El Nathan Saat Bersama Yati Pesek
JOGYAKARTA, HeadlineJatim.com –
“Kalau kita suka budaya luar dan lupa budaya sendiri, sama saja kita dijajah…Om”.
Kalimat ini terdengar sederhana. Tapi ketika keluar dari seorang anak berusia 10 tahun, maknanya terasa jauh lebih dalam.
Namanya Francis El Nathan Hardianto, atau El. Lahir 22 Oktober 2015, bocah asal Sleman, Yogyakarta ini mulai jatuh cinta pada dunia seni tari Jawa di usia sekitar 7 tahun, tepatnya pada tahun 2023.
Sebuah usia di mana banyak anak masih larut dalam dunia gim dan superhero. Namun El justru memilih jalan berbeda. Ia memilih menari, memahami, dan menjaga budaya.
Titik awal perjalanan El terjadi pada malam 1 Suro 2023 di Kaliurang, Yogyakarta.
Saat itu, El menyaksikan kirab budaya dan pertunjukan seni. Di antara berbagai atraksi, jatilan dengan topeng Gedruk dan karakter Bujang Ganong menjadi momen yang membekas kuat.
“Topengnya itu seperti monster, tapi justru seru,” kenangnya.
Sebelumnya, El adalah penggemar Hulk, Juggernaut, hingga Ironman. Namun malam itu, ia menemukan bentuk “superhero” lain, dalam wujud budaya Jawa.
Sejak saat itu, ketertarikan El berubah arah.
Ketertarikan itu tidak berhenti sebagai tontonan.
El mulai aktif mencari video seni budaya Jawa melalui YouTube. Ia menonton, mengamati, lalu menirukan gerakan tari. Di sinilah proses belajar mandiri dimulai. Tanpa pelatih. Tanpa tekanan.
“Mungkin karena El suka banget, jadi tidak terasa sulit”, Ujar El saat wiwawancari headlinejatim.com Rabu (01/04/2026).
Dari layar kecil, ia mulai membangun dasar gerak dan rasa. Perjalanan El kemudian berkembang ke tahap berikutnya. Ia bergabung dengan Omah Cangkem, sanggar seni yang diasuh oleh Pardiman Djoyonegoro. Di sinilah El mulai mendapatkan pembinaan langsung.
Ia memulai dengan tarian Bujang Ganong, karakter yang sejak awal sudah ia sukai.
Di lingkungan sanggar, El tidak hanya belajar teknik, tetapi juga disiplin, ekspresi, dan pemahaman karakter dalam tari. Proses ini menjadi jembatan penting dari belajar mandiri menuju dunia seni yang lebih terstruktur.
Di balik perjalanan El, ada peran besar keluarga. Ayahnya, Frans Hardianto (asal Pontianak), dan ibunya, Siska Dwi Sari (Yogyakarta), selalu hadir dalam setiap proses.
“Papa dan mama selalu mendukung selama itu positif,” kata El dengan bangga.
Tidak hanya mendukung, mereka juga aktif mendampingi, baik saat latihan di sanggar, tampil di panggung, hingga aktivitas El di media sosial. Ibunya juga menanamkan nilai penting tentang identitas budaya. Bahwa mengenal budaya sendiri adalah hal yang wajib.
Dari Sanggar ke Lingkar Sang Maestro Yati Pesek
Perjalanan El semakin berkembang ketika ia masuk ke lingkungan seniman senior. Salah satu sosok penting adalah Yati Pesek, yang ia panggil “Eyang”.
“El sudah dianggap seperti cucunya,” tuturnya.
Dari Yati Pesek, El belajar banyak hal. Tidak hanya teknik tari, tetapi juga seni peran, etika panggung, dan sikap hidup. Ia diajarkan untuk tetap rendah hati, tidak sombong, dan tidak melupakan pendidikan.
Yang membuat perjalanan El semakin relevan adalah caranya mempromosikan budaya.
Ia tidak hanya tampil secara konvensional di panggung, tetapi juga aktif di media sosial.
Melalui akun Instagram @el_nathan_hardianto, setiap kegiatannya, mulai dari latihan, proses belajar, hingga penampilan selalu dipublikasikan. Saat ini, akun tersebut telah memiliki sekitar 27,4 ribu pengikut. Pendekatan ini membuat budaya Jawa hadir di ruang digital, menjangkau generasi yang lebih luas. Dalam hal ini, orang tua kembali berperan penting—mendampingi dan mengawal aktivitas El, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
Masa Kecil yang Tetap Utuh
Meski aktif menari, El tidak merasa kehilangan masa kecilnya. Ia tetap sekolah, tetap bermain, dan menjalani hidup seperti anak-anak lainnya.
“Kalau teman-teman suka figure luar negeri, El suka wayang Jawa. Gak ada bedanya kan?” Tanyanya dengan nada tanya namun tegas.
Dalam waktu sekitar 2,5 tahun, El telah tampil di berbagai panggung—lokal hingga internasional. Di atas panggung, ia tidak merasa takut.
“El merasa bersemangat, menikmati, dan bangga,” tambahnya lagi.
Ia juga belajar menghadapi kritik dan pujian.
“Kalau dipuji harus berterima kasih. Kalau komentar negatif, tidak usah dihiraukan.” Imbuhnya lagi.
El memiliki pandangan yang sederhana, tapi kuat. Ia melihat budaya Jawa sering dikaitkan dengan hal mistis, sehingga dijauhi.
Padahal menurutnya, cerita wayang sangat menarik dan penuh makna—tidak kalah dari superhero modern. Solusinya adalah pendekatan yang lebih edukatif dan menarik.
Ke depan, El memiliki mimpi sederhana. Memiliki joglo atau pendopo lengkap dengan gamelan. Tempat untuk berlatih dan berkumpul bersama teman-temannya.
Mimpinya membawa budaya jawa ke dunia akan terus membara.
“Jika suatu hari, saya tampil di panggung internasional, El ingin memperkenalkan tari Jawa ke dunia. Supaya mereka tahu kalau tarian Jawa itu keren,” tegasnya lagi.
Inilah Perjalanan El dimulai dari usia 7 tahun, dari sebuah malam 1 Suro di Kaliurang.
Lalu berkembang melalui YouTube, ditempa di Omah Cangkem bersama Pardiman Djoyonegoro, diperkuat oleh kedekatan dengan Yati Pesek, serta didukung penuh oleh orang tuanya, Frans Hardianto dan Siska Dwi Sari.
Kini, di usia 10 tahun, ia tidak hanya menari. Ia juga menyuarakan.
Dan dari suaranya yang sederhana, muncul satu pengingat yang sangat kuat dan penuh makna bagi generasi penerus bangsa penjaga kelestarian budaya nenek moyang ini.
“Kalau kita lupa budaya sendiri, dan lebih suka budaya luar negeri, itu sama saja kita dijajah”






