Dupa, Lampion dan Sejarah, Warna Imlek di 240 Vihara Jawa Timur 

Tim Grafis HeadlineJatim.com

Surabaya, Headlinejatim.com – Menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026, ratusan vihara di Jawa Timur tengah mempersiapkan diri menyambut perayaan dengan serangkaian ritual dan kegiatan keagamaan yang sarat makna. Provinsi ini tercatat memiliki sekitar 240 vihara aktif, yang tersebar di kota besar maupun pedesaan, menjadi bukti bahwa praktik Buddhis di wilayah ini telah berkembang menjadi bagian integral dari kehidupan spiritual dan sosial masyarakat.

Read More

Salah satu ritual yang paling mencuri perhatian publik adalah pembersihan patung Buddha (rupang). Di Vihara Buddhayana Surabaya, umat Buddha bersama pengurus vihara bergotongroyong membersihkan patung utama dan ratusan rupang kecil menjelang perayaan Imlek. Ritual ini dilakukan dengan air, sabun, dan bungabunga seperti melati, mawar, serta sedap malam. Sebuah simbol pembersihan batin agar menyambut tahun baru dengan kondisi hati yang jernih dan siap.

Bante Dharma Maytri Mahathera, Pembina Buddhayana Jawa Timur yang juga merupakan perwakilan Sangha Agung Indonesia, mengatakan Rupang yang dibersihkan mencakup patung Buddha utama beserta figurfigur muridnya. Ritual ini bukan hanya bersihbersih secara fisik, tetapi menjadi sarana perenungan batin agar umat dapat memasuki tahun baru dengan jiwa dan raga yang bersih.

“Prosesnya dilakukan tahap demi tahap. Dari bilasan air biasa hingga bilasan terakhir. Semua dengan kesadaran spiritual.” Ujarnya.

Bante Dharma juga menyatakan bahwa kegiatan ini sering disertai program sosial seperti donor darah dan pembagian bantuan kepada warga sekitar sebagai wujud ajaran belas kasih (karuṇā) dalam Buddhisme.

Vihara Besar dan Sederhana Serta Peran dan Kapasitas dalam Komunitas

Perayaan Imlek di Jawa Timur mencakup aktivitas di vihara besar yang menjadi pusat kegiatan komunitas, sekaligus di vihara sederhana yang berperan kuat di tingkat lokal. Berikut boks perbandingan dua sisi yang memberi gambaran peran dan karakter tiap vihara.

 

Vihara besar umumnya menjadi pusat ritual, pendidikan, dan kegiatan komunitas luas. Vihara sederhana, meski dengan fasilitas lebih terbatas, memainkan peran penting di komunitas lokal untuk menjaga kontinuitas tradisi dan praktik Buddhis.

Fakta dan Sejarah Vihara di Jawa Timur, Menyebar namun Terhubung

Distribusi geografis vihara di Jawa Timur memperlihatkan pola yang menarik dan historis. Vihara besar umumnya berada di kota besar, seperti Surabaya dan Mojokerto, untuk menjangkau jumlah umat yang lebih luas dan memfasilitasi kegiatan pendidikan agama, meditasi massal, serta ritual besar.

Sementara itu, vihara sederhana tersebar di pedesaan dan pinggiran kota, seperti Blitar, Banyuwangi, dan Batu. Mereka melayani komunitas lokal dengan kapasitas lebih kecil, namun tetap menjaga kontinuitas ritual dan tradisi. Pola ini merupakan produk dari sejarah sosial dan budaya yang panjang:

Migrasi komunitas TionghoaBuddha, Sejak abad ke18 hingga awal abad ke20, komunitas migran Tionghoa yang membawa Buddhisme menetap di kota pelabuhan dan perdagangan, seperti Surabaya, Malang, dan Mojokerto, membangun vihara besar yang menjadi pusat ibadah dan kegiatan komunitas.

Kebijakan kolonial – Pada masa Hindia Belanda, konsentrasi kegiatan sosialekonomi di kota besar mendorong pembangunan vihara besar untuk melayani komunitas urban yang padat. Di wilayah pedesaan, vihara sederhana dibangun secara mandiri oleh komunitas lokal sebagai pusat ibadah.

Strategi organisasi Buddhis modern – Sejak berdirinya Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) pada 1955 dan Sangha Agung Indonesia (Sagin) pada 1974, ada dorongan sistematis untuk memperluas jaringan vihara dengan keseimbangan antara pusat ritual besar di kota dan basis komunitas di desa agar pelayanan spiritual bisa merata.

Ringkasan lokasi vihara utama di Jawa Timur:

  • Surabaya: Vihara Buddhayana Surabaya, Vihara Dhammadipa Arama (cabang Surabaya), Vihara Eka Dharma Loka
  • Mojokerto: Maha Vihara Mojopahit
  • Batu / Malang: Padepokan Dhammadipa Arama, Vihara Padma Graha
  • Blitar: Vihara Buddha Sasana
  • Banyuwangi: Vihara Thirta Vana Jaya

Peta ini menekankan kesimbangan antara pusat ritual besar dan basis komunitas lokal, sekaligus memudahkan pembaca memahami persebaran vihara di Jawa Timur.

Rangkaian Perayaan Imlek 2577

Perayaan Imlek di vihara Jawa Timur mengikuti rangkaian kegiatan yang terstruktur:

  1. PraImlek: Pembersihan rupang, penyusunan altar, dan doa bersama umat.
  2. 17 Februari 2026: Ibadah utama Imlek dengan persembahyangan dan doa keselamatan di vihara.
  3. PascaImlek – Cap Go Meh: Beberapa komunitas menggelar kegiatan budaya hingga 15 hari setelah Imlek.

Setiap fase kegiatan tidak hanya ritual semata, tetapi juga memperkuat persatuan sosial dan spiritual komunitas, mencerminkan harmoni dan kebersamaan lintas generasi.

Memoar Edukatif, Dari Masa Tantangan Hingga Kebebasan Beribadah

Perjalanan umat Buddha di Indonesia adalah kisah panjang perjuangan hak beribadah secara sah dan setara. Pada masa kolonial, masyarakat Buddha belum diakui sebagai komunitas agama resmi sehingga organisasi umat belum memperoleh pengakuan hukum; perubