Khofifah Kumpulkan Kepala Daerah se-Jatim, Siapkan Strategi Hadapi Dampak Geopolitik Global

SURABAYA, HeadlineJatim.com – Ketegangan geopolitik global yang kian memanas bukan lagi isu jauh di luar negeri. Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai menyalakan alarm kewaspadaan. Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengumpulkan seluruh bupati dan wali kota se-Jatim dalam satu forum strategis di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.

Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi Lebaran. Ada pesan kuat yang ingin ditegaskan: Jawa Timur harus bersiap menghadapi dampak nyata konflik global, khususnya ketegangan Amerika–Israel dengan Iran yang mulai mengganggu stabilitas energi, pangan, hingga logistik dunia.

Read More

Dipandu langsung Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, forum ini menjadi ruang “darurat kebijakan” yang mempertemukan kepala daerah dengan ekonom, Bank Indonesia, hingga pemerintah pusat.

Dalam forum tersebut, Khofifah secara tegas menyebut bahwa dampak konflik global sudah berada di depan mata.

Lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga tekanan inflasi disebut sebagai efek domino yang tidak bisa dihindari. Artinya, daerah tidak lagi bisa menunggu kebijakan pusat respons cepat harus dimulai dari level provinsi hingga kabupaten/kota.

“Ini bukan sekadar isu global. Ini risiko nyata yang harus kita antisipasi bersama,” tegas Khofifah.

Di tengah ancaman itu, Jawa Timur memang bukan daerah lemah. Dengan kontribusi 14,40 persen terhadap ekonomi nasional dan PDRB tembus Rp3.403 triliun, provinsi ini adalah salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia.

Namun justru karena perannya besar, dampaknya bisa terasa lebih cepat jika tidak diantisipasi.

Ekonom Universitas Airlangga Gigih Prihantoro dalam diskusi tersebut menyoroti bahwa sektor unggulan Jatim sangat sensitif terhadap gejolak global, terutama yang berkaitan dengan logistik dan perdagangan.

Salah satu fokus utama yang dibahas adalah ketahanan pangan. Jawa Timur yang selama ini dikenal sebagai lumbung beras nasional diminta tidak lengah.

Cadangan beras pemerintah yang tertinggi secara nasional menjadi kekuatan, namun distribusi dan stabilitas harga tetap jadi kunci.

Pemprov pun mengandalkan berbagai strategi, mulai dari operasi pasar hingga penguatan distribusi melalui program Jatim Agro-Hub.

Pesan Khofifah jelas: krisis pangan bukan untuk ditakuti, tapi harus dikelola agar justru menjadi peluang memperkuat posisi Jatim sebagai penyangga nasional.

Di sektor energi, kondisi Jawa Timur saat ini masih tergolong aman. Stok BBM dan LPG dipastikan cukup, termasuk selama momentum Lebaran.

Namun, pemerintah tidak menutup mata terhadap fluktuasi harga global yang bisa berubah cepat.

Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, pengembangan energi baru terbarukan (EBT) terus dipercepat. Hingga kini, kapasitas EBT Jatim sudah menembus 709,13 MW dari berbagai sumber.

Strategi “Hemat” Mulai Dijalankan

Menariknya, dampak geopolitik ini juga mulai merembet ke kebijakan internal pemerintah.

Efisiensi anggaran jadi salah satu langkah konkret, termasuk penerapan Work From Home (WFH), pembatasan perjalanan dinas, hingga optimalisasi rapat daring.

Langkah ini bukan hanya soal penghematan, tapi juga bagian dari strategi menjaga stabilitas fiskal daerah di tengah ketidakpastian global.

Di tengah kekhawatiran masyarakat, Khofifah juga mengirim pesan penting: tidak perlu panik.

Pemerintah menjamin ketersediaan energi dan pangan tetap terkendali. Panic buying justru berpotensi memperburuk situasi.

Sementara itu, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso yang hadir secara daring menegaskan bahwa struktur ekonomi Indonesia yang ditopang konsumsi domestik—masih cukup kuat menahan guncangan global.

Namun ia mengingatkan adanya masalah struktural jangka panjang yang belum terselesaikan dan bisa menghambat investasi.

Dari seluruh diskusi, satu benang merah menguat: Jawa Timur tidak boleh hanya reaktif terhadap krisis global.

Daerah harus mulai membangun sistem yang adaptif, terintegrasi, dan mampu membaca peluang di tengah tekanan.

Khofifah pun menutup forum dengan pesan yang cukup tegas, bahwa kekuatan utama Jawa Timur bukan hanya pada sumber daya, tetapi pada sinergi.

Jika solid, Jatim tidak hanya akan bertahan dari badai geopolitik, tapi justru bisa keluar sebagai pemenang di tengah krisis global.

Related posts