“Narasi Abad ke Abad dari Pesan Moral Wali sampai Momentum Ziarah Sosial di 2026”
Surabaya, Headlinejatim.com – Di ujung timur kawasan Ampel Denta, sebuah arsitektur tua berdiri tegar, Masjid Agung Sunan Ampel. Bayangan santri, jamaah, dan peziarah yang berlalulalang di pekarangan masjid seolah berbaur dengan sejarah panjang Jawa Timur. Sebuah kisah yang bermula lebih dari lima setengah abad lalu, namun tetap hidup dalam tradisi yang penuh makna: Haul Agung Sunan Ampel.
Sunan Ampel Sang Wali yang Menyulam Dakwah dan Budaya
Sebagai salah satu dari Wali Songo, Sunan Ampel dengan nama lahir Raden Ahmad Rahmatullah Sayyid Ali Rahmatullah, merupakan figur kunci dalam proses Islamisasi di Pulau Jawa pada abad ke15. Ia lahir di Kerajaan Champa (sekarang Vietnam bagian selatan) sekitar tahun 1401 M dan wafat sekitar 1481 M di Surabaya.
Kedatangannya ke Jawa sekitar 1443 M menandai sebuah perubahan besar dalam sejarah sosial dan religi Nusantara. Berawal dari sebuah kompleks rawa di Ampel Denta, ia membangun pesantren dan Masjid Sunan Ampel pada 1421 M, yang kemudian menjadi pusat dakwah Islam dan pendidikan agama di pesisir utara Jawa.
Berbeda dengan pola dakwah yang konfrontatif, Sunan Ampel memilih pendekatan inklusi budaya ia merangkul tradisi lokal, menghargai kearifan setempat, dan menggabungkan ajaran Islam dengan kehidupan sosial masyarakat. Dalam konteks moral, ia mengembangkan falsafah yang sederhana namun kuat dalam kehidupan seharihari, dikenal sebagai “Moh Limo”, larangan terhadap lima perilaku tercela judi, alkohol, pencurian, narkoba, dan zina. Nilai ini menjadi fondasi etika sosial yang terus dibicarakan hingga kini.
Seiring waktu, Sunan Ampel tidak hanya menjadi simbol spiritual, melalui jalinan jaringan, ia turut berperan dalam pembentukan struktur kekuasaan Islam pertama di Jawa, yakni Kesultanan Demak, dan menjadi guru bagi beberapa ulama besar lain yang menyebar ke seluruh Nusantara.
Masjid Ampel dan Kompleks Sejarahnya
Masjid Sunan Ampel bukan sekadar bangunan ibadah. Kompleksnya ditetapkan sebagai cagar budaya dan kawasan wisata religi Surabaya. Memiliki arsitektur yang memadukan unsur Jawa Kuno, Arab, dan lokal yang kuat sebagai simbol dialektika budaya Islam Nusantara.
Bangunan ini terdiri dari tiangtiang saka utama yang sarat makna simbolik: jumlah tiang, jumlah pintu, dan bentuk struktur masjid. Semuanya mencerminkan asas ibadah dan akidah Islam, dijahit dengan cara berpikir masyarakat Jawa pada masanya.
Sejak pendirian awal, masjid mengalami beberapa kali perluasan tahun 1926, 1954, dan 1972, tanpa menghilangkan nuansa aslinya, tetapi justru memperluas fungsi ruang sebagai pusat komunitas kehidupan sosial hingga saat ini.
Tradisi Seabad ke Seabad
Tradisi haul secara umum di Nusantara adalah peringatan tahunan wafatnya tokoh besar, yang diperingati dengan doa, tahlil, pengajian, dan ziarah ke makam. Dalam konteks Islam Jawa, haul menjadi ritus kolektif yang tidak hanya bersifat spiritual tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan identitas komunitas.
