Ilustrasi oleh tim grafis.
Jember, HeadlineJatim.com– Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Jember merilis hasil evaluasi Operasi Keselamatan Semeru 2026 yang berlangsung selama 14 hari, terhitung sejak 2 hingga 15 Februari 2026. Hasilnya, tercatat ribuan pengendara terjaring sistem pemantauan elektronik, dengan pelanggaran tidak menggunakan helm sebagai tren negatif yang paling menonjol.
KBO Satlantas Polres Jember, Ipda Firmansyah, menjelaskan bahwa selama operasi ini, pihak kepolisian memprioritaskan penindakan berbasis Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) untuk menciptakan sistem pengawasan yang objektif.
“Selama 14 hari pelaksanaan Operasi Keselamatan Semeru 2026, untuk ETLE statis tercapture sekitar 8.830 pelanggar. Dari jumlah itu, yang sudah tervalidasi sebanyak 1.920 pelanggaran dan yang sudah terkirim surat konfirmasi sebanyak 1.899,” ujar Ipda Firmansyah saat dikonfirmasi di kantornya, Jumat (20/2/2026).

Saat ini, Satlantas Polres Jember diperkuat oleh tiga perangkat ETLE utama, yakni satu unit ETLE statis yang terpasang permanen di titik strategis dan dua unit ETLE dinamis yang dioperasikan secara mobile oleh petugas.
Dari total 1.899 surat konfirmasi yang telah dilayangkan kepada pemilik kendaraan, sebanyak 269 pelanggaran telah resmi diterbitkan surat tilang.
“Dari 269 itu rata-rata pelanggar tidak menggunakan sabuk pengaman, tidak menggunakan helm, dan melawan arus,” jelas Firman.
Selain mengandalkan teknologi, petugas di lapangan tetap melakukan penindakan secara manual. Tercatat sebanyak 22 tindakan manual dilakukan terhadap pelanggaran kasat mata, mayoritas menyasar kendaraan tanpa Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) serta penggunaan knalpot brong yang mengganggu kenyamanan publik.
Firman menambahkan, pihaknya juga menggelar Operasi Gabungan (OPSGAM) lintas instansi pada tanggal 4 dan 11 Februari 2026 untuk memperkuat pengawasan.
Pada agenda OPSGAM perdana (4/2), petugas melayangkan 173 teguran dan mencatat 36 pelanggaran melalui ETLE Mobile yang didominasi pengendara tanpa pelindung kepala. Sedangkan pada agenda kedua (11/2), tercatat 116 teguran, tiga tilang manual, dan empat tilang melalui ETLE.
Budaya “Jarak Dekat” Jadi Tantangan
Tingginya angka pelanggaran helm di wilayah Jember menjadi atensi serius kepolisian. Berdasarkan data dan tren di media sosial, banyak masyarakat yang masih mengabaikan keselamatan dengan alasan jarak tempuh yang pendek atau terburu-buru.
Ipda Firmansyah mengakui bahwa mengubah pola pikir masyarakat terhadap keselamatan berkendara di dalam kota masih menjadi tantangan besar.
“Masih banyak masyarakat yang menganggap jarak dekat tidak perlu helm. Padahal risiko kecelakaan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Helm itu untuk keselamatan pengendara sendiri,” tegasnya.
Penerapan ETLE ini diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku berlalu lintas masyarakat Jember agar lebih disiplin tanpa perlu merasa diawasi secara fisik oleh petugas.
“Satlantas Polres Jember mengimbau masyarakat untuk selalu menggunakan helm standar, mengenakan sabuk pengaman, tidak melawan arus, serta melengkapi kelengkapan kendaraan demi menekan angka pelanggaran dan potensi kecelakaan di wilayah Kabupaten Jember,” pungkasnya.






