Dari Ombak dan Angin ke kemandirian Energi: Virtual Reality sebagai Pintu Masuk Masa Depan Listrik Indonesia

Ilustrasi foto dibuat oleh Dola AI

Surabaya, HeadlineJatim.com – Indonesia memiliki sumber energi terbarukan melimpah, namun pemanfaatannya masih jauh dari optimal. Di tengah tantangan tersebut, teknologi virtual reality (VR) mulai digunakan sebagai alat edukasi dan perencanaan untuk mendorong transisi menuju kemandirian energi, khususnya di wilayah pesisir.

Read More

Data Kementerian ESDM dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) mencatat potensi energi terbarukan Indonesia mencapai lebih dari 3.600 GW, sementara kapasitas terpasang hingga 2023 masih di bawah 15 GW. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa persoalan energi nasional bukan terletak pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada strategi pemanfaatan dan penerimaan sosial.

Membongkar Keraguan terhadap Energi Ombak & Angin

Guru Besar Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Ir. Eddy Setiadi Soedjono, Dipl.SE., M.Sc., Ph.D., menilai bahwa keraguan terhadap potensi angin di Indonesia lebih banyak dibentuk oleh narasi lama ketimbang kajian teknologi mutakhir.

“Selama ini kita sering menerima anggapan bahwa angin di Indonesia tidak potensial. Padahal, dengan teknologi yang tepat, tenaga angin justru bisa menjadi penopang kemandirian energi,” ujarnya saat wawancarta dengan jurnalis HeadlineJatim, Jumat (16/1).

Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki kemampuan membangun pembangkit listrik mandiri dari sumber daya alam sendiri, termasuk gas alam, tanpa ketergantungan berlebihan pada teknologi asing.

“Saya sependapat dengan arah kebijakan pemerintah bahwa pada 2035 Indonesia bisa berada pada posisi yang sangat kuat dalam kemandirian energi,” tambahnya.

Ahmad Mustaqir, General Manager PLN UID Jawa Timur

Peran Strategis PLN: Edukasi Energi di Wilayah Pesisir

Sebagai operator kelistrikan nasional, PLN UID Jawa Timur mengembangkan program edukasi transisi energi berbasis VR di wilayah pesisir. Namun implementasinya masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan perangkat, lemahnya konektivitas internet, dan bahasa teknis yang sulit dipahami.

Sebagai respons, PLN menghadirkan booth VR keliling, versi aplikasi offline, serta panduan yang lebih sederhana, termasuk rencana penggunaan bahasa daerah.

“Transisi energi tidak cukup hanya berbicara soal teknologi. Yang lebih penting adalah kesiapan sosial dan pemahaman masyarakat,” kata Ahmad Mustaqir, General Manager PLN UID Jawa Timur.

Suara Pesisir: nelayan dan Harapan atas Inovasi

Respons positif juga datang dari masyarakat pesisir. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Kabupaten Probolinggo, Budi, menyatakan bahwa nelayan pada prinsipnya terbuka terhadap inovasi baru, selama membawa manfaat nyata.

“Kami sangat menerima inovasi baru, dan tentu ini sangat membantu serta bermanfaat bagi kami para nelayan,” ujarnya dalam wawancara dengan jurnalis HeadlineJatim, Jumat (16/1).

Ia berharap pengembangan energi laut tidak berhenti pada penyediaan listrik, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan dan keberlanjutan ekonomi pesisir.

Ombak, Energi, dan Masa Depan yang Diperebutkan

Pendekatan Virtual Reality memberi sinyal bahwa transisi energi hijau tidak selalu harus dimulai dari infrastruktur besar. Ia bisa dimulai dari hal yang paling mendasar, pengetahuan yang adil dan bisa diakses semua orang.

Di pesisir Jawa Timur, ombak kini tak lagi sekadar penanda cuaca. Ia perlahan berubah menjadi simbol kemungkinan: bahwa energi masa depan mungkin lahir dari gelombang yang selama ini hanya dilihat, bukan dipahami, hingga akhirnya, mulai digenggam bersama.

 

Related posts