Keutamaan Puasa Ramadan Hari Kelima, Menjadi Hamba yang Beruntung dan Dicintai Allah

Surabaya, HeadlineJatim.com– Menginjak hari kelima bulan suci Ramadhan 1447 H, umat Muslim kini berada di pertengahan fase pertama yang penuh dengan rahmat (rahmah). Pada tahap ini, para ulama menekankan pentingnya menjaga kualitas ibadah agar tidak sekadar menjadi rutinitas fisik, melainkan transformasi batin yang mendalam.

Mengutip dari laman resmi NU Online dalam artikel berjudul “Fadhilah Puasa Ramadhan Hari Kelima“, para ulama Nahdlatul Ulama merujuk pada kitab klasik Fadhâ’il Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah. Dalam literatur tersebut, hari kelima dikaitkan dengan anugerah Allah berupa pahala bagi mereka yang istiqamah, seolah-olah mereka melakukan salat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa.

Read More

“Hari kelima adalah momentum bagi kita untuk memohon agar dijadikan hamba yang taat dan dijauhkan dari kemaksiatan,” tulis ulasan dalam portal tersebut sebagai bentuk motivasi spiritual bagi jamaah.

Di sisi lain, melansir dari portal Muhammadiyah.or.id melalui tulisan bertajuk “Puasa sebagai Sarana Penguatan Karakter Mukmin“, tokoh-tokoh Muhammadiyah menekankan bahwa hari kelima adalah fase penting dalam pembentukan disiplin rohani.

Muhammadiyah memandang bahwa pada hari kelima, seorang mukmin telah berhasil melewati masa sulit adaptasi biologis. Oleh karena itu, fokus harus dialihkan pada “puasa batin“, yakni menjaga panca indera dari hal-hal yang tidak bermanfaat, sesuai dengan konsep ihsan dalam beribadah.

Edukasi dari Kementerian Agama RI

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, MA, dalam artikel “Menjaga Ritme Ibadah di Pekan Pertama Ramadhan” di situs resmi Kementerian Agama, mengingatkan umat untuk tidak mengendurkan semangat.

“Hari kelima sering kali menjadi titik di mana semangat mulai stabil atau justru menurun. Kami mengajak umat untuk memperbanyak sedekah dan tilawah, karena di hari-hari inilah rahmat Allah sedang tercurah dengan derasnya,” ungkap beliau dalam pesannya.

Secara ilmiah, makna puasa pada hari kelima juga memiliki kaitan dengan kesehatan mental. Berdasarkan jurnal yang diterbitkan oleh Journal of Islamic Medicine and Health berjudul “Neuropsychological Impact of Long-term Fasting”, pada hari kelima, tubuh manusia mulai mencapai keseimbangan metabolik yang stabil.

Hal ini berdampak positif pada penurunan tingkat kecemasan (anxiety) dan peningkatan fokus. Secara psikologis, kondisi ini sangat mendukung seorang hamba untuk mencapai kekhusyukan yang lebih tinggi dalam berzikir dan berdoa.

Dengan mengikuti pandangan para ulama dan otoritas keagamaan, hari kelima Ramadhan harus dimaknai sebagai tangga untuk naik ke derajat yang lebih tinggi. Bukan sekadar menahan lapar, tetapi memastikan bahwa setiap detik yang terlewati membawa kita lebih dekat pada gelar Muttaqin (orang-orang yang bertaqwa).

Related posts