“Bidan di Perbatasan, Harapan di Tengah Ketakutan”

Sebuah Perenungan di Hari Bidan Internasional, 5 Mei 2025

headlinejatim.com —Tidak ada sirene. Tidak ada rumah sakit. Tidak ada pilihan selain keberanian. Maria Sabrina, seorang bidan muda di pedalaman Papua, berdiri sendiri dalam sebuah malam yang mencekam. Saat itu, seorang ibu muda hendak melahirkan. Tapi di luar rumah, senjata meletus. Kelompok bersenjata sedang bergerak. Ia tahu, satu-satunya hal yang lebih cepat dari peluru adalah waktu yang tersisa bagi seorang ibu untuk hidup.

Read More

“Saya takut,” kata Maria. “Tapi saya tidak bisa pergi. Karena nyawa anak itu di tangan saya.”

Dengan tangan gemetar, ia bantu persalinan itu hanya ditemani pelita dan doa. Dan ketika tangisan bayi akhirnya pecah di kegelapan malam, Maria hanya berkata pelan, “Setidaknya, satu kehidupan selamat malam ini.”

Kisah lengkapnya di enbeindonesia.com

Di Merauke, Papua, dua bidan lainnya, Suria Ningsih dan Noni Tefa menolong persalinan seorang ibu di tengah hutan belantara, pukul 3 dini hari.

Mereka hanya ditemani cahaya senter, dikelilingi pohon-pohon raksasa dan desingan ketakutan. Bayi itu lahir sehat. Ibunya menangis haru. Tapi setelahnya, mereka harus lari. Ada kelompok separatis yang sudah mendekat.

Kisah lengkap di inews Papua

Lalu di Maluku Utara, di sebuah pulau bernama Mayau, dua bidan tak dikenal namanya, berlayar melawan angin selatan demi membawa ibu hamil ke rumah sakit rujukan di Ternate.

Dengan kapal kayu, mereka menantang badai. Tanpa jaket pelampung. Tanpa gaji tambahan. Tanpa jaminan hidup. Yang mereka bawa hanyalah keyakinan: bahwa seorang ibu dan bayinya pantas untuk diselamatkan.

Kisah lengkap di kabarpulau.co.id

Bidan: Mereka yang Selalu Datang, Meski Tak Pernah Diminta

Hari ini, 5 Mei 2025, dunia memperingati Hari Bidan Internasional. Tema tahun ini dari International Confederation of Midwives (ICM) adalah:

“Midwives: Critical in Every Crisis” . Bidan: Kunci dalam Setiap Krisis.

Tema ini bukan sekadar slogan.

Ia adalah cermin dari kenyataan:

Bahwa ketika rumah sakit roboh, bidan tetap berdiri.

Ketika bencana datang, bidan tak pergi.

Ketika sistem lambat, bidan mendahului.

Sejarah dan Makna Hari Bidan Internasional

Hari Bidan Internasional pertama kali diperingati pada tahun 1991, diprakarsai oleh ICM. Tujuannya adalah untuk:

  • Menghormati jasa bidan dalam menyelamatkan ibu dan bayi.
  • Mengangkat kesadaran dunia tentang pentingnya akses layanan kebidanan.
  • Menyerukan keadilan dan dukungan sistemik untuk profesi bidan.

Data Global dan Nasional: Realita yang Harus Dijawab

Secara global:

Dunia kekurangan 1 juta bidan.

Kekosongan ini menyebabkan lebih dari 4 juta kematian ibu dan bayi setiap tahun yang seharusnya bisa dicegah.

Investasi pada layanan kebidanan dapat mencegah 64% kematian bayi baru lahir dan 67% kematian ibu.

Di Indonesia:

Terdapat sekitar 300.000 bidan, mayoritas tersebar di desa-desa.

Banyak yang bertugas di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) dengan fasilitas minim.

Angka Kematian Ibu (AKI) masih tinggi: 183 per 100.000 kelahiran hidup (2022).

Bidan sering menjadi satu-satunya tenaga kesehatan yang tersedia di pelosok.

Bidan Tak Butuh Sorotan, Mereka Butuh Perlindungan

Mereka tidak menuntut panggung. Tapi dunia harus menjamin:

  • Keselamatan kerja.
  • Pelatihan berkelanjutan.
  • Upah yang layak dan pengakuan profesional.
  • Kebijakan yang menjadikan bidan pusat dari sistem kesehatan ibu dan anak.

Dan Hari Ini, Mari Kita Katakan:

Untuk setiap bidan yang berjalan kaki berjam-jam demi satu nyawa…

Untuk setiap bidan yang berdiri di antara peluru dan persalinan…

Untuk setiap bidan yang tidak dikenal, tapi sangat dibutuhkan…

Kami melihatmu. Kami mengakui keberanianmu. Kami berutang padamu.

Selamat Hari Bidan Internasional.

Kau bukan sekadar profesi. Kau penjaga kehidupan itu sendiri.

Related posts