Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menerima kunjungan Duta Besar Swedia Daniel Blockert bersama jajaran delegasi perusahaan Swedia di Gedung Negara Grahadi. (Foto: Hikmah Rizki)
Surabaya, HeadlineJatim.com – Gedung Negara Grahadi menjadi titik awal babak baru hubungan Jawa Timur–Swedia. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Swedia untuk Indonesia Daniel Blockert bersama jajaran delegasi perusahaan Swedia, Kamis (12/2), dengan agenda memperluas jejaring investasi dan kolaborasi strategis.
Berbeda dari sekadar pertemuan diplomatik, kunjungan ini membawa sinyal kuat ketertarikan sektor industri Swedia terhadap Jawa Timur. Dubes Daniel menyebut provinsi ini memiliki kombinasi ekonomi yang tumbuh, populasi besar, serta kebutuhan infrastruktur yang sejalan dengan kompetensi perusahaan-perusahaan Swedia.
“Hari ini kami melihat banyak titik temu. Jawa Timur memiliki ekonomi yang berkembang dan populasi besar. Itu sangat menarik bagi perusahaan Swedia untuk membangun kolaborasi jangka panjang,” ujar Daniel Blockert.
Ia menjelaskan, dalam kunjungan tersebut dirinya membawa delegasi kecil sebagai langkah awal penjajakan. Ke depan, Swedia berencana kembali dengan membawa lebih banyak perusahaan untuk mengeksplorasi peluang konkret, mulai dari transportasi publik, energi berkelanjutan, industri manufaktur, kesehatan, hingga pendidikan dan riset.
Salah satu sektor yang mencuat dalam pembahasan adalah pengembangan sistem transportasi berbasis rel di Jawa Timur. Gubernur Khofifah menilai pengalaman dan teknologi Swedia di bidang perkeretaapian dan transportasi publik dapat menjadi referensi penting, termasuk dalam manajemen sistem transportasi dan pengelolaan parkir modern.
“Kolaborasi ini bisa menjadi bagian dari transformasi sistem transportasi di Jawa Timur, terutama dalam mendukung konektivitas dan efisiensi pelayanan publik,” kata Khofifah.
Tak hanya infrastruktur, sektor pendidikan juga menjadi fokus pembahasan. Dubes Daniel dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk menjajaki kerjasama beasiswa serta penguatan kolaborasi akademik dengan institusi pendidikan di Swedia.
Khofifah turut berharap dukungan Swedia dapat diperluas hingga penguatan kapasitas siswa di SMA Taruna, khususnya dalam peningkatan kompetensi bahasa Inggris dan pembiasaan global outlook.
Hubungan Jawa Timur–Swedia sendiri bukan hal baru. Investasi Swedia di sektor galangan kapal di Banyuwangi telah berjalan lebih dari tiga dekade, menjadi fondasi historis kerjasama kedua pihak.
Dubes Daniel juga menyinggung sejumlah perusahaan global asal Swedia seperti IKEA, H&M, Ericsson, Electrolux, Volvo Scania, dan SKF yang terus menjajaki peluang pengembangan produksi di Indonesia.
“IKEA sedang mencari lokasi produksi di Indonesia, dan Jawa Timur menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan,” ungkapnya.
Meski Swedia memiliki populasi relatif kecil, Daniel menegaskan banyak perusahaan negaranya beroperasi secara global dan siap berkontribusi dalam penguatan industri serta pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Pertemuan singkat di Grahadi itu pun dinilai sebagai fondasi awal menuju kolaborasi yang lebih luas. Jika penjajakan berlanjut sesuai rencana, Jawa Timur berpotensi menjadi salah satu simpul penting ekspansi investasi Swedia di Indonesia, dengan transportasi publik dan pendidikan sebagai sektor unggulan tahap awal.






