Ilustrasi oleh tim grafis
Surabaya, HeadlineJatim.com– Memasuki keutamaan puasa Ramadan hari ke-14, umat Muslim kini berada di titik krusial fase kedua bulan suci, yaitu fase Maghfirah (pengampunan). Hari ke-14 menjadi momentum pengokohan batin sebelum memasuki fase puncak Ramadhan. Para ulama menekankan bahwa pada hari ini, intensitas ibadah harus tetap terjaga demi meraih ampunan Allah SWT secara sempurna.
Melansir dari portal resmi NU Online dalam artikel berjudul “Fadhilah Puasa Ramadhan Hari ke-1 hingga ke-30”, para ulama Nahdlatul Ulama mengacu pada kitab klasik Fadhâ’il Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah.
Keterangan dalam literatur tersebut menyebutkan bahwa keutamaan puasa Ramadhan hari ke-14 adalah Allah SWT memberikan ganjaran berupa kesucian hati dan kemudahan dalam segala urusan. Ulama NU berpesan agar di hari ke-14 ini, umat memperbanyak istighfar serta menjaga keharmonisan hubungan antar sesama sebagai wujud dari pembersihan diri seutuhnya.
Di sisi lain, mengutip dari laman Muhammadiyah.or.id melalui ulasan bertajuk “Ramadhan sebagai Madrasah Akhlak: Menuju Kesalehan Sosial”, tokoh-tokoh Muhammadiyah melihat hari ke-14 sebagai tahap pendewasaan karakter.
Muhammadiyah menekankan bahwa esensi puasa hari ke-14 adalah ujian istiqamah atau konsistensi. Pada tahap ini, puasa bukan lagi sekadar rutinitas fisik, melainkan pembuktian bahwa nilai-nilai kejujuran dan disiplin telah terinternalisasi dalam diri seorang Muslim, yang direfleksikan melalui amal saleh yang berkelanjutan.
Tuntunan Resmi Kementerian Agama (Kemenag) RI
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, MA, dalam artikel “Merawat Semangat Ibadah di Fase Maghfirah” yang dipublikasikan di situs resmi Kementerian Agama, memberikan arahan strategis.
Beliau menyampaikan bahwa hari ke-14 merupakan waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi ibadah selama dua pekan berjalan. Kemenag RI mengajak masyarakat untuk tidak mengendurkan kualitas tadarus Al-Qur’an dan sedekah. “Pintu pengampunan terbuka luas di hari-hari ini, maka tingkatkanlah kekhusyukan doa kita,” ungkap beliau dalam pesan edukatifnya.
Secara ilmiah, makna hari ke-14 didukung oleh studi dalam Journal of Islamic Medicine and Health berjudul “Physiological Adaptation and Psychological Stability in Mid-Ramadan”.
Jurnal tersebut memaparkan bahwa pada hari ke-14, tubuh manusia telah mencapai efisiensi metabolisme yang optimal. Secara medis, penurunan kadar peradangan dalam tubuh di pertengahan bulan ini berkorelasi langsung dengan stabilitas emosi yang lebih baik. Kondisi fisik yang seimbang ini sangat mendukung pencapaian kekhusyukan maksimal dalam menjalankan shalat malam dan zikir panjang.
Memahami keutamaan puasa Ramadan hari ke-14 memberikan motivasi bagi umat Muslim untuk terus konsisten. Dengan menyerap sinergi pandangan dari NU, Muhammadiyah, dan Kemenag RI, diharapkan setiap hamba dapat meraih berkah maksimal di fase pengampunan ini.






