Kurangi Human Error, Doktor ITS Kembangkan Sistem Deteksi Cacat Produk Berbasis AI untuk Industri

Dr Yustina Suhandini Tjahjaningsih ST MT (dua dari kiri) dalam Forum Group Discussion (FGD) bersama pihak PT Kutai Timber Indonesia (PT KTI) sebagai lokasi uji coba implementasi sistem yang dikembangkan. (Istimewa)

SURABAYA, HeadlineJatim.com – Problem klasik industri manufaktur yang masih bergantung pada inspeksi manual kini mendapat solusi berbasis teknologi.

Read More

Lulusan program doktor Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Yustina Suhandini Tjahjaningsih ST MT, mengembangkan Surface Defect Detection (SDD) berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk memperkuat sistem pengendalian kualitas produksi.

Inovasi ini lahir dari kegelisahan atas praktik inspeksi manual yang masih dominan di industri. Menurut perempuan yang akrab disapa Dini tersebut, metode konvensional berpotensi menimbulkan keterlambatan dalam mendeteksi cacat produk, sekaligus menghadirkan inkonsistensi hasil pemeriksaan.

“Sistem ini memungkinkan identifikasi cacat produk secara lebih dini dan konsisten,” ujarnya.

Melalui penelitian disertasinya, Dini mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan dengan peran manusia dalam sistem pengendalian kualitas. Pendekatan ini dirancang untuk menghadirkan proses inspeksi yang lebih cepat, akurat, dan adaptif terhadap dinamika produksi.

Sebagai luaran utama, ia mengembangkan aplikasi SDD yang mampu mendeteksi cacat produk secara otomatis dan real-time. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi proses inspeksi, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pengamatan manual. Selain itu, sistem SDD dirancang untuk memberikan dukungan pengambilan keputusan bagi operator dalam menentukan tindakan perbaikan yang tepat.

Tak berhenti pada tahap deteksi, penelitian ini juga mengadopsi kerangka Zero Defect Manufacturing (ZDM). Dalam pendekatan ini terdapat empat strategi utama yang saling terintegrasi, yakni detection, prediction, repair, dan prevention. Keempatnya dirancang untuk memastikan kualitas produk sejak tahap awal proses produksi hingga evaluasi berkelanjutan.

“Pendekatan ini tidak hanya menemukan cacat produk, tetapi juga memprediksi dan mencegah kemunculannya di masa mendatang,” imbuhnya.

Selain integrasi teknologi, Dini juga menerapkan pendekatan human-centric yang menempatkan manusia sebagai bagian integral dalam sistem. Peran manusia tetap krusial, terutama dalam proses interpretasi hasil analisis serta pengambilan keputusan strategis di lapangan.

“Keterlibatan manusia memastikan teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan,” paparnya.

Melalui inovasi tersebut, SDD dinilai berpotensi diimplementasikan pada berbagai sektor industri manufaktur yang menuntut standar kualitas tinggi. Penerapan sistem ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi, menekan biaya akibat produk cacat, serta memperkuat daya saing industri nasional.

Pendekatan yang diusung juga selaras dengan transformasi menuju Industri 5.0, yang menekankan sinergi antara manusia dan teknologi dalam sistem produksi modern.

Lebih jauh, inovasi ini menjadi bukti komitmen ITS dalam mendorong pengembangan solusi berbasis riset dan teknologi. Hal tersebut juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals, khususnya poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta poin ke-12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Perempuan kelahiran Surabaya itu pun berharap inovasi yang dikembangkannya tidak berhenti di ranah akademik, melainkan dapat diimplementasikan secara luas di dunia industri guna menciptakan sistem produksi yang lebih andal dan berkelanjutan.

“Harapannya, inovasi ini dapat menjadi solusi strategis dalam meningkatkan kualitas dan daya saing industri manufaktur,” tandasnya optimistis.

Related posts