Ilustrasi oleh Tim Grafis
Surabaya, HeadlineJatim.com– Memasuki keutamaan puasa Ramadhan hari ke-18, umat Muslim kini berada di penghujung fase kedua bulan suci, yaitu fase Maghfirah atau pengampunan. Hari ke-18 ini menjadi momentum krusial bagi setiap hamba untuk memperbanyak istighfar sebelum melangkah ke sepuluh hari terakhir yang penuh kemuliaan. Para ulama menekankan bahwa ketekunan di hari-hari ini mencerminkan kualitas ketaqwaan seseorang.
Melansir dari portal resmi NU Online dalam artikel berjudul “Fadhilah Puasa Ramadhan Hari ke-1 hingga ke-30“, para ulama Nahdlatul Ulama merujuk pada literatur kitab klasik Fadhâ’il Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah.
Berdasarkan keterangan tersebut, keutamaan puasa Ramadhan hari ke-18 adalah Allah SWT memerintahkan malaikat-Nya untuk memohonkan ampunan bagi orang-orang yang berpuasa. Ulama NU berpesan agar di hari ke-18 ini, umat Islam menjauhi segala bentuk maksiat lisan dan hati agar pancaran rahmat serta ampunan yang telah diraih sejak awal bulan tidak terputus.
Di sisi lain, mengutip dari laman Muhammadiyah.or.id melalui ulasan bertajuk “Puasa dan Transformasi Mental: Menuju Manusia Paripurna“, tokoh-tokoh Muhammadiyah melihat hari ke-18 sebagai fase kematangan spiritual.
Muhammadiyah menekankan bahwa makna puasa hari ke-18 adalah penguatan integritas diri. Pada tahap ini, puasa seharusnya sudah menjadi gaya hidup, bukan lagi sekadar menahan lapar. Muhammadiyah mengajak umat untuk merefleksikan apakah amalan selama 18 hari ini telah membuahkan kepekaan sosial, seperti semangat berbagi dan membantu sesama yang sedang kesulitan.
Tuntunan Resmi Kementerian Agama (Kemenag) RI
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, MA, dalam artikel bertajuk “Menjaga Ritme Ibadah di Penghujung Fase Maghfirah” di portal resmi Kementerian Agama, memberikan arahan strategis.
Beliau menyampaikan bahwa hari ke-18 sering kali menjadi titik rawan di mana semangat ibadah mulai menurun. Kemenag RI mengimbau masyarakat untuk kembali mempererat interaksi dengan Al-Qur’an dan memperbanyak sedekah. “Ampunan Allah terbuka lebar di hari ke-18 ini. Mari kita jadikan momentum ini untuk membersihkan jiwa sebelum menjemput malam Lailatul Qadar,” ungkap beliau.
Secara ilmiah, signifikansi hari ke-18 didukung oleh studi dalam Journal of Islamic Medicine and Health berjudul “Psychological Well-being and Metabolic Balance in the Late Second Decad of Ramadan”.
Jurnal tersebut memaparkan bahwa pada hari ke-18, tubuh manusia telah mencapai efisiensi energi yang luar biasa melalui proses ketosis yang stabil. Secara medis, kondisi ini berdampak pada penurunan kecemasan dan peningkatan rasa puas diri (contentment). Ketenangan fisik dan emosional di hari ke-18 ini memberikan ruang bagi otak untuk mencapai kekhusyukan maksimal dalam zikir dan refleksi spiritual.
Memahami keutamaan puasa Ramadhan hari ke-18 menyadarkan kita bahwa setiap detik di bulan suci ini sangatlah berharga. Sinergi pandangan dari NU, Muhammadiyah, dan Kemenag RI mempertegas bahwa hari ke-18 adalah waktu terbaik untuk memohon ampunan seikhlas mungkin, guna meraih derajat Muttaqin yang sejati.