Haul Sunan Ampel merupakan salah satu tradisi haul paling tua dan berkelanjutan di Indonesia, yang diperingati setiap tahun selama lebih dari 549 tahun sejak wafatnya Sunan Ampel sekitar akhir abad ke15, sebuah kontinuitas ritual yang jarang ditemukan di belahan lain dunia.
Berbeda dengan haul lokal lainnya yang kadang hanya berlangsung sehari, haul di Ampel biasanya dilaksanakan selama tiga hari berturutturut, dan selalu dijadwalkan pada akhir bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah—hari yang berubah setiap tahun dalam kalender Masehi.
Tradisi ini telah berkembang:
- Tahlil dan doa di makam sebagai inti ritual;
- Pengajian sejarah yang menghubungkan kehidupan Sunan Ampel dengan konteks moral masa kini;
- Kirab budaya, simbol persaudaraan jamaah;
- Khitanan massal dan kegiatan sosial lainnya, menjadi wujud nyata penerapan ajaran moral sang wali.
- Haul bukan sekadar mengenang wafat, tetapi sebuah proses pembelajaran nilai sosial bagi masyarakat lintas generasi yang menghadirkan spiritualitas dalam kehidupan publik.
Pada Haul Agung ke549 (6–8 Februari 2026, 18–20 Sya’ban 1447 H), tradisi ini kembali diperingati dengan rangkaian kegiatan yang terstruktur dan mencerminkan keberlanjutan nilai historis dan sosialnya:
Hari Pertama – Jumat, 6 Februari 2026
• Tahlil khusus Muslimat di Makam Sunan Ampel
• Pengajian umum tentang sejarah Sunan Ampel di Masjid Agung
Hari Kedua – Sabtu, 7 Februari 2026
• Khataman AlQur’an bil ghoib untuk jamaah pria dan wanita
• Kirab budaya dari Kampung Margi menuju makam
• Tahlil akbar dan pengajian sejarah
• Pengajian umum malam hari
Hari Ketiga – Minggu, 8 Februari 2026
• Khitanan massal sebagai bentuk kepedulian sosial
• Pembacaan sholawat dan hadrah
Rangkaian ini tidak hanya ritual yang bersifat sacral. Ini mencerminkan interaksi spiritual dan sosial antara jamaah, keluarga, dan komunitas dalam bingkai spiritualitas yang inklusif dan memberi makna bersama.
Di era kontemporer, haul Sunan Ampel telah berubah dari semata ritual doa menjadi momentum refleksi nilai moral, pendidikan sejarah, dan pembentukan karakter sosial islami. Bahkan tokohtokoh publik seperti Gubernur Jawa Timur Khofifah Indarparawansah, menekankan bahwa nilai utama yang diwariskan oleh Sunan Ampel adalah Islam berakhlak, damai, dan mencipta tatanan sosial bermartabat, bukanlah sekadar hafalan ritual, tetapi jiwa etika masyarakat yang terus relevan di tengah dinamika zaman.
Nilai Moh Limo, yang menekankan larangan terhadap perilaku tercela, menjadi referensi moral bagi jamaah dan masyarakat luas yang hadir dalam haul, seolah menghubungkan ajaran klasik dan tantangan kehidupan modern.
Lahir dari ajaran seorang wali abad ke15, dilanjutkan sebagai tradisi ziarah yang hidup selama lebih dari sembilan setengah abad, dan kini bercampur dalam dinamika kehidupan masyarakat modern, Haul Agung Sunan Ampel tetap menjadi fenomena sejarah hidup: sebuah ritual religius, warisan budaya lokal, wadah pendidikan moral, dan ruang solidaritas sosial.
Inilah tradisi yang tidak hanya memperingati masa lalu, tetapi menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Ketika ziarah menjadi sarana untuk belajar nilai, meneguhkan identitas, dan memperkuat ikatan sosial di tengah pluralitas masyarakat kontemporer.
Ketika Ziarah Menjadi Penggerak Ekonomi Lokal
Di luar nilai spiritual dan historisnya, Haul Sunan Ampel dan wisata religi di Kompleks Masjid serta Makam Sunan Ampel telah menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal yang nyata, terutama bagi pelaku usaha kecil, pedagang kaki lima (PKL), dan sektor jasa di sekitar kawasan religi tersebut.
Beragam riset akademik menunjukkan kontribusi ekonomi yang nyata dari wisata religi Sunan Ampel terhadap masyarakat sekitar. Dalam studi yang dilakukan Universitas Airlangga (UNAIR), ditemukan bahwa wisata religius di Sunan Ampel meningkatkan pendapatan pedagang lokal hingga sekitar 44 % dibanding sebelum ramai kunjungan peziarah, sementara upah tenaga kerja naik sekitar 8,2 % dari keterlibatan mereka dalam kegiatan wisata tersebut. Ini mencakup penjualan makanan, minuman, cendera mata, dan jasa lain yang terkait dengan kunjungan peziarah.
Pendekatan ini, yang disebut wisata syariah atau Islamic tourism, tidak hanya berdampak langsung pada penjual, tetapi juga menggerakkan permintaan terhadap tenaga kerja, transportasi, dan layanan konsumsi lokal seperti makanan dan parkir.
Pemerintah Kota Surabaya secara aktif melakukan penataan kawasan Ampel untuk meningkatkan pengalaman peziarah sekaligus mendorong kesejahteraan penduduk lokal. Misalnya, Pemkot telah:
Menyiapkan lahan parkir khusus bagi peziarah guna mengurangi kemacetan sekaligus meningkatkan kenyamanan kunjungan.
Melibatkan tokoh masyarakat untuk mendata PKL, agar pelaku usaha di sekitar lokasi bisa tertata dan mendapat manfaat ekonomi yang lebih bagus.
Merelokasi ratusan pedagang ke area Serambi Ampel, pusat kuliner dan UMKM yang kini menjadi daya tarik ekonomi baru di kawasan religi tersebut.
Programprogram ini memberi peluang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berkembang; dari penjual makanan tradisional hingga cendera mata berbasis motif lokal. Pemerintah bahkan mengadakan sayembara desain untuk mengembangkan kawasan wisata religi ini lebih lanjut, membuka ruang dialog warga dan perencana kota dalam menentukan masa depan ekonomi lokal.
Transformasi Ruang dan Peluang Baru
Pembangunan Serambi Ampel, yang mengubah bekas Rumah Potong Hewan (RPH) menjadi pusat kuliner dan UMKM, adalah salah satu contoh nyata transformasi ekonomi di kawasan Ampel. Ruang ini menjadi hub economic activity yang tidak hanya menyambut peziarah haul, tetapi juga pengunjung harian, sehingga mendorong arus transaksi sepanjang tahun. DPRD Surabaya bahkan menyatakan apresiasi karena kawasan ini membantu meningkatkan penghasilan asli daerah (PAD) sekaligus membuka peluang usaha baru bagi warga setempat.
Wisata religius Sunan Ampel tak hanya menarik peziarah lokal atau regional. Sejumlah catatan kunjungan haul sebelumnya mencatat kehadiran wisatawan dari luar Jawa dan bahkan mancanegara yang tertarik dengan tradisi budaya Islam Nusantara. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebelumnya menyatakan keinginan untuk memperluas potensi kunjungan asing, melihat Sunan Ampel sebagai lokasi dengan histori yang kuat dan potensi besar untuk Islamic tourism yang berkualitas.
Dalam kesempatan haul ke549, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hadir dan memberikan pesan moral, bahwasanya Haul Sunan Ampel bukan sekadar mengenang wafatnya wali besar, tetapi momen refleksi bagi kita semua. “Nilai akhlak, toleransi, dan kesantunan yang diwariskan Sunan Ampel tetap relevan bagi masyarakat modern”, ujar Khofifah.
Sementara Menteri PPPA RI, Arifatul Fauzi menyampaikan, tradisi haul ini juga menjadi momentum pendidikan moral dan sosial. “Kita belajar dari Sunan Ampel bagaimana membangun komunitas yang beradab dan berkeadilan.” Ujar Arifatul Fauzi.
Selain dampak ekonomi, haul dan wisata religi di Ampel membentuk pola interaksi sosial yang khas:
1. Solidaritas Melalui Aktivitas Komunitas
Haul bukan hanya soal doa dan tahlil—ini juga wadah kolektif untuk saling berbagi dan bersyukur. Misalnya, pada peringatan haul sebelumnya (ke548), sejumlah organisasi komunitas menyelenggarakan aksi pembagian makanan dan minuman gratis kepada jamaah sebagai bentuk rasa syukur dan kebersamaan—menunjukkan bahwa rizki dan berkah menjadi tema sentral dalam tradisi haul.
Najibah, Peziarah dari Sidoarjo menuturkan dirinya datang bukan hanya untuk doa, tetapi mengingatkan diri tentang keluarga dan hidup. “Setiap tahun, haul ini membuat hati saya lebih tenang, terutama saat melihat jamaah dari berbagai daerah berkumpul bersama”, tutur Najibah.
Ahmad Mustajab, Juru Kunci menegaskan, sirkulasi peziarah di atur sedemikian rupa, agar semua bisa berdoa dan berzikir dengan khusyuk. “Haul adalah ruang solidaritas sosial, di mana jamaah saling berbagi dan terhubung”, ujar Ahmad Mustajab.
Pengalaman peziarah ini menunjukkan haul bukan sekadar ritual, tetapi perjumpaan batin yang meneguhkan iman dan kebersamaan lintas generasi.
2. Identitas Lokal dan Ruang Publik yang Hidup
Kawasan Ampel bukan hanya tempat berziarah; ia merupakan arena hidupnya identitas sosial dan budaya. Ribuan peziarah dari berbagai daerah mengisi ruang-ruang jalan sempit, warung, dan tempat ibadah setiap tahun, saling berbincang tentang sejarah, moral, dan pengalaman spiritual. Hubungan ini memberi sentuhan emosional antara sejarah kolektif dan kehidupan publik kontemporer.
Kerja bersama antara pemerintah dan tokoh masyarakat dalam menata pedagang dan ruang publik juga mencerminkan upaya mempertahankan keseimbangan antara nafas tradisi dan kebutuhan modernisasi, termasuk upaya revitalisasi lingkungan bersejarah tanpa mengikis nilai budaya yang melekat di kawasan ini.
Pada Haul Agung ke549 di tahun 2026, tradisi ini bukan sekadar perjalanan spiritual panjang, tetapi juga pilar penting bagi masyarakat di sekitar kawasan Ampel. Di mana sejarah panjang, kebutuhan ekonomi, dan dinamika sosial bertemu. Hasilnya lebih dari sekadar ziarah:
Nilai ekonomi berkembang nyata, dari pendapatan pedagang hingga peluang UMKM tumbuh bersama.
Ruang sosial bertambah hidup, menjadi tempat interaksi lintas generasi dan kultur.
Identitas lokal terus dipertahankan, bahkan saat modernitas memanggil untuk penataan dan pengembangan kawasan.
Tradisi haul, yang telah berjalan selama ratusan tahun, terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman, tanpa kehilangan akar spiritual dan maknanya bagi komunitas yang hidup di dalamnya.
Lima Setengah Abad yang Hidup
Dari wafat Sunan Ampel pada 1481 M hingga haul ke-549 di 2026, tradisi ini tetap hidup, menghubungkan sejarah, iman, masyarakat, dan ekonomi. Setiap tahlil, kirab, dan doa bukan sekadar ritual, melainkan narasi hidup yang terus berlangsung, menguatkan akar spiritual dan sosial masyarakat Jawa Timur.
Haul Sunan Ampel bukan hanya mengenang masa lalu. Ia menjadi cermin moral, pendidikan sosial, dan energi komunitas yang membimbing masa kini dan masa depan.






