Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Prof. Dr. Dr. Erwin Astha Triyono.
SURABAYA, HeadlineJatim.com – Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Erwin Astha Triyono, menegaskan bahwa situasi campak di Jawa Timur pada awal 2026 berada dalam kondisi terkendali. Hal ini tercermin dari penurunan signifikan jumlah suspek serta nihilnya kasus kematian.
“Tren suspek campak tahun 2026 menurun dibandingkan tahun 2025. Hingga saat ini juga belum ada kasus yang terkonfirmasi dan tidak ada kematian,” tegasnya.
Data Dinkes Jatim mencatat, sepanjang Januari hingga Maret 2026 terdapat 1.161 suspek campak. Angka tersebut turun tajam dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 2.066 suspek, atau berkurang sekitar 44 persen.
Penurunan terjadi secara konsisten setiap bulan. Pada Januari 2026 tercatat 599 suspek, Februari 376, dan Maret turun menjadi 186 kasus. Sementara pada 2025, Januari mencapai 733 kasus, Februari 721, dan Maret 612 kasus.
Menurut Erwin, capaian ini menunjukkan bahwa langkah pencegahan yang dilakukan berjalan efektif, terutama melalui penguatan imunisasi campak-rubela serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Campak sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan menyebar melalui percikan ludah saat penderita batuk atau bersin. Gejala yang umum muncul meliputi demam tinggi di atas 38 derajat Celsius, ruam kulit, batuk, pilek, serta mata merah.
Dalam penanganannya, pasien diberikan vitamin A sebanyak dua dosis sesuai usia, disertai isolasi serta pengobatan simptomatis untuk meredakan gejala.
Meski kondisi saat ini terkendali, Erwin tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah. Upaya pencegahan harus terus diperkuat, mulai dari menjaga pola hidup sehat, mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, hingga memastikan imunisasi anak lengkap sesuai jadwal.
Ia juga mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada campak, agar dapat ditangani lebih cepat dan mencegah potensi penularan lebih luas.
“Pengendalian ini harus dijaga bersama. Kunci utamanya ada pada pencegahan dan respons cepat di masyarakat,” pungkasnya.






