Pesan Diam Mujahadah Kubro Satu Abad NU

Negara Hadir, Ulama Berdoa, Jamaah Menunggu Jawaban”

Malang, HeadlineJatim.com – Pagi itu, Minggu (8/2/2026) Stadion Gajayana tidak dipenuhi teriakan kemenangan atau sorak penonton. Yang terdengar justru desah doa yang berulang, pelan, dan panjang. Ribuan jamaah Nahdlatul Ulama duduk bersila, menunduk, menggerakkan tasbih, seolah sedang mengajarkan satu hal sederhana, tidak semua yang penting harus terdengar keras.

Read More

Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama digelar di ruang yang biasanya riuh. Dzikir, tahlil, shalawat, dan doa bersama mengalir sejak pagi, dipimpin para kiai dan ulama. Tradisi NU berjalan dengan ritmenya sendiri. Tenang, sabar, dan tidak tergesa mengejar hasil.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto hadir bersama para menteri Kabinet Merah Putih, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, pimpinan lembaga tinggi negara, Panglima TNI, dan Kapolri. Negara duduk rapi di antara lautan doa, mendengarkan, lalu berbicara.

Sambutan Presiden menekankan peran NU sebagai pilar bangsa yang menjaga persatuan dan kedamaian. Ia mengaku merasakan ketenangan berada di tengah keluarga besar NU, seraya mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus rukun dan bersatu demi kemakmuran bersama. Pidato itu singkat, tertata, dan mudah dicatat. Doa-doa berlangsung jauh lebih lama, namun tidak meminta dicatat.

Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh qari terbaik MTQ Nasional 2023, dilanjutkan laporan Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz. Para tokoh NU, mulai dari Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, hingga Sekjen PBNU Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), turut hadir bersama ribuan warga Nahdliyin se-Jawa Timur.

Di barisan jamaah, wajah-wajah datang tanpa jabatan. Mereka hadir sejak pagi, duduk lama, pulang tanpa sambutan. Mereka datang bukan untuk pidato, melainkan untuk satu keyakinan lama: bahwa doa adalah cara paling sunyi untuk menjaga bangsa.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, menyebut Mujahadah Kubro ini sebagai penguatan nilai keagamaan sekaligus kebangsaan.

“Nahdlatul Ulama telah berkontribusi besar dalam menjaga harmoni kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Mujahadah ini bukan hanya penguatan spiritual, tetapi juga komitmen kebangsaan untuk merawat persatuan dan kedamaian,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan posisi NU yang sejak awal tidak berdiri di satu sisi. NU berdoa untuk bangsa, tanpa harus berhadap-hadapan dengan negara. Ia memilih jalur yang lebih sunyi mengingatkan tanpa berteriak.

Namun justru di situlah ironi halus itu terasa. Doa tidak mengenal masa jabatan. Negara hidup di dalamnya. Jamaah menunggu hasil keduanya.

Mujahadah Kubro Satu Abad NU ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan kesejahteraan masyarakat. Stadion perlahan lengang. Pejabat kembali ke agenda kenegaraan.

Jamaah pulang ke rumah masing-masing, membawa harapan yang tidak selalu bisa dijadwalkan. Doa telah dipanjatkan. Negara telah hadir. Kini, yang ditunggu bukan lagi seremoni, melainkan jawaban. Dan seperti tradisi NU yang paling tua, jawaban itu dipercayakan datang dengan caranya sendiri. Pelan, tidak gaduh, tapi diharapkan benar-benar nyata.

Related posts