Sambutan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2020-2024) Sandiaga Uno (Foto: Hikmah Rizki)
Surabaya, HeadlineJatim.com — Ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja berkualitas menjadi sorotan utama dalam seminar Indonesia Darurat Pengusaha yang diselenggarakan Ruang Tumbuh Bisnis Akademik (RTBH), Sabtu (31/1), di Hotel Namira Surabaya.
Forum seminar nasional ini menegaskan pentingnya penguatan fondasi dan ekosistem kewirausahaan agar pengusaha yang lahir tidak hanya bertambah secara jumlah, tetapi juga mampu bertahan dan menciptakan nilai ekonomi jangka panjang.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh unsur pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Kehadiran lintas sektor itu mencerminkan kebutuhan kolaborasi dalam merespons persoalan kewirausahaan yang dinilai semakin mendesak.
Pertumbuhan ekonomi nasional yang relatif stabil belum sepenuhnya diiringi oleh penciptaan lapangan kerja berkualitas. Kondisi ini kembali menegaskan persoalan rendahnya kualitas dan struktur kewirausahaan di Indonesia, yang hingga kini masih didominasi sektor informal.
Para pemangku kepentingan dalam forum tersebut menilai penguatan ekosistem kewirausahaan menjadi agenda strategis, terutama menjelang 2026 yang diproyeksikan sebagai periode konsolidasi politik dan ekonomi nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia pada Triwulan III 2025 tumbuh sekitar 5 persen secara tahunan. Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya tercermin pada perbaikan struktur ketenagakerjaan. Tingkat Pengangguran Terbuka per Agustus 2025 masih berada di kisaran 4,8 persen, dengan sebagian besar tenaga kerja terserap di sektor informal, menunjukkan ketimpangan antara laju pertumbuhan ekonomi dan kualitas lapangan kerja yang tersedia.
Selaras dengan data diatas, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2020-2024) Sandiaga Uno mengatakan stabilitas politik nasional memberi ruang bagi pemerintah untuk lebih fokus menjaga dan memperkuat sektor ekonomi.
Namun, ia menekankan bahwa tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di tangan pemerintah.
“Karena politik kita pada 2026 sudah terkonsolidasi dan relatif stabil, maka yang harus dijaga adalah ekonominya. Peran pemerintah memfasilitasi, sedangkan peran pengusaha adalah berinvestasi,” kata Sandiaga.

Menurut dia, tantangan ekonomi ke depan menuntut perubahan cara pandang dalam mengelola usaha dan kebijakan. Ia mengajak pelaku usaha dan pemerintah untuk mengedepankan tiga strategi utama.
“Pada 2026 ini saya mengajak untuk melakukan tiga SI, yaitu pertama berinovasi, kedua adaptasi, dan ketiga kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.
Darurat Pengusaha dan Masalah Kualitas
Sandiaga menilai istilah “darurat pengusaha” tidak semata-mata merujuk pada jumlah wirausaha yang masih terbatas. Masalah yang lebih mendasar adalah kualitas pengusaha yang lahir dan daya tahannya dalam menciptakan lapangan kerja.
“Kata kuncinya adalah kemandirian. Saat ini ekonomi bertumbuh, tetapi ketersediaan lapangan kerja yang berkualitas tidak seiring. Banyak pengusaha yang lahir berasal dari sektor informal, sehingga ekosistem ekonomi harus diperkuat,” kata Sandiaga.
Ia menambahkan, penguatan ekosistem tersebut penting agar pengusaha tidak hanya bertambah secara kuantitas, tetapi juga memiliki fondasi bisnis yang kuat di sektor-sektor yang tepat.
“Tujuannya bukan hanya jumlah pengusaha, tetapi kualitasnya,” ujarnya.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menilai persoalan kewirausahaan di Indonesia juga terletak pada lemahnya ketahanan usaha. Menurut dia, dorongan untuk mencetak pengusaha baru kerap tidak diiringi dengan pembekalan yang memadai.
“Banyak yang bisa memulai usaha, tetapi tidak semua mampu bertahan dan bertumbuh. Tanpa ekosistem pembelajaran dan pendampingan, pengusaha akan berjalan sendiri dan mudah tumbang,” kata Eri.
Ia menilai penguatan kapasitas pengusaha, terutama generasi muda, harus dilakukan secara sistematis agar usaha yang dibangun mampu berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja.
RTBA dan Upaya Penguatan Fondasi Bisnis
Merespons kondisi tersebut, Yayasan Rintis Bisnis Nusantara meluncurkan Ruang Tumbuh Bisnis Akademi (RTBA) sebagai program pembelajaran dan pendampingan bisnis. Program ini menyasar pengusaha muda serta pelaku usaha yang telah berjalan, termasuk yang melanjutkan bisnis keluarga.
Ketua RTBH, Mustofa Bawazir, S.E., mengatakan RTBA dirancang untuk menjawab kekosongan ruang belajar yang terstruktur bagi pelaku usaha.
“Kami melihat banyak pengusaha muda memiliki potensi besar, tetapi proses belajarnya masih sporadis. RTBA kami rancang sebagai ruang pembelajaran yang sistematis, dari fundamental bisnis hingga membangun jejaring dan akses investor,” kata Mustofa.
Program RTBA akan mulai berjalan pada April 2026 dengan skema kelas semi privat. Setiap angkatan dibatasi maksimal 40 peserta guna menjaga efektivitas pendampingan.
Selain kelas fundamental bisnis, RTBA juga menyiapkan Investor Forum dan Club Eksekutif sebagai ruang diskusi dan penguatan jejaring antar pengusaha.
Menurut Ketua RTBH, target utama RTBA bukan sekadar mencetak pengusaha baru, melainkan memperkuat kualitas kewirausahaan nasional dalam jangka panjang.
“Dalam lima tahun ke depan, kami ingin berkontribusi melahirkan pengusaha yang bisnisnya sehat, berkelanjutan, dan mampu memberi dampak ekonomi yang nyata,” ujarnya.






