Gresik, HeadlineJatim.com– PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) membuktikan bahwa operasional industri dan pelestarian peradaban dunia dapat berjalan berdampingan secara ekstrem. Melalui anak usahanya, PT Semen Tonasa, perusahaan secara tegas menetapkan 31,64 hektare lahan tambangnya di Bukit Bulu Sipong, Pangkep, sebagai kawasan konservasi absolut.
Langkah ini bukan sekadar formalitas. Kawasan ini merupakan “benteng” terakhir bagi Leang Bulu Sipong 4, situs yang menyimpan seni cadas tertua di dunia berusia 44.000 tahun. SIG mengambil posisi sebagai garda depan dalam melindungi bukti sejarah perburuan manusia prasejarah ini dari risiko kerusakan lingkungan maupun aktivitas manusia.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menegaskan bahwa perusahaan tidak berkompromi dalam hal keberlanjutan. SIG telah mengintegrasikan Cultural Heritage Management Plan ke dalam sistem operasional perusahaan.
“Kami tidak hanya menambang, kami mengelola warisan dunia. Penetapan kawasan konservasi sebesar 11,3% dari total luas tambang adalah bukti nyata bahwa nilai budaya dan lingkungan memiliki kedudukan yang setara dengan target industri,” ujar Vita.
Komitmen tegas SIG membuahkan hasil terukur. Data tahun 2025 menunjukkan tren positif pada ekosistem lokal:
Indeks Kehati Flora: Naik menjadi 1,54 (dari 1,38 di tahun 2020).
Indeks Kehati Fauna: Naik menjadi 2,85 (dari 2,51 di tahun 2020).
Hutan konservasi ini kini menjadi rumah aman bagi 2.898 pohon, termasuk spesies endemik yang nyaris punah seperti Eboni dan Kayu Kuku. Di sisi fauna, populasi satwa liar mencapai 869 ekor, termasuk perlindungan ketat terhadap primata endemik yang dilindungi, Monyet Dare (Macaca maura) dan Tarsius.
Keberhasilan SIG mengelola Bulu Sipong 4 membawa situs ini masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark pada 2023. Perusahaan juga melakukan proteksi fisik secara masif, mulai dari pemasangan pagar pembatas sepanjang 1.900 meter, pemantauan getaran berkala, hingga kontrol ketat terhadap kualitas udara ambien untuk memastikan lukisan purba tidak terdegradasi.
Melalui langkah ini, SIG mengirimkan pesan kuat kepada industri global: pembangunan berkelanjutan bukan lagi pilihan, melainkan mandat yang harus dijalankan dengan tindakan nyata, terukur, dan berdampak jangka panjang bagi peradaban.






