Kunjungan Kerja Dadakan Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq di Pasar Wonokromo Surabaya. (Foto: Hikmah Rizki)
Surabaya, Headlinejatim.com— Nilai Adipura Kota Surabaya boleh jadi nyaris sempurna di atas kertas. Namun ketika Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Hanif Faisol Nurofiq turun langsung ke lapangan, angka-angka itu mulai kehilangan kilaunya.
Dalam kunjungan kerja mendadak ke Surabaya, Minggu (8/2), Menteri LH menemukan jurang antara capaian administratif pengelolaan lingkungan dengan kondisi nyata di sejumlah wilayah kota, terutama kawasan pinggiran.
Surabaya memang masuk tiga besar daerah dengan nilai tertinggi dalam penilaian Adipura 2026. Bahkan, menurut Hanif, nilainya tergolong “terlalu tinggi”. Tapi justru di situlah persoalannya.
“Secara nilai Surabaya ini sangat tinggi. Bisa dibilang terlalu tinggi,” ujar Hanif di sela peninjauan di Pasar Wonokromo.
Pernyataan itu bukan pujian tanpa catatan. Hanif menegaskan, penilaian Adipura tahun ini dilakukan lebih ketat karena penghargaan tersebut sempat vakum cukup lama dan baru akan kembali dianugerahkan pada 2026. Pemerintah pusat tak lagi hanya mengandalkan laporan dan dokumen, tetapi turun langsung melihat kondisi di lapangan.
Hasilnya, wajah Surabaya tampak terbelah. Di satu sisi, jalan-jalan protokol tertata, praktik pengolahan sampah di sebagian permukiman sudah berjalan baik, dan sistem pengelolaan kota menunjukkan kemajuan signifikan. Namun di sisi lain, persoalan klasik masih mengendap di luar pusat kota.
“Sungainya belum terlalu bersahabat, selokan juga tidak baik-baik saja,” kata Hanif.
Di wilayah pinggiran Benowo, ia bahkan masih menemukan TPS liar, saluran air penuh sampah, serta kualitas lingkungan yang jauh dari standar kota berpredikat Adipura tinggi.
Temuan itu menegaskan satu hal: keberhasilan Surabaya dalam penilaian nasional belum sepenuhnya dirasakan merata oleh seluruh warganya.
“Sisi luar kota ini tidak bisa dihindari, karena itu juga masyarakat Surabaya,” ujarnya.
Hanif pun menyampaikan pesan langsung kepada Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi agar pembenahan pengelolaan sampah tidak berhenti di kawasan yang mudah terlihat publik.
“Harapan kami sederhana. Penanganan sampah ini didorong sampai ke pinggir-pinggir kota, bukan hanya jalan protokol,” tegasnya.
Menutup kunjungannya, Hanif kembali menyentil tingginya nilai Adipura Surabayakali ini dengan nada ringan, namun sarat makna.
“Surabaya ini kayaknya terlalu tinggi nilainya. Jadi memang perlu banyak koreksi,” ujarnya sambil tersenyum.
Di balik senyum itu, tersimpan pesan jelas: Adipura bukan soal angka, melainkan cermin keadilan lingkungan bagi seluruh warga kota.






