Foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI).
Surabaya, Headlinejatimm – Kuliner Indonesia tersohor akan kekayaan rempah dan cita rasa yang menggugah selera. Namun, di balik kelezatan rendang atau sate, tersimpan deretan hidangan yang bagi lidah modern dianggap ekstrem atau tidak lazim.
Menariknya, kuliner “aneh” ini bukan sekadar sensasi. Ada pergeseran makna yang mendalam, mulai dari logika bertahan hidup (survival) masyarakat agraris hingga bertransformasi menjadi komoditas viral di era digital.
Filosofi Dapur Lama: Makan untuk Bertahan Hidup
Dahulu, lahirnya kuliner unik di berbagai daerah didasari oleh prinsip efisiensi pangan. Di wilayah Jawa, rempeyek laron menjadi lauk musiman yang lazim saat musim penghujan tiba. Masyarakat memanfaatkan laron sebagai sumber protein tambahan yang disediakan alam secara gratis.
Tak hanya laron, botok tawon (olahan larva lebah) juga menjadi bukti kearifan lokal. Bagi masyarakat pedesaan, sarang lebah bukan hanya diambil madunya, tetapi seluruh bagiannya diolah agar tidak ada bahan pangan yang terbuang sia-sia.
Sementara itu, di Bali, lawar merah yang menggunakan campuran darah segar memiliki dimensi spiritual. Hidangan ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol keseimbangan energi dalam ritual adat. Di Sulawesi Utara, paniki (olahan kelelawar) juga lahir dari kedekatan masyarakat dengan ekosistem hutan.
Fermentasi dan Solusi Limbah Pangan
Keunikan kuliner Nusantara juga terpancar dari teknik pengolahannya. Sambal tumpang adalah contoh nyata bagaimana “limbah” diubah menjadi berkah. Menggunakan tempe semangit (tempe yang hampir busuk), masyarakat menciptakan sambal dengan aroma dan rasa yang khas.
Praktik ini membuktikan bahwa jauh sebelum isu food waste (pemborosan makanan) menjadi perhatian dunia, dapur tradisional Indonesia sudah menerapkan prinsip keberlanjutan.
Pergeseran Makna di Era Viral: Dari Gizi ke Sensasi
Memasuki era media sosial, definisi “aneh” dalam kuliner mengalami pergeseran fungsi. Jika dulu makanan ekstrem diciptakan untuk memenuhi kebutuhan gizi, kini keunikan diciptakan untuk memburu atensi.
Fenomena mie setan, mie neraka, hingga ayam geprek dengan level pedas yang menyiksa lidah, hadir sebagai strategi pemasaran. Begitu pula dengan bakso beranak atau minuman dengan nama horor seperti es kuntilanak.
Secara rasa, menu-menu ini mungkin tidak asing bagi lidah, namun penamaan dan visualnya dirancang khusus agar shareable di platform digital. Keanehan kini menjadi bagian dari pengalaman hiburan (entertainment) dan identitas ekonomi kreatif.
Refleksi Budaya Makan yang Terus Beradaptasi
Perbandingan antara kuliner masa lalu dan masa kini menunjukkan betapa dinamisnya budaya makan kita. Dapur yang dulunya menjadi ruang bertahan hidup, kini bertransformasi menjadi ruang ekspresi dan kompetisi kreativitas.
Benang merahnya tetap sama: kuliner adalah cermin adaptasi manusia terhadap zamannya. Baik itu laron maupun mie neraka, keduanya adalah cara masyarakat memaknai ketersediaan sumber daya dan teknologi pada masanya.
Kuliner aneh Nusantara mengajarkan bahwa makanan bukan hanya soal rasa di ujung lidah. Ia adalah rekaman sejarah dan budaya. Apa yang hari ini dianggap ekstrem bisa jadi adalah solusi paling masuk akal di masa lalu, dan apa yang hari ini viral mungkin akan menjadi catatan kaki bagi generasi mendatang.






