Foto ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI)
Surabaya, HeadlineJatim.com – Jika kita menelusuri menu harian masyarakat Indonesia, nama-nama seperti Bakso, Bakwan, Bakmoy, hingga Bakcang pasti sudah tidak asing lagi. Namun, tahukah Anda bahwa secara etimologi, suku kata “Bak” berasal dari dialek Hokkien yang berarti daging babi?
Perjalanan “Bak” dari hidangan etnis Tionghoa menjadi makanan nasional yang halal di Indonesia merupakan salah satu contoh akulturasi budaya paling sukses di dunia kuliner. Fenomena ini membuktikan bagaimana tradisi bisa beradaptasi dengan kearifan lokal tanpa kehilangan identitasnya.
Etimologi dan Akar Tradisi: Arti Kata Bak
Dalam bahasa Hokkien, Bak (肉) merujuk pada daging secara umum. Namun, di tanah asalnya, kata ini secara spesifik diasosiasikan dengan daging babi karena merupakan sumber protein utama masyarakat Tiongkok kala itu. Saat para imigran dari Fujian dan sekitarnya tiba di Nusantara berabad-abad silam, mereka membawa teknik memasak yang kemudian berbaur dengan kearifan lokal.
Aji Chen Bromokusumo, pakar kuliner dalam bukunya Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara, menjelaskan bahwa dalam dialek Hokkien, kata Bak (肉) secara harfiah berarti daging. Karena babi adalah protein standar bagi masyarakat Tionghoa di masa lalu, kata tersebut secara otomatis melekat pada daging babi.
Transformasi “Bak” Menjadi Hidangan Halal
Transformasi “Bak” menjadi halal terjadi secara alami melalui proses adaptasi yang panjang. Sebagai contoh, asal-usul Bakso berasal dari kata Bak-So yang berarti bola daging babi. Begitu juga dengan Bak-Wan (bola daging), serta Bak-Cang yang berasal dari kata Bah-Tsàng.
Secara harfiah, pada Bakcang, Bak adalah daging dan Cang adalah berisi, sehingga artinya adalah penganan yang berisi daging. Setidaknya ada tiga faktor utama yang mendorong perubahan ini di Indonesia:
- Demografi dan Agama: Mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, para pedagang Tionghoa mulai mengganti daging babi dengan daging sapi, ayam, atau ikan agar dapat dinikmati khalayak luas.
- Kreativitas Lokal: Di tangan masyarakat lokal, Bakwan yang aslinya bola daging berubah menjadi gorengan tepung berisi sayuran yang kini menjadi camilan wajib.
- Ketersediaan Bahan: Penggunaan rempah-rempah lokal dan kecap manis khas Jawa memberikan cita rasa baru yang berbeda dari versi aslinya di daratan Tiongkok.
Menu “Bak” yang Kini Menjadi “Indonesia Banget”
Kini, hidangan berawalan “Bak” telah kehilangan konotasi lama bagi konsumen Muslim dan justru menjadi identitas kuliner nasional. Berikut adalah beberapa variasinya:
- Bakso: Kini identik dengan kota Wonogiri, Solo serta Malang, mayoritas menggunakan 100% daging sapi.
- Bakcang: Di berbagai daerah, kini banyak dijual versi isi ayam atau sapi yang dibungkus daun bambu maupun daun pisang.
- Bakwan: Peneliti kuliner Agni Malagina dari Universitas Indonesia, melalui artikelnya di National Geographic, mencatat bahwa bakwan telah mengalami pergeseran makna dari “bola daging kecil” menjadi gorengan sayur dan tepung (bala-bala).
- Bakmoy: Merupakan perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa (khususnya Semarang dan Yogyakarta) yang mengganti babi dengan ayam dan tahu, serta diperkaya dengan kecap manis.
Simbol Toleransi di Atas Piring
Fenomena “Bak” yang menjadi halal ini membuktikan betapa cairnya budaya di Indonesia. Makanan menjadi jembatan diplomasi yang damai antar etnis. Masyarakat tidak lagi melihat “Bak” sebagai identitas kelompok tertentu, melainkan sebagai bagian dari kekayaan kuliner nasional.
Perubahan makna “Bak” dari daging babi menjadi istilah umum untuk olahan daging (sapi/ayam) membuktikan bahwa kuliner adalah bahasa universal yang mampu menciptakan harmoni dalam setiap suapannya.






