Ilustrasi oleh tim grafisĀ
Surabaya, Headlinejatim.com- Memasuki awal bulan Ramadhan 1447 H, tantangan menjalankan ibadah puasa bagi generasi Z (Gen Z) kian kompleks. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, namun gempuran tren gaya hidup dan kepraktisan layanan pesan-antar makanan menjadikan fast food (cepat saji) sebagai pilihan utama saat berbuka puasa.
Bagi banyak anak muda, kecepatan adalah kunci. Jadwal kuliah yang padat dan pekerjaan di sektor kreatif yang menuntut mobilitas tinggi membuat makanan cepat saji menjadi solusi paling logis. Namun, di balik kelezatannya, terdapat risiko kesehatan yang mengintai jika dilakukan secara terus-menerus.
Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan RIĀ “Panduan Gizi Seimbang saat Ramadhan“, konsumsi makanan tinggi natrium dan lemak jenuh saat berbuka dapat memicu lonjakan gula darah yang drastis dan rasa lemas di keesokan harinya. Hal ini sejalan dengan artikel kesehatan dari Alodokter dalam “Bahaya Mengonsumsi Gorengan dan Fast Food Saat Berbuka” yang menyebutkan bahwa berbuka dengan makanan yang terlalu berminyak dapat menghambat sistem pencernaan setelah seharian beristirahat.
Selain faktor praktis, media sosial memegang peranan besar. Tren “Mukbang” berbuka puasa dengan menu viral di TikTok atau Instagram seringkali memicu fenomena Fear of Missing Out (FOMO).
“Kadang kalau lihat teman-teman upload menu bucket ayam atau burger baru di Story, rasanya pengen ikutan pesan juga buat buka bareng,” ujar Salma (23), seorang mahasiswi di Surabaya.
Menyeimbangkan Nutrisi di Tengah Tren
Meski fast food sulit dihindari, para ahli menyarankan Gen Z untuk lebih bijak. Mengutip saran nutrisi dari laman Harvard Health Publishing, “Maintaining a Healthy Diet During Fasting”, keseimbangan adalah kunci. Jika memang harus mengonsumsi makanan cepat saji, sangat disarankan untuk tetap mengawalinya dengan air putih dan buah-buahan seperti kurma untuk mengembalikan energi secara alami.
Penting bagi Gen Z untuk memahami bahwa puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, melainkan momentum detoksifikasi tubuh. Bergantung sepenuhnya pada makanan olahan hanya akan membuat tubuh cepat lelah dan rentan sakit selama bulan suci.






