Keutamaan Puasa Ramadan Hari Ke-17, Momentum Nuzulul Qur’an dan Puncak Kemuliaan

Ilustrasi oleh tim grafis 

Surabaya, HeadlineJatim.com– Memasuki keutamaan puasa Ramadhan hari ke-17, umat Muslim di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, memperingati salah satu peristiwa paling bersejarah dalam Islam, yakni Nuzulul Qur’an. Hari ke-17 ini bukan sekadar penanda puasa yang telah berjalan lebih dari dua pekan, melainkan simbol turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW yang membawa cahaya bagi alam semesta.

Read More

Melansir dari portal resmi NU Online dalam artikel berjudul “Sejarah Nuzulul Qur’an: Mengapa Diperingati Setiap 17 Ramadhan?”, para ulama Nahdlatul Ulama menekankan nilai sakral hari ini. Merujuk pada kitab-kitab klasik, keutamaan puasa Ramadhan hari ke-17 berkaitan erat dengan pengabulan doa-doa besar.

Ulama NU berpesan agar umat Islam mengisi hari ke-17 dengan memperbanyak khataman Al-Qur’an. “Malam 17 Ramadhan adalah malam yang penuh berkah. Allah SWT menurunkan petunjuk (Al-Furqan) di hari ini, maka sangat dianjurkan bagi kita untuk kembali berinteraksi secara intim dengan kalam-kalam Ilahi,” ulas NU Online dalam kajiannya.

Di sisi lain, mengutip dari laman Muhammadiyah.or.id melalui ulasan bertajuk “Memaknai Nuzulul Qur’an sebagai Gerakan Literasi Spiritual“, tokoh-tokoh Muhammadiyah melihat hari ke-17 sebagai titik tolak kemajuan intelektual umat.

Muhammadiyah menekankan bahwa makna puasa hari ke-17 adalah pembebasan dari kebodohan. Melalui wahyu pertama Iqra’ (Bacalah), Muhammadiyah mengajak umat untuk tidak hanya membaca Al-Qur’an secara lisan, tetapi juga secara mendalam (tadabbur). Pada hari ke-17 ini, seorang mukmin diharapkan mampu mentransformasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam aksi nyata sosial dan kemanusiaan.

Tuntunan Resmi Kementerian Agama (Kemenag) RI

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, MA, dalam artikel bertajuk “Nuzulul Qur’an: Memperkuat Moderasi Beragama” di situs resmi Kementerian Agama, memberikan arahan strategis.

Beliau menyampaikan bahwa hari ke-17 adalah momentum untuk mengevaluasi akhlak berdasarkan tuntunan kitab suci. Kemenag RI mengajak masyarakat untuk menjadikan peringatan hari ke-17 sebagai sarana mempererat persatuan bangsa.

“Al-Qur’an adalah rahmat bagi sekalian alam. Mari kita jadikan puasa hari ke-17 ini sebagai langkah menuju pribadi yang lebih moderat dan toleran,” ungkap beliau.

Secara ilmiah, signifikansi pembacaan Al-Qur’an di pertengahan bulan didukung oleh studi dalam Journal of Islamic Medicine and Health berjudul “The Neurophysiological Impact of Quranic Recitation during Ramadan Fasting“.

Jurnal tersebut memaparkan bahwa interaksi intensif dengan bacaan Al-Qur’an pada hari ke-17, didukung oleh kondisi fisik yang telah terbiasa berpuasa, memicu pelepasan hormon endorfin dan serotonin yang lebih tinggi. Secara medis, hal ini menghasilkan efek relaksasi yang dalam, menurunkan kecemasan, dan meningkatkan ketajaman fokus kognitif hamba dalam beribadah maupun bekerja.

Memahami keutamaan puasa Ramadhan hari ke-17 membawa kita pada kesadaran akan pentingnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Sinergi pandangan dari NU, Muhammadiyah, dan Kemenag RI menegaskan bahwa hari ke-17 adalah waktu terbaik untuk memperkuat kecintaan kita kepada Allah melalui firman-Nya.

Related posts