Surabaya, HeadlineJatim.com – Peringatan dini kembali dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi gelombang tinggi di perairan Jawa Timur. Gelombang laut di wilayah selatan provinsi ini diprediksi dapat mencapai hampir 3 meter dan berpotensi mendekati 4 meter, sehingga berisiko terhadap keselamatan aktivitas pelayaran.
Data dari Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak Surabaya menunjukkan, tinggi gelombang di sejumlah wilayah pesisir selatan Jawa Timur pada 7–11 Maret 2026 berada pada kisaran 2,5 hingga 2,72 meter.
Beberapa wilayah dengan potensi gelombang tertinggi antara lain:
Perairan Banyuwangi: 2,72 meter
Perairan Jember: 2,69 meter
Perairan Lumajang: 2,57 meter
Perairan Malang: 2,56 meter
Perairan Blitar: 2,51 meter
Perairan Tulungagung: 2,50 meter
Perairan Trenggalek: 2,47 meter
Perairan Pacitan: 2,42 meter
Selain wilayah selatan, sejumlah perairan di Laut Jawa bagian timur dan utara Jawa Timur juga diperkirakan mengalami gelombang sedang.
Misalnya:
Perairan Bawean Utara: hingga 2,16 meter
Perairan Masalembo: sekitar 1,99 meter
Perairan Kepulauan Kangean: hingga 1,91 meter
Perairan Tuban – Lamongan: sekitar 1,3–1,4 meter
Sementara di kawasan Selat Madura dan perairan sekitar Surabaya, tinggi gelombang relatif lebih rendah, berkisar 0,3 hingga 0,9 meter.
BMKG juga mengingatkan bahwa keberadaan awan Cumulonimbus (Cb) yang luas dan gelap dapat meningkatkan kecepatan angin secara tiba-tiba serta memperbesar tinggi gelombang di laut.
Risiko bagi Nelayan dan Kapal
Gelombang tinggi ini berpotensi membahayakan aktivitas pelayaran, terutama bagi kapal dengan ukuran kecil hingga menengah.
BMKG mencatat risiko akan meningkat apabila:
Perahu nelayan menghadapi angin sekitar 15 knot dengan gelombang 1,25 meter
Kapal tongkang menghadapi angin 16 knot dengan gelombang 1,5 meter
Kapal ferry menghadapi angin 21 knot dengan gelombang 2,5 meter
Karena itu, nelayan serta operator kapal diimbau untuk memantau perkembangan cuaca sebelum melaut.
KSOP Tanjung Perak Perketat Pengawasan Pelayaran
Mengantisipasi potensi cuaca ekstrem tersebut, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Perak Surabaya meningkatkan pemantauan kondisi cuaca laut dengan berkoordinasi intensif bersama BMKG.
Pemantauan dilakukan melalui berbagai platform informasi BMKG, mulai dari website resmi, media sosial, hingga komunikasi internal.
Kabid Pengawasan dan Penindakan KSOP Utama Tanjung Perak, Arizal Hendriawan, menjelaskan bahwa pihaknya juga terus mengingatkan operator kapal untuk memperhatikan kondisi cuaca sebelum berlayar.
Salah satu layanan utama yang dilakukan KSOP adalah penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB), yang hanya diberikan setelah kapal memenuhi syarat keselamatan termasuk mempertimbangkan kondisi cuaca.
“Syahbandar mengimbau kepada pengguna jasa untuk melakukan pemantauan mandiri mengenai potensi cuaca dan parameter kemaritiman di wilayah pelabuhan tujuan maupun perairan yang akan dilalui kapal. Informasi tersebut dapat diakses melalui website BMKG yang saat ini juga terintegrasi dalam sistem Inaportnet,” kata Arizal.
Potensi Penundaan Kapal Jika Cuaca Memburuk
Sebagai langkah mitigasi, KSOP juga menyiapkan mekanisme Notice To Marine (NTM) apabila terjadi kondisi cuaca yang dinilai membahayakan keselamatan pelayaran.
NTM tersebut berisi pemberitahuan kepada kapal di pelabuhan untuk meningkatkan kewaspadaan atau bahkan menunda keberangkatan kapal tertentu, terutama berdasarkan ukuran kapal atau Gross Tonnage (GT) serta memperhatikan freeboard atau tinggi lambung timbul kapal.
“Untuk wilayah dengan tinggi gelombang hingga 2,5 meter, kapal seperti tug boat dan kapal layar motor (KLM) diimbau ekstra hati-hati dan menunda keberangkatan apabila kondisi dinilai membahayakan,” jelas Arizal.
Bagi kapal yang sedang berlabuh jangkar, KSOP juga terus berkoordinasi dengan Vessel Traffic Service (VTS) untuk memberikan peringatan jika terjadi angin kencang atau potensi bahaya lainnya di perairan.
Nelayan Diminta Waspada
Dengan potensi gelombang tinggi yang diperkirakan terjadi hingga beberapa hari ke depan, nelayan dan pelaku transportasi laut di Jawa Timur diminta lebih waspada.
Pemantauan informasi cuaca secara berkala serta keputusan menunda pelayaran saat kondisi memburuk menjadi langkah penting untuk menghindari risiko kecelakaan di laut.
BMKG mengimbau masyarakat maritim untuk terus mengikuti pembaruan informasi cuaca laut melalui kanal resmi agar aktivitas pelayaran tetap aman.






