GRESIK, HeadlineJatim.com – Jawa Timur kembali mengukuhkan posisinya sebagai pionir dalam pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia. Melalui inisiasi Gubernur Khofifah Indar Parawansa, proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) kini resmi memasuki babak baru dengan tercapainya target ambisius pasokan bahan baku minimal 1.000 ton sampah per hari.
Langkah strategis ini mendapat apresiasi dari Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama. Perempuan yang akrab disapa Ning Lia ini menilai bahwa keberhasilan mengonsolidasikan tujuh kepala daerah di kawasan Surabaya Raya dan Malang Raya adalah bukti nyata kepemimpinan Khofifah yang progresif dan solutif.
Lia Istifhama menyoroti ketepatan langkah Pemprov Jatim dalam menyelaraskan kebijakan daerah dengan Peraturan Presiden Nomor 105 Tahun 2025. Regulasi tersebut mensyaratkan operasional PSEL membutuhkan minimal 1.000 ton sampah harian agar dapat berjalan optimal secara ekonomi dan teknologi.
“Ibu Gubernur Khofifah menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin yang tidak hanya punya ide, tapi mampu mengeksekusi regulasi pusat menjadi aksi daerah yang konkret. Dengan tercapainya target 1.000 ton lebih di dua titik utama (Surabaya dan Malang), Jatim telah menjawab tantangan ketahanan energi sekaligus masalah lingkungan secara bersamaan,” ujar Lia saat ditemui di Surabaya.
Data menunjukkan bahwa skema kolaborasi ini telah mengamankan pasokan sampah yang melimpah. Kawasan Surabaya Raya (Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Lamongan) berhasil mengumpulkan sekitar 1.100 ton sampah per hari.
Sementara itu, kawasan Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu) mencatatkan angka yang lebih besar, yakni 1.138,9 ton per hari.
Menurut Lia, sinergi ini adalah kunci.
“Keterbatasan lahan atau volume sampah di satu daerah bukan lagi penghambat. Melalui kolaborasi ini, sampah yang dulunya dianggap beban sosial dan lingkungan, kini bertransformasi menjadi aset bernilai tinggi untuk membangkitkan listrik,” imbuhnya.
Bukan tanpa alasan Lia memberikan pujian. Catatan prestasi Jawa Timur dalam pengelolaan sampah selama ini memang di atas rata-rata. Saat ini, capaian pengelolaan sampah Jatim berada di angka 52,7 persen, angka yang sangat kontras jika dibandingkan dengan rata-rata nasional yang masih berada di kisaran 24,95 persen.
“PSEL ini akan menjadi legacy yang luar biasa. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi soal mengubah kultur. Jawa Timur sudah berada di jalur yang sangat tepat untuk menjadi role model nasional dalam implementasi green energy berbasis komunitas dan daerah,” tegas Senator energik ini.
Menutup narasinya, Lia Istifhama menekankan pentingnya akuntabilitas dan keberlanjutan dalam proyek ini. Ia optimistis bahwa di bawah pengawasan yang transparan, PSEL akan memberikan dampak ekonomi sirkular bagi masyarakat sekitar lokasi pembangunan, baik di Sumberejo (Surabaya) maupun Bunut Wetan (Malang).
“Apa yang dilakukan Ibu Khofifah hari ini adalah investasi untuk generasi mendatang. Kita sedang mewariskan lingkungan yang lebih bersih dan sistem energi yang lebih mandiri bagi anak cucu kita,” pungkasnya.






