SIDOARJO, HeadlineJatim.com– Puluhan warga dari kawasan Sepanjang hingga Wonocolo, Sidoarjo, memadati area makam di kawan pasar Sepanjang Taman dalam kekhusyukan acara Dzikir Kubro, Kamis malam (30/4/2026). Kegiatan ini digelar sebagai respons atas tindakan tidak bertanggung jawab berupa perusakan makam yang dihormati warga sebagai ulama Nusantara, Mbah Dirjo Joyo Ulomo, beberapa waktu lalu.
Acara Dzikir Kubro tersebut dipimpin langsung oleh Choirul Ambiya’, atau yang akrab disapa Gus Ambiya’. Sebagai tokoh muda yang mengawal gerakan ini, Gus Ambiya’ menegaskan bahwa kehadiran warga malam ini adalah murni panggilan jiwa untuk menjaga marwah leluhur tanpa ada campur tangan pihak luar.
Sebelum prosesi doa dimulai, warga terlebih dahulu melaksanakan penggantian batu nisan baru di makam Mbah Dirjo Joyo Ulomo. Hal ini dilakukan karena nisan sebelumnya telah dirobohkan dan dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, yang memicu keprihatinan mendalam bagi masyarakat pendukung kelestarian sejarah ulama.
“Dzikir Kubro ini adalah awal langkah kita untuk meneruskan estafet sejarah para ulama Nusantara. Kita harus menghormati sesepuh-sesepuh yang ada di Sepanjang, khususnya di Wonocolo ini,” ujar Gus Ambiya’ saat diwawancarai di lokasi acara, Kamis malam.
Gus Ambiya’ juga mengungkapkan jati diri Mbah Dirjo Joyo Ulomo sebagai sosok ulama yang sangat teguh memegang tradisi spiritual. Beliau dikenal sebagai pengamal setia Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, sehingga momen Dzikir Kubro ini juga sekaligus memperingati Haul Besar Sayyidul Quthub tersebut.
Terkait insiden perusakan, Gus Ambiya’ menegaskan bahwa masyarakat tidak akan tinggal diam. Menurutnya, merusak makam seorang ulama adalah tindakan yang melukai sisi psikologis dan spiritual umat.
Langkah hukum kini dipasrahkan kepada warga yang cinta terhadap ulama. Gus Ambiya’ menyatakan bahwa laporan akan segera dilayangkan kepada pihak berwajib agar pelaku perusakan, atau yang ia sebut sebagai fail, segera ditindak secara tegas guna memberikan keadilan bagi masyarakat.
Warga Wonocolo dan Sepanjang berharap pemerintah serta aparat keamanan memberikan atensi khusus pada kasus ini. Penegakan hukum dinilai krusial agar situs-situs bersejarah yang memiliki nilai religi tinggi tidak lagi menjadi sasaran vandalisme di masa depan.
Selain fokus pada jalur hukum, Gus Ambiya’ mengajak warga untuk terus bersatu dalam pembangunan kembali makam tersebut. Rencananya, area makam akan direnovasi agar lebih representatif bagi para peziarah yang ingin menyambung sanad doa kepada sang ulama.
Pendanaan untuk pembangunan kembali makam ini sepenuhnya mengandalkan swadaya masyarakat. Warga bergerak secara militan dari pintu ke pintu untuk mengumpulkan donasi, mulai dari pecahan lima ribu hingga sepuluh ribu rupiah, demi membuktikan kecintaan mereka pada ulama Nusantara.
“Anggaran itu swadaya dari masyarakat, bukan bantuan pribadi. Kita berjuang door-to-door. Kalau kita istikamah, insyaallah pembangunan ini akan selesai demi masa depan anak cucu kita sebagai pencinta ulama,” pungkas Gus Ambiya’.
Acara yang berakhir menjelang tengah malam ini meninggalkan pesan kuat tentang pentingnya menjaga Ukhuwah Islamiyah. Masyarakat Wonocolo berkomitmen untuk terus mengawal situs sejarah ini sebagai simbol harga diri dan identitas keagamaan mereka di Sidoarjo.






