Ngabuburit Unik, Ratusan Warga Belajar Filosofi Tari Sufi di Balai Kota Surabaya

Aktivitas ngabuburit sambil belajar tari sufi.(Istimewa)

Surabaya, HeadlineJatim.com – Halaman Balai Kota Surabaya berubah menjadi lautan ketenangan pada Selasa (4/3/2026) sore. Sedikitnya 300 warga dari berbagai kalangan berkumpul untuk mengikuti kegiatan “Ngabuburit Sambil Belajar Tari Sufi“, sebuah inovasi program Ramadan 1447 Hijriah yang digagas oleh Dinas Kebudayaan dan Kepemudaan (Disbudporapar) Kota Surabaya.

Read More

​Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIB ini tidak sekadar mengisi waktu menunggu berbuka puasa, tetapi juga menjadi ajang edukasi spiritual dan budaya. Para peserta nampak khidmat mengikuti arahan instruktur dari sanggar lokal, memutar tubuh dengan teknik pernapasan yang terjaga di bawah langit sore Surabaya.

Sentuhan Spiritual di Ruang Publik

​Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepemudaan Kota Surabaya, Arief Nugroho, menyatakan bahwa pemilihan tari sufi tahun ini bertujuan untuk memberikan pengalaman ngabuburit yang lebih mendalam secara batiniah sekaligus menyehatkan fisik.

​“Kami ingin mengajak warga merasakan ngabuburit yang bermanfaat secara budaya sekaligus fisik. Selain itu, kegiatan ini bertujuan memperkenalkan warisan seni tradisional dan nilai-nilai filosofisnya kepada generasi muda,” ujar Arief usai membuka acara secara resmi.

​Antusiasme warga tahun ini tercatat meningkat tajam. Berdasarkan laporan panitia, jumlah peserta naik sekitar 25% dibandingkan kegiatan serupa tahun lalu. Sebanyak 12 kelompok komunitas seni turut ambil bagian dalam pelatihan terbuka yang berlangsung selama dua jam ini.

Transformasi Program Budaya Ramadan

​Fenomena “Ngabuburit Budaya” di Surabaya sebenarnya telah menjadi tradisi sejak beberapa tahun terakhir. Pada Ramadan 2024, Pemkot Surabaya sukses menggelar Ramadan Vaganza di berbagai taman kota. Namun, tahun 2026 ini menandai langkah yang lebih spesifik dengan menghadirkan tari sufi secara terstruktur.

​Sebagai perbandingan, pada tahun 2025, kegiatan serupa hanya fokus pada pelatihan seni umum dan musik religi dengan skala peserta yang lebih kecil. Transformasi ini sejalan dengan tren nasional yang mendorong pemanfaatan ruang publik untuk kegiatan kreatif dan literasi seni berbasis komunitas.

​Guna memastikan kenyamanan peserta, pihak penyelenggara juga menyiagakan petugas kesehatan dan personel keamanan di sekitar lokasi. Acara berakhir dengan tertib sesaat sebelum azan Maghrib berkumandang, meninggalkan kesan mendalam bagi warga yang mencari alternatif aktivitas positif di bulan suci.

Related posts