SURABAYA, headlinejatim.com – Anggota MPR RI/DPD RI asal Jawa Timur, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, mengingatkan jika Pancasila merupakan kompas di tengah arus budaya global. Menurut LaNyalla, Pancasila sebagai ideologi bukan hanya sekadar teori belaka, tetapi merupakan pedoman hidup dalam prakrik berbangsa dan bernegara.
“Saat kalian merasa kehilangan arah di tengah arus budaya global, kembalilah kepada nilai-nilai Pancasila. Jagalah Indonesia dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika,” pesan LaNyalla saat melakukan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di hadapan ratusan siswa SMA X Muhammadiyah Surabaya, yang diselenggarakan di aula SMA X Muhammadiah Surabaya, Jumat (2/10/2026).
Ketua DPD RI ke-5 itu menegaskan tren dunia yang dilakukan negara-negara besar dan negara-negara yang serius membangun Sumber Daya Manusia (SDM), adalah melakukan optimalisasi potensi generasi mudanya melalui pendidikan yang disesuaikan untuk tujuan tersebut.
LaNyalla mengutip apa yang pernah disampaikan Ki Hajar Dewantara pada 31 Agustus 1928, di mana Beliau mengatakan: “Pengajaran harus bersifat kebangsaan. Kalau pengajaran bagi anak-anak tidak berdasarkan nasionalisme, anak-anak tak mungkin mempunyai rasa cinta bangsa dan makin lama terpisah dari bangsanya, kemudian barangkali akan menjadi lawan kita.”
“Artinya, memahami dan memiliki jati diri bangsa merupakan hal yang amat penting. Inilah yang sejak dulu dilakukan oleh Cina. Mereka membangun pendidikan dengan tetap menanamkan nilai-nilai mereka. Ini pula yang dilakukan Jepang dan Korea, sehingga mereka sekarang mengejar, bahkan dalam beberapa hal, mereka telah mengalahkan dunia Barat,” papar LaNyalla.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia? LaNyalla mengakui jika membangun pendidikan yang merata di Indonesia bukan perkara mudah. Indonesia merupakan negara kepulauan yang terpisah-pisah oleh laut dengan ribuan pulau. Sebagian berada di daerah tertinggal, terdepan dan terluar. Sebagian lagi wilayah kita, terutama di Indonesia Timur, masih memiliki banyak kendala geografis dan infrastruktur.
“Kita bukan Singapura yang kecil. Oleh karena itu, generasi muda kita jangan justru menjadi pencemooh negara sendiri. Kita wajib kritis. Tetapi kritis kita harus ditujukan kepada pelaksanaan program di lapangan. Kepada penyimpangan di lapangan. Kepada perilaku korup di lapangan. Bukan terhadap gagasan besarnya, yang kita yakini memiliki tujuan besar yang baik,” ujar LaNyalla.
LaNyalla menyontohkan soal program Koperasi Desa dan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk pelajar. Sebagai gagasan besar, LaNyalla menilai program tersebut bertujuan sangat strategis. “Koperasi Desa bertujuan agar desa menjadi kekuatan ekonomi. Sedangkan MBG bertujuan membangun ekosistem ekonomi lokal. Tetapi yang harus kita kritisi adalah konsep dan implementasi dari gagasan besar itu. Ada banyak kelemahan. Itu yang harus kita kritisi dan berikan saran serta masukan. Bukan mengkritisi gagasan besar dan tujuan besarnya,” ujarnya
Di era digital yang serba cepat ini, LaNyalla sadar belakangan ini, bangsa ini mudah sekali terpecah. Beda pilihan idola, beda pandangan di media sosial, atau sekadar beda tim pendukung saat tanding olahraga antar-sekolah saja bisa jadi bahan hujatan.
“Di sinilah Sila Ketiga Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika memanggil kita. Indonesia dibangun bukan oleh orang-orang yang seragam, tapi oleh pemuda dari berbagai suku, agama dan daerah yang memutuskan untuk bersatu. Semangat kalian di lapangan, di kelas, dan di organisasi haruslah semangat yang merangkul, bukan memukul. Semangat yang membangun kesatuan, bukan memelihara polarisasi,” demikian LaNyalla.
Dalam kesempatan itu, LaNyalla didampingi sejumlah tokoh, di antaranya Ketua Umum KONI Surabaya, Arderio Hukom.(*)






