Krokot si ‘Emas Hijau’ Dianggap Gulma di Indonesia, Jadi Superfood Mewah di Eropa

Ilustrasi oleh tim grafis HeadlineJatim.com

SURABAYA, HeadlineJatim.com – Selama ini, tanaman krokot (Portulaca oleracea) mungkin hanya dianggap sebagai pengganggu di sela-sela ubin atau pematang sawah. Namun, siapa sangka jika tanaman yang kerap diinjak sebelah mata ini justru tengah “naik kelas” di panggung internasional.

Read More

​Di pasar Uni Eropa, krokot kini bertransformasi menjadi komoditas pangan fungsional dengan nilai ekonomi tinggi. Fenomena ini dipicu oleh tren gaya hidup global yang kian selektif mencari superfood dengan profil nutrisi yang padat dan alami.

​Daya tarik utama krokot di mata warga Eropa terletak pada rahasia gizi yang dikandungnya. Berdasarkan laporan kesehatan dari Medical News Today, krokot bukan sekadar tanaman hijau biasa; ia merupakan salah satu sumber nabati terkaya akan asam lemak Omega-3.

​Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Healthline, para pakar nutrisi mengungkapkan kekagumannya terhadap tanaman ini. “Krokot mengandung asam alfa-linolenat (ALA), salah satu jenis Omega-3 yang sangat krusial bagi kesehatan jantung dan fungsi otak. Sangat jarang ditemukan sayuran dengan konsentrasi ALA setinggi ini,” tulis mereka.

Diakui Pakar, Dibidik Eksportir

​Potensi besar ini mulai mendapat perhatian serius dari pemerintah Indonesia. Mengutip laman resmi Kementerian Pertanian (pertanian.go.id), Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil, menegaskan bahwa krokot adalah mutiara terpendam dalam kategori komoditas non-tradisional.

​”Selama ini kita anggap rumput, tapi di luar negeri krokot dicari untuk industri farmasi dan bahan pangan sehat. Kami terus mendorong standardisasi agar produk kita memenuhi syarat phytosanitary sehingga pintu ekspor terbuka lebar,” ujar Ali Jamil dalam rilis resmi Kementan.

​Senada dengan hal tersebut, Dr. Puji Lukitowati, pakar botani dari Pusat Riset Biosains dan Bioteknologi BRIN, menjelaskan dalam wawancara dengan Antara News bahwa daya tahan krokot adalah keunggulan alaminya. “Krokot memiliki metabolisme unik yang membuatnya tahan kekeringan, namun tetap mampu menyimpan antioksidan tinggi seperti glutation dan vitamin C. Ini adalah aset ‘Emas Hijau’ yang selama ini kita abaikan,” jelasnya.

​Meski potensinya menggiurkan, menembus pasar Eropa bukan perkara mudah. Standar keamanan pangan yang ketat, seperti Global Good Agricultural Practices (EUGAP), mengharuskan petani menjaga kebersihan produk dari residu pestisida kimia.

​Guna menyiasati tantangan logistik, sejumlah eksportir lokal kini mulai mengadopsi teknologi freeze-drying (pengeringan beku). Teknik ini memastikan nutrisi krokot tetap utuh hingga tiba di Jerman atau Belanda. Di sana, krokot yang sudah diolah bisa dibanderol hingga puluhan Euro per kilogram—angka yang fantastis untuk tanaman yang di tanah air sering dianggap gulma.

Ironi di Halaman Sendiri

​Krokot sesungguhnya adalah cermin dari kekayaan alam Nusantara yang sering terlupakan karena dianggap terlalu dekat. Sungguh ironis ketika ‘Emas Hijau’ ini harus menyeberangi samudera terlebih dahulu untuk mendapatkan apresiasi yang layak, sementara di tanah kelahirannya, ia masih dianggap gangguan yang harus dibasmi.

​Kini, pilihan ada di tangan kita: tetap membiarkan krokot tumbuh liar sebagai musuh petani, atau mulai mengelolanya sebagai harta karun nasional. Jangan sampai kita terus-menerus “membeli” kesehatan dari luar negeri, padahal solusinya selama ini tumbuh subur dan tersia-siakan tepat di depan pintu rumah kita.

Related posts