Lagi, Landfill Terbesar Jakarta dan Asia Tenggara, Bantar Gebang Longsor Akibatkan Fatalitas

Bekasi, Jawa Barat, HeadlineJatim.com- Tragedi kembali mengguncang dunia pengelolaan sampah di Jakarta–Bogor–Depok–Tangerang–Bekasi (Jabodetabek). Minggu sore, 8 Maret 2026, gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang zona 4, Desa Ciketing Udik, Kecamatan Bantar Gebang, tibatiba longsor saat truktruk sedang mengantre untuk membongkar muatan. Akibatnya, empat orang meninggal dunia dan dua lainnya selamat, menurut data terbaru yang dirilis tim SAR gabungan pada malam ini.

Evakuasi yang melibatkan Basarnas, BPBD Provinsi DKI Jakarta, dan BPBD Kota Bekasi berlangsung hingga malam ini. Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, mengatakan bahwa salah satu korban ditemukan di dalam truk yang tertimbun material longsoran sementara satu per satu jenazah dibawa ke rumah sakit dan rumah duka.

Polda Metro Jaya juga menyatakan bahwa “diduga masih terdapat korban lain yang belum ditemukan” di bawah material timbunan sampah yang labil karena beberapa truk dan warung ikut tersapu longsor.

TPST Bantar Gebang, Landfill Raksasa yang Menjadi Nadi Pengelolaan Sampah Jabodetabek

TPST Bantar Gebang bukan sekadar tempat pembuangan akhir lokal. Ini adalah landfill terbesar di Indonesia dan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Tempat ini beroperasi sejak 1989 dan dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta sebagai lokasi akhir bagi sebagian besar sampah Jakarta dan wilayah sekitarnya.

Setiap harinya, sekitar 7.500–8.000 ton sampah dari Jakarta dibawa ke Bantar Gebang, dengan timbunan yang kini menumpuk hingga puluhan meter dan total volume yang diperkirakan mencapai puluhan juta ton.

Area landfill ini terbentang lebih dari 110 hektare, terbagi ke dalam beberapa zona pembuangan (Zona I–V), dan menjadi titik tekan utama dari sistem pengelolaan sampah Jabodetabek. Selain fungsi pengelolaan, Bantar Gebang juga menjadi sumber penghidupan ribuan pemulung/‘waste pickers’ yang setiap hari mengais materiał untuk dijual kembali.

Tanpa landfill ini, krisis sampah akan mengancam kehidupan jutaan warga Jakarta, karena belum ada alternatif sebanding yang bisa menampung dan mengelola volume sampah metropolitan sebesar itu.

Longsor 2026, Puncak Ancaman yang Terulang

Meski beroperasi sejak puluhan tahun lalu, longsor bukanlah kejadian pertama di Bantar Gebang—ia merupakan risiko yang terus mengintai karena topografi timbunan yang sangat tinggi dan volumenya yang terus membengkak.

Tahun lalu, pada 31 Desember 2025, sebuah longsor material menimpa truktruk sampah, membuat tiga unit terperosok ke dalam aliran kali tanpa menimbulkan korban jiwa. Insiden itu menjadi salah satu warning sign bahwa struktur tumpukan sampah semakin tak stabil.

Sebelumnya, sejarah Bantar Gebang juga mencatat peristiwa longsor fatal pada 2006, di mana tiga pemulung tewas dan beberapa lainnya lukaluka akibat longsor sampah yang turun secara tibatiba dari gunungan yang tinggi.

Para pengamat, pemerintah daerah, dan instansi teknis menyebut beberapa faktor yang saling berkaitan sebagai penyebab utama longsor:

🔹 Curah hujan tinggi yang tibatiba, meresap ke dalam timbunan sampah dan membuatnya kehilangan stabilitas.

🔹 Volume sampah yang terus meningkat jauh melebihi kemampuan landfill untuk mengelolanya secara aman.

🔹 Struktur pengelolaan yang belum sepenuhnya modern, mencakup drainase, stabilisasi lereng, dan sistem teknis yang mampu mengantisipasi tekanan berat timbunan.

🔹 Aktivitas manusia di area rawan, termasuk truktruk yang sedang menanti bongkar muatan serta pekerja lapangan yang berada dekat dengan lereng sampah.

Para ahli menyatakan bahwa kombinasi faktor ini menjadikan wilayah yang seharusnya aman dalam pengelolaan sampah berubah menjadi potensi bencana yang nyata.

Bantar Gebang di Tengah Krisis Sampah yang Lebih Luas

Selain persoalan longsor, Bantar Gebang berada di tengah krisis sampah metropolitan yang makin akut. Legislator DPRD DKI Jakarta, Bun Joi Phiau, sempat memperingatkan bahwa tanpa peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah dan pengurangan volume sampah di sumbernya, landfill akan semakin penuh dan rentan terhadap dampak buruk seperti longsor dan masalah kesehatan masyarakat.

Proyeksi pemerintah bahkan memperkirakan landfill ini hanya akan mampu menampung sampah untuk beberapa tahun ke depan jika arus volume sampah harian tidak ditangani lebih efektif.

Merespons longsor fatal ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengaktifkan operasi tanggap darurat untuk menangani korban, menstabilkan titik longsor, serta memulihkan layanan pengelolaan sampah di area terdampak. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menyatakan stabilisasi timbunan akan dilakukan secara bertahap untuk mencegah longsor susulan dan menjaga keselamatan operasi.

Selain respons darurat, pemerintah juga tengah mendorong pembangunan fasilitas seperti RefuseDerived Fuel (RDF), landfill mining, dan peningkatan sistem reducereuserecycle (TPS3R) untuk mengurangi beban langsung ke landfill.

Longsor di TPST Bantar Gebang pada 8 Maret 2026 menjadi tonggak penting yang memaksa masyarakat dan pemerintah berpikir ulang tentang bagaimana sebuah megapolitan menangani limbahnya. Ini adalah peringatan nyata bahwa solusi jangka panjang seperti pengurangan sampah di sumber, sistem pengolahan modern, dan manajemen lereng yang lebih baik bukan pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

 

Sumber Data & Referensi Utama

Data Longsor TPST Bantar Gebang, korban fatalitas dan evakuasi berlangsung. (kumparan)

Polisi menduga masih ada korban tertimbun. (Antara News)

Stabilitas area dan respons pemerintah. (Antara News)

Volume sampah harian dan peran Bantar Gebang. (VOI)

Sejarah longsoR di Bantar Gebang. (Woima Corporation)

Legislator soal krisis sampah metropolitan. (Asia Pacific Solidarity)

Pengembangan fasilitas RDF dan lainla

in. (https://www.beritajakarta.id/)

 

Related posts