Foto Ilustrasi dibuat menggunakan Dola AI
Surabaya, HeadlineJatim.com – Jawa Timur menempati posisi unik dalam peta transisi energi nasional. Hampir seluruh jenis utama Energi Baru Terbarukan (EBT) Indonesia—surya, angin, air, panas bumi, hingga energi laut, tersedia dalam satu provinsi. Kombinasi ini menjadikan Jawa Timur bukan sekadar wilayah potensial, tetapi ruang uji nyata bagi masa depan sistem kelistrikan Indonesia.
Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Kementerian ESDM, total potensi teknis EBT Jawa Timur diperkirakan berada di kisaran ±29 gigawatt (GW). Namun hingga kini, porsi yang termanfaatkan masih relatif kecil, mencerminkan tantangan klasik transisi energi: kesiapan sistem, teknologi, regulasi, dan penerimaan sosial.
Energi Surya: Potensi Terbesar, Regulasi Jadi Tantangan
Energi surya merupakan sumber EBT terbesar di Jawa Timur dengan potensi teknis sekitar 13–14 GW.
Wilayah Tapal Kuda (Probolinggo, Situbondo, Bondowoso), Pantura Jawa Timur (Tuban, Lamongan, Gresik), serta Pulau Madura memiliki tingkat radiasi matahari yang relatif stabil. Hingga 2023, pemanfaatannya masih didominasi PLTS atap industri, PLTS komunal desa, dan proyek percontohan skala terapung.
Namun, menurut Guru Besar Departemen Teknik Lingkungan ITS Surabaya, Prof. Ir. Eddy Setiadi Soedjono, Dipl.SE., M.Sc., Ph.D., potensi besar tersebut belum sepenuhnya diiringi keberpihakan kebijakan.
“Di negara tropis dengan matahari melimpah, mestinya energi surya menjadi prioritas utama. Tetapi dalam praktiknya, pemasangan panel surya justru sering terkendala perizinan,” ujarnya dalam wawancara dengan jurnalis HeadlineJatim, Jumat (16/1).
Ia menilai masyarakat yang berinvestasi pada panel surya seharusnya diposisikan sebagai bagian dari solusi krisis iklim.
“Pembeli panel surya seharusnya dipandang sebagai pahlawan lingkungan, bukan malah dipersulit,” tegas Prof. Eddy.
Energi Angin: Narasi Lama yang Perlu Dikoreksi
Potensi energi angin Jawa Timur diperkirakan sekitar 6–7 GW, terutama di wilayah selatan yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.
Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, dan Blitar Selatan memiliki pola angin musiman yang relatif konsisten. Namun kecepatan angin tergolong menengah, sehingga pengembangannya sangat bergantung pada teknologi turbin dan pemilihan lokasi.
Prof. Eddy menilai keraguan terhadap angin Indonesia lebih banyak dipengaruhi narasi eksternal.
“Kita terlalu lama diyakinkan bahwa angin di Indonesia tidak potensial. Padahal jika tenaga angin dimanfaatkan, ketergantungan energi bisa berkurang dan kemandirian kita meningkat,” katanya.
Gas Alam dan Kritik terhadao Barubara
Dalam konteks transisi, Prof. Eddy juga menyinggung peran gas alam sebagai energi peralihan.
“Untuk gas alam, saya sependapat dengan pemerintah bahwa pada 2035 Indonesia bisa berada pada posisi sangat kuat, bahkan mengungguli Amerika Serikat dalam hal kemandirian energi,” ujarnya.
Sebaliknya, ia mengkritik ketergantungan yang masih tinggi terhadap batubara, terutama di kawasan tropis.
“Batubara jelas menjadi penyumbang utama pemanasan global. Di wilayah tropis yang kaya matahari, penggunaan batubara seharusnya dipertanyakan,” tegasnya.
Menurut Prof. Eddy, arah kebijakan energi nasional selama ini belum sepenuhnya berpihak pada kemandirian.
Energi Air dan Panas Bumi: Penopang Sistem
Energi air menjadi EBT paling mapan di Jawa Timur dengan potensi sekitar 4–5 GW. Sungai Brantas dan Bengawan Solo menopang PLTA besar, sementara PLTMH dikembangkan di wilayah pegunungan seperti Lumajang, Jember, dan Trenggalek.
Sementara itu, potensi panas bumi sekitar 1–1,5 GW tersebar di kawasan Ijen, Arjuno–Welirang, Gunung Wilis, dan sebagian Gunung Lawu. Panas bumi diposisikan sebagai baseload hijau, meski pengembangannya masih terkendala risiko eksplorasi dan investasi.
Energi Laut: Potensi Besar, Masih Tahap Awal
Energi laut di Jawa Timur diperkirakan memiliki potensi 1–1,2 GW, terutama di pesisir selatan Pacitan hingga Blitar Selatan serta Selat Bali. Hingga kini, pengembangannya masih berada pada tahap riset dan proyek percontohan.
Peran PLN: Menyiapkan Sistem dan Pemahaman
PLN UID Jawa Timur menilai bahwa tantangan transisi energi tidak berhenti pada pembangunan pembangkit.
Melalui Virtual Reality (VR), masyarakat diperkenalkan pada konsep EBT secara visual. Sementara EDU-SCADA disiapkan sebagai sarana pembelajaran pengendalian sistem kelistrikan modern.
“Transisi energi tidak cukup hanya membangun pembangkit. Yang jauh lebih penting adalah kesiapan sosial dan pemahaman masyarakat. EDU-SCADA kami siapkan agar energi hijau yang fluktuatif tetap bisa dioperasikan secara andal.” tegas General Manager PLN UID Jawa Timur, Ahmad Mustaqir (15/1)
Ketika Edukasi dan Sistem Menjadi Kunci
Potensi besar itu tak akan berarti tanpa kesiapan manusia dan sistem. Di sinilah pendekatan PLN UID Jawa Timur menjadi berbeda.
Melalui Virtual Reality (VR), masyarakat pesisir diajak memahami energi hijau secara visual dan kontekstual. Sementara EDU-SCADA disiapkan sebagai ruang pembelajaran sistem kelistrikan modern—tempat operator, mahasiswa, dan peneliti belajar mengendalikan EBT yang fluktuatif agar tetap andal.
“Transisi energi tidak cukup hanya membangun pembangkit,” kata Ahmad Mustaqir, General Manager PLN UID Jawa Timur.
“Yang paling penting adalah memastikan masyarakat paham dan sistem siap. EDU-SCADA menyiapkan SDM dan pengendalian agar energi hijau benar-benar bisa diandalkan.” tambahnya.
Laboratorium Energi Hijau Indonesia
Dengan kelengkapan sumber daya, pendekatan edukasi berbasis teknologi, serta kolaborasi lintas instansi bersama Pemprov Jawa Timur dan perguruan tinggi, Jawa Timur bukan lagi sekadar konsumen energi hijau. Ia tengah tumbuh sebagai laboratorium energi hijau Indonesia, tempat masa depan listrik diuji, disempurnakan, dan dipelajari bersama.
Di provinsi ini Jawa Timur, matahari, angin, air, panas bumi, dan ombak tidak berjalan sendiri. Mereka dipadukan dalam satu visi: energi yang bersih, adil, dan berkelanjutan.






