Pamekasan, headlinejatim.com — Sejak awal Februari 2026, sebuah video yang merekam ratusan warga ramairamai turun ke parit kecil di kawasan Parteker, Pamekasan untuk mencari potongan emas menjadi viral di media sosial. Warga tampak mengais tanah dan lumpur parit setelah kabar penemuan logam berkilau menyebar cepat. Fenomena ini segera menjadi perbincangan publik, meski pemerintah setempat menekankan bahwa parit tidak mengandung emas secara geologis, melainkan potongan perhiasan terbawa aliran air.
Video viral menunjukkan kerumunan warga yang datang ke parit depan rumah warga di Parteker. Awalnya beberapa warga mencari batu yang diduga giok, namun kabar tentang potongan logam berkilau menyebar cepat. Akibatnya, ratusan orang berdatangan mencoba peruntungan. Aktivitas ini terekam oleh akun Instagram lokal seperti @suroboyo.media, @asiifaa00, dan @madura25jam.
Lurah Parteker, Zainul, menegaskan memang ada warga yang mencari emas di saluran air. “Emas yang dimaksud potongan emas anting, cincin, dan lainlain dari limbah keluarga yang ikut terseret aliran air ke selokan,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, Guru Besar Hukum Lingkungan dari Universitas Airlangga, menekankan bahwa fenomena di Pamekasan sebaiknya dianalisis dari perspektif ekonomi dan sosial sebelum hukum. Beliau menyoroti kondisi ekonomi masyarakat Pamekasan yang masih menantang dan potensi positif dari aktivitas ini.
“Fenomena yang terjadi di Pamekasan saat ini harus dilihat dari perspektif ekonomi dulu. Mengingat Pamekasan termasuk wilayah dengan tantangan kemiskinan yang serius, munculnya fenomena area yang memberikan harapan baru, di mana warga merasakan dampak ekonomi dari aktivitas pencarian potongan logam, harus dikluster dari sisi pemanfaatan.
Artinya, teksnya harus ditelaah secara komprehensif terlebih dulu. Jangan terlalu cepat meniscayakan ruang hukum sebagai kesalahan; sebaliknya, Pemkab Pamekasan perlu berlaku sebagai fasilitator bagi warganya. Ini memberikan ruang bagi terserapnya tenaga kerja dan efek positif secara ekonomi jika memang ada warga yang mendapatkan penghasilan dari aktivitas tersebut.
Prof. Suparto Wijoyo menambahkan, “Dilihat dari sudut pandang Undang-Undang Cipta Kerja, ini menarik karena memberikan peluang bagi klusterisasi ekonomi berbasis masyarakat. Pemkab Pamekasan dapat melakukan kajian terhadap kandungan emas di wilayah tersebut”.
Jika dari kajian itu benar wilayah Parteker memiliki kandungan logam yang layak secara ilmiah, maka pemerintah daerah perlu melakukan pembinaan terhadap warga dan pemangku desa, mendampingi mereka agar aktivitas itu menjadi usaha produktif yang legal dan tertata di bawah pengawasan pemerintah.
Sebagai contoh, pembinaan itu bisa berupa pembentukan badan koperasi atau unit usaha yang mampu menyerap tenaga kerja dan menciptakan wisata desa baru yang sah, misalnya ‘wisata emas desa’ di Pamekasan yang bukan hanya menawarkan kegiatan mencari logam, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal secara legal dan berkelanjutan.”
Fenomena viral di Pamekasan menekankan pentingnya analisis ekonomi dan sosial sebelum hukum, menurut Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo. Aktivitas pendulangan emas yang sederhana ini memberi harapan ekonomi bagi warga, dengan potensi dikembangkan menjadi wisata desa emas yang legal dan terstruktur, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Sejarah Mendulang Emas: Dunia → Indonesia → Jawa Timur
Dunia
Sejak peradaban kuno, manusia mencari emas dari alluvial sungai dan endapan mineral. Aktivitas ini berkembang menjadi demam emas besar di berbagai era:
- Mesir Kuno (3000–1000 SM): Panning di sungai untuk perhiasan dan simbol kekuasaan.
- Yunani & Romawi Kuno: Teknik hushing untuk memindahkan sedimen emas.
- Amerika Latin (1500-an – 1800-an): Penambangan skala besar oleh penjajah Spanyol.
- California Gold Rush (1848–1855) & Australia Gold Rush (1851–1900): Migrasi massal pencari emas, pembentukan kota baru, dan pertumbuhan ekonomi wilayah.
Indonesia
- Sumatera: Sungai Batang Hari di Minangkabau, tradisi mendulang emas lokal.
- Kalimantan: Kalimantan Selatan & Tengah, teknik panning tradisional Kesultanan Banjar.
- Sulawesi & Papua: Tradisi mendulang skala lokal untuk barter dan perhiasan.
- Jawa Timur: Kabupaten Pamekasan, Lumajang, Blitar, mendulang emas di sungai/parit untuk kebutuhan rumah tangga.
Jawa Timur
- Tumpang Pitu / Tujuh Bukit – Banyuwangi: Cadangan sekitar 8,5 juta ounce, operasi skala besar PT Merdeka Copper Gold.
- Pendulangan Tradisional: Aktivitas skala kecil di sungai/parit, dengan produksi terbatas, umumnya untuk ekonomi lokal.
- Fenomena Pamekasan 2026: Warga mendulang potongan logam di parit viral; sebagian besar adalah perhiasan yang terbawa aliran air. Dampak ekonomi positif, potensi usaha komunitas, dan risiko lingkungan minimal.
Sejarah, menorehkan semua aktivitas penambangan (termasuk pendulangan emas), selalu berampak pada lingkungan dan sosial, yakni:
- Positif: Pendapatan tambahan warga, penguatan ekonomi lokal, potensi wisata desa.
- Negatif: Erosi sedimen, gangguan flora/fauna, risiko kontaminasi bahan kimia (tidak terjadi di Pamekasan).
Antisipasi: Edukasi teknik aman, area khusus pendulangan legal, pendampingan pemerintah.
Fenomena viral pendulangan emas di Pamekasan menunjukkan bagaimana tradisi mendulang skala kecil dapat memberi dampak sosial-ekonomi nyata, jika dikelola dengan pendekatan ekonomi, sosial, dan hukum seimbang. Dengan pembinaan yang tepat, aktivitas ini dapat menjadi wisata desa emas legal yang menyerap tenaga kerja, memperkuat ekonomi lokal, dan tetap aman bagi lingkungan.
Sumber Data & Berita
“Heboh Warga Pamekasan Berburu Potongan Emas di Parit Depan Rumah Orang,” detikJatim (1 Feb 2026). (detik.com)
“Lurah Sebut Parit di Depan Rumah Warga Pamekasan Tak Mengandung Emas,” detikJatim (1 Feb 2026). (detik.com)
Profil akademik Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum., Fakultas Hukum Universitas Airlangga (scholar.unair.ac.id)
Sejarah mendulang emas di Indonesia dan Jawa Timur, DetikJatim (detik.com)
Data lokasi tambang emas besar di Indonesia: Grasberg (Papua), Batu Hijau (NTB), Martabe (Sumut), Tumpang Pitu (Jatim). (rbtv.disway.id)
Data penambangan tradisional ASGM di Indonesia, skala kecil (pmc.ncbi.nlm.nih.gov)






