Kekuatan Digital yang Menghangatkan Desa Beku: Kisah Wang Fuman
LUDIAN, YUNNAN, Headlinejatim.com -Pagi itu suhu di Desa Zhuanshanbao, wilayah pegunungan di Ludian County, Provinsi Yunnan, turun hingga sekitar minus 9 derajat Celsius.
Di udara sedingin itu, seorang murid kelas tiga berusia delapan tahun berjalan kaki sejauh kurang lebih 4,5 kilometer menuju sekolahnya di Zhuanshanbao Primary School.
Namanya Wang Fuman. Ketika ia memasuki ruang kelas, rambutnya telah memutih oleh kristal es. Alis dan bulu matanya membeku. Pipinya memerah. Tangannya pecah-pecah akibat suhu ekstrem. Teman-temannya tertawa kecil melihat penampilannya.
Namun pagi itu ia tidak datang untuk diperhatikan. Ia datang untuk mengikuti ujian akhir semester, beberapa jam kemudian, hasilnya diumumkan, nilai matematika 99 dari 100.
Di situlah kisahnya mulai melampaui ruang kelas kecil di desa pegunungan tersebut, foto yang menyebar lebih cepat dari embun pagi
Momen itu diabadikan oleh kepala sekolahnya, Fu Heng. Ia mengunggah foto tersebut ke media sosial untuk menunjukkan kondisi nyata murid-muridnya yang harus berjalan jauh dalam cuaca ekstrem.
Unggahan itu menyebar cepat. Media nasional seperti Xinhua News Agency dan People’s Daily memberitakannya. Tak lama kemudian, media internasional seperti BBC News dan The New York Times turut mengangkat kisah tersebut.
Julukan “Frost Boy” pun melekat, namun yang membuat publik berhenti sejenak bukan hanya rambut yang membeku itu. Fakta bahwa ia tetap mengikuti ujian dan meraih nilai hampir sempurna menjadi bagian yang paling banyak dikutip.
Dalam wawancara yang dilaporkan media Tiongkok, Wang Fuman mengatakan bahwa ia sudah terbiasa berjalan jauh ke sekolah. Ketika ditanya tentang cita-citanya, jawabannya singkat.
“Saya ingin menjadi polisi.” Ujarnya sangat yakin ingin membantu orang lain ketika dewasa.
Sebuah Potret yang Lebih Besar dari Satu Anak
Sebelum fotonya dikenal luas, kehidupan Wang Fuman mencerminkan realitas yang dihadapi banyak anak pedesaan di Tiongkok.
Ia tinggal bersama nenek dan kakak perempuannya di rumah sederhana berbahan tanah. Ayahnya, Wang Gangkui, bekerja sebagai buruh migran di luar daerah. Ibunya saat itu tidak tinggal bersama keluarga.
Situasi tersebut sejalan dengan fenomena left-behind children. Anak-anak yang ditinggalkan orang tua bekerja di kota demi penghasilan. Pada periode itu, jumlahnya mencapai puluhan juta menurut data pemerintah sebelumnya.
Setiap hari, perjalanan panjang menuju sekolah adalah rutinitas. Fasilitas sekolah terbatas. Ruang kelas tidak memiliki pemanas memadai, foto yang viral itu membuat kondisi tersebut terlihat secara nasional.
Perubahan yang Datang Setelah Perhatian Publik
Setelah kisahnya menyebar, perhatian publik diikuti langkah konkret.
Pemerintah daerah membantu membangun rumah baru bagi keluarganya. Rumah tersebut lebih layak dan berlokasi lebih dekat ke sekolah, sehingga ia tidak lagi harus menempuh perjalanan sejauh 4–5 kilometer setiap hari.
Perubahan itu dilaporkan media nasional, termasuk Xinhua News Agency.
Pada saat yang sama, Zhuanshanbao Primary School menerima donasi dan renovasi. Ruang kelas diperbaiki, fasilitas pemanas dipasang, asrama dibangun, dan infrastruktur ditingkatkan. Dampaknya dirasakan seluruh murid, bukan hanya Wang Fuman.
Perubahan juga terjadi di lingkup keluarga. Laporan tindak lanjut media pada 2018–2019 menyebutkan bahwa ayahnya memperoleh pekerjaan yang lebih stabil dan ibunya kembali tinggal bersama keluarga. Mereka kembali berada dalam satu rumah.
Tidak ada kisah dramatis yang dilaporkan. Yang tercatat adalah perubahan kondisi hidup yang lebih stabil.
