Ilustrasi Tim grafis HeadlineJatim.com
Surabaya, Headlinejatim.com – Ramadan 2026 semakin dekat, dan ribuan kendaraan mulai mengisi jalan-jalan utama di Jawa Timur. Di balik semarak persiapan mudik, ada kenyataan yang tak boleh diabaikan: beberapa ruas jalan di provinsi ini tetap menjadi “jalur tengkorak” — titik rawan kecelakaan yang setiap tahun menelan korban jiwa.
Dari tol hingga jalan arteri, pola kecelakaan yang berulang menjadi peringatan keras bagi pengendara. Brigjen Pol Pasma Royce, Wakapolda Jawa Timur, menegaskan saat apel Operasi Keselamatan Semeru 2026.
“Jalur ini bukan sekadar jalan biasa. Di sinilah banyak nyawa menjadi taruhan ketika kendaraan melaju tanpa disiplin.” ujar Jendral bintang satu tersebut.
Tahun 2025 mencatat 531 kasus kecelakaan lalu lintas, dengan 10 korban meninggal, 51 luka berat, dan 803 luka ringan. Angka ini menurun dibanding tahun sebelumnya, namun titik-titik rawan yang sama tetap menjadi lokasi kejadian berulang.
Jalur seperti Tol Kertosono–Mojokerto, Pacet–Cangar, dan Banyuwangi–Jember–Situbondo selalu muncul dalam catatan hitam kepolisian. Bahkan di awal Januari hingga awal Februari 2026, beberapa kecelakaan fatal terjadi di Bojonegoro dan Jombang, menambah daftar korban dan memperkuat urgensi pengawasan.
Sebagian besar kecelakaan melibatkan sepeda motor yang bersinggungan dengan kendaraan berat, terutama di tikungan tajam, turunan panjang, atau jalan arteri yang padat. Pola ini menggarisbawahi risiko struktural lokasi rawan tidak hanya masalah angka, tetapi faktor kondisi jalan dan interaksi kendaraan yang sama setiap tahun.
“Keselamatan berkendara harus menjadi budaya, bukan hanya kewajiban saat operasi. Setiap pengendara harus sadar bahwa mudik bukan lomba cepat, tapi perjalanan yang aman sampai tujuan,” tambah Wakapolda Pasma Royce.
Bagi mereka yang menempuh jalur tol, titik rawan seperti Ngawi–Madiun, Madiun–Kertosono, Mojokerto–Warugunung, Gempol–Pasuruan, dan Waru–Pandaan memerlukan perhatian ekstra. Sedangkan jalur non-tol, termasuk Banyuwangi–Situbondo, Balongbendo di Sidoarjo, Trowulan–Mojoanyar, Pacet–Cangar, dan Bangsal di Mojokerto, tetap menjadi perhatian utama aparat kepolisian.
Sejak awal Januari 2026, aparat kepolisian sudah meningkatkan patroli, menegakkan aturan, dan mengimbau masyarakat untuk berkendara dengan disiplin. Semua ini dilakukan agar tradisi mudik yang selalu menyenangkan bagi banyak keluarga, tidak berubah menjadi tragedi di jalan.
Dengan pola yang jelas dari tahun ke tahun, dan data korban yang terus dipantau, Jawa Timur mengingatkan setiap pengendara: kenali jalur yang dilalui, patuhi aturan, dan utamakan keselamatan. Jalan yang ramai mungkin terlihat biasa, tetapi di setiap tikungan dan turunan, nyawa Anda bertaruh.






