ruang selama satu hari dalam seminggu. Namun, dari satu hari tersebut, sekolah sedang mencoba menanamkan sebuah kebiasaan: bahwa bahasa Jawa bukan sesuatu yang harus ditinggalkan karena perkembangan zaman.
Ia adalah bagian dari budaya yang masih layak untuk digunakan, dipelajari, dan diwariskan.
Sejawa mungkin baru dimulai dua minggu lalu, tetapi harapannya bukan sekadar membuat siswa mampu berbahasa Jawa pada satu hari tertentu. Lebih dari itu, Sejawa diharapkan dapat menjadi langkah kecil untuk membuat basa Jawa tetap hidup di lingkungan sekolah dan dekat dengan generasi muda.