Kesempatan yang Membuka Cakrawala
Perhatian nasional itu juga membawa pengalaman baru bagi Wang Fuman.
Ia diundang ke Beijing. Untuk pertama kalinya, ia naik pesawat. Ia mengunjungi Tiananmen Square dan menyaksikan upacara pengibaran bendera nasional. Ia juga berkesempatan mengunjungi institusi kepolisian, mendekatkan diri pada cita-citanya.
Selain itu, gelombang donasi publik yang mencapai ratusan ribu yuan digunakan untuk renovasi rumah, perbaikan sekolah, dan dukungan pendidikan.
Dari seorang anak desa yang tidak dikenal, ia menjadi simbol nasional tentang ketekunan belajar.
Sebelum dan Sesudah
Jika ditarik garis waktu, perbedaannya terlihat jelas.
Sebelum viral:
rumah tanah sederhana, perjalanan panjang ke sekolah, orang tua tidak tinggal lengkap, fasilitas pendidikan terbatas.
Sesudah viral:
rumah baru lebih dekat, fasilitas sekolah diperbaiki, orang tua kembali tinggal bersama, kesempatan mengunjungi ibu kota, dukungan pendidikan lebih stabil.
Tidak ada laporan tentang kehidupan mewah atau perubahan ekstrem. Yang tercatat adalah peningkatan kualitas hidup yang konkret dan terukur.
Hingga laporan media terakhir yang banyak dirujuk pada 2019, belum ada pembaruan publik luas mengenai kondisi terkininya.
Namun rentang peristiwa 2018–2019 menunjukkan satu hal yang terdokumentasi jelas: sebuah foto dari desa bersuhu minus sembilan derajat tidak berhenti sebagai viralitas sesaat.
Ia memicu perhatian nasional, dan menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan seorang anak, keluarganya, dan sekolahnya.
Sumber Data dan Foto :
https://www.instagram.com/p/DU5nq74DCv-/?igsh=MWtnYXZzOWNoYmF4Nw==
China’s ‘Ice Boy’ arrives in Beijing (ECNS) — liputan viral foto, cuaca dingin, perjalanan 4,5 km dan perjalanan Beijing yang dialami Fuman serta kegiatan terkait cita-citanya. (ecns.cn)
‘Frost boy’ photo goes viral, touches netizens (ECNS) — penjelasan foto viral, nama sekolah, jarak tempuhnya, reaksi teman-teman, dan kondisi rumahnya. (ecns.cn)
Chinese boy walks 4km to school with icicles (The Straits Times) — ringkasan kisah awalnya serta detail suhu dan lokasi. (The Straits Times)
China’s “Ice flower” boy warms netizens’ hearts (Xinhua/China Story) — narasi tambahan dari laporan Xinhua termasuk informasi kondisi sekolah dan latar geografis. (chinastory.cn)
“Frost boy” prompts influx of donations (Xinhua) — kampanye donasi dari yayasan lokal, jumlah dana awal, rencana bantuan kepada siswa lain, dan rencana pemasangan pemanas. (Xinhuanet)
“Ice flower” boy school gets new dorm (China.org.cn) — info pembangunan asrama dan fasilitas baru di sekolah Zhuanshanbao. (china.org.cn)
Donations flood in for Yunnan schoolboy (China Daily) — detail bantuan awal kepada keluarga dan sekolah serta statistik donasi yang masuk. (chinadaily.com.cn)
One year on: What happened to ‘Snowflake Boy’? (People’s Daily Online) — laporan lanjutan setahun setelah viral: rumah baru lebih dekat sekolah, fasilitas sekolah ditingkatkan, dan pengalaman pendidikan serta kehidupan sehari-hari Fuman. (en.people.cn)
Xi Focus: Not one left behind in pursuit of Chinese Dream (China Daily) — update tentang kondisi jalan beton baru, rumah baru, pendidikan, dan pengurangan kemiskinan di wilayahnya. (chinadaily.com.cn)
‘Frost Boy’ stirs poverty debate in China (Daily Times) — artikel diskusi tentang dampak foto terhadap debat kemiskinan dan realitas left-behind children. (Daily Times)
Commentary: A year on, China’s ‘Ice Boy’ a media superstar (CNA) — komentar tentang bagaimana viralitas mengubah kehidupan Fuman serta konteks anak-anak lain di situasi serupa. (CNA)






