Tangkapan layar video viral.
Lumajang, HeadlineJatim.com – Pagi pertama masuk sekolah usai libur awal Ramadan berubah menjadi momen mencekam bagi Vita (10), siswi kelas 4 SD Negeri Jugosari 03. Bersama ayahnya, Anton, ia terseret banjir lahar saat menyeberangi Sungai Regoyo, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Senin (23/2/2026).
Peristiwa itu bukan sekadar kecelakaan biasa. Ia menjadi potret betapa rentannya jalur pendidikan di kawasan lereng Gunung Semeru ketika infrastruktur belum sepenuhnya pulih.
Jalur Sekolah yang Berubah Jadi Zona Risiko
Menurut keterangan warga setempat, Abdul Rohim, insiden terjadi saat Anton mengantar putrinya ke sekolah menggunakan sepeda motor dan memilih menyeberangi Sungai Regoyo—jalur yang kini dipakai warga setelah jembatan limpas desa tertimbun material lahar.
“Sudah apesnya tidak berhenti langsung menyeberang, anaknya sempat terseret sekitar lima meter lebih,” ujar Rohim.
Derasnya arus banjir lahar yang membawa pasir, batu, dan material vulkanik membuat motor kehilangan keseimbangan. Anton dan Vita ikut terseret sebelum akhirnya warga yang melihat kejadian itu bergegas menolong. Vita berhasil diselamatkan dalam kondisi selamat, namun basah kuyup bersama seluruh perlengkapan sekolahnya.
Akibatnya, ia gagal mengikuti hari pertama sekolah. Seragam dan buku-bukunya terendam air bercampur lumpur. Sementara motor sang ayah mogok karena kemasukan air dan harus dibawa ke bengkel.
Mengapa Sungai Regoyo Berbahaya?
Sungai Regoyo merupakan salah satu alur sungai yang berhulu langsung di kawasan puncak Gunung Semeru. Saat intensitas hujan tinggi di sekitar puncak, material vulkanik sisa erupsi akan terbawa air dan berubah menjadi banjir lahar hujan.
Secara geologis, Semeru memiliki banyak daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi jalur lahar, di antaranya:
- DAS Besuk Kobokan
- DAS Besuk Bang
- DAS Besuk Kembar
- DAS Besuk Sat
Termasuk alur sungai di wilayah Candipuro seperti Regoyo
Banjir lahar berbeda dengan banjir biasa. Arusnya lebih padat, membawa sedimen vulkanik dalam volume besar, dan dapat datang tiba-tiba tanpa peringatan visual yang jelas di hilir. Ketika hujan deras turun di kawasan puncak, wilayah hilir bisa terdampak dalam hitungan menit hingga jam.
Status Gunung dan Imbauan Resmi
Berdasarkan data pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas Gunung Semeru dalam beberapa tahun terakhir berada pada Level III (Siaga), dengan rekomendasi pembatasan aktivitas masyarakat di sektor tenggara dan sepanjang alur sungai berhulu di puncak.
Warga diimbau untuk:
- Tidak beraktivitas di sepanjang aliran sungai berhulu Semeru saat atau setelah hujan lebat.
- Menghindari penyeberangan sungai dengan kendaraan ketika debit meningkat.
- Mengikuti informasi resmi dari BPBD dan PVMBG terkait potensi lahar hujan.
Kawasan Candipuro termasuk salah satu wilayah yang kerap terdampak banjir lahar, terutama ketika intensitas hujan tinggi terjadi di puncak gunung.
Infrastruktur Darurat dan Risiko Harian
Insiden yang menimpa Vita memperlihatkan problem struktural: akses pendidikan di zona rawan bencana masih bergantung pada jalur darurat.
Sejak jembatan limpas di Desa Jugosari tertimbun material lahar, Sungai Regoyo menjadi titik penyeberangan alternatif. Namun jalur tersebut bersifat sangat fluktuatif—aman di satu waktu, berbahaya di waktu lain.
Tanpa sistem peringatan dini berbasis komunitas atau penutupan jalur otomatis saat debit meningkat, warga kerap mengambil risiko demi aktivitas rutin, termasuk mengantar anak ke sekolah.
Antara Ketahanan Warga dan Urgensi Mitigasi
Vita selamat. Itu kabar baiknya. Namun kejadian ini mempertegas bahwa kawasan lereng Semeru masih hidup dalam bayang-bayang lahar hujan.
Setiap musim hujan, sungai-sungai yang berhulu di puncak Semeru bukan sekadar aliran air, melainkan jalur potensial material vulkanik yang bisa berubah menjadi ancaman dalam sekejap.
Bagi warga Jugosari dan Candipuro, menyeberangi sungai mungkin rutinitas. Tetapi bagi para ahli kebencanaan, itu adalah aktivitas di zona risiko tinggi—terutama ketika hujan turun di kawasan atas.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa mitigasi bukan hanya soal evakuasi saat erupsi, melainkan juga tentang memastikan jalur sekolah, ekonomi, dan aktivitas harian warga aman dari ancaman lahar yang tak terlihat dari kejauhan.






