Ilustrasi foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI).
Surabaya, Headlinejatim.com – Lanskap industri musik di tahun 2026 mengalami pergeseran paradigma yang cukup signifikan. Generasi Z (Gen Z), yang selama ini dikenal sebagai “digital native”, justru mulai menunjukkan tren unik yang memadukan kecanggihan teknologi masa depan dengan kerinduan akan masa lalu (nostalgia).
Berdasarkan data tren musik terbaru, berikut adalah tiga poin utama yang mendominasi preferensi musik Gen Z di tahun ini:
1. Fenomena “Analog Back”: Rilisan Fisik Jadi Identitas
Meski layanan streaming seperti Spotify dan YouTube Music tetap menjadi sumber utama, laporan dari CXO Media menyebutkan sekitar 61% anak muda kini mulai berburu rilisan fisik seperti piringan hitam (vinyl) dan kaset pita. Bagi mereka, memegang album fisik bukan sekadar soal kualitas audio, melainkan bentuk jeda dari kelelahan digital (digital fatigue) dan pengukuhan identitas diri yang tidak bisa diberikan oleh algoritma.
2. Dominasi Genre Hibrida dan Efek AI
Tahun 2026 menandai matangnya penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam produksi musik. Mengutip laporan RRI, batas antar genre kini semakin kabur. Muncul fenomena “Genre Fluidity” di mana musik pop, hip-hop, hingga metal melebur menjadi satu. Tren seperti PluggnB dan Afrofuturism kian populer berkat algoritma TikTok yang mampu memviralkan potongan lagu dalam hitungan jam.
3. Musik sebagai Penggerak Ekonomi dan Perjalanan
Musik tidak lagi hanya didengarkan di kamar. Survei terbaru menunjukkan bahwa 62% Gen Z berencana melakukan perjalanan wisata berbasis musik atau “Music-led trips” di tahun 2026. Konser internasional dan festival musik lokal menjadi magnet utama yang menggerakkan sektor pariwisata. Mereka tidak ragu menabung demi pengalaman langsung (live experience) yang dianggap lebih otentik daripada menonton melalui layar ponsel.
Suasana Hati (Mood) di Atas Segalanya
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang setia pada satu genre tertentu, Gen Z adalah kurator berdasarkan suasana hati. Data GoodStats menunjukkan bahwa 74% Gen Z melakukan streaming musik pada senja dan malam hari dengan daftar putar (playlist) yang disesuaikan dengan emosi mereka saat itu, mulai dari lagu “galau” yang sinematik hingga musik bertempo cepat untuk produktivitas.
Industri musik Indonesia sendiri kini menempati posisi 10 besar pasar musik global, dengan Gen Z sebagai motor penggerak utamanya. Fleksibilitas dan keterbukaan mereka terhadap suara baru membuat musisi independen memiliki peluang yang sama besarnya dengan musisi label besar untuk mendunia.
Sumber :
- CXO Media (Januari 2026): Saat Musik Tak Lagi Cukup Didengar: Rilisan Fisik sebagai Identitas Baru Generasi Z.
- RRI (Desember 2025): Tren Gaya Musik Anak Muda Tahun 2026.
- GoodStats (Januari 2026): Preferensi Streaming Musik Gen Z 2026.
- Airbnb Survey (Januari 2026): Music-led Travel Trends in 2026.






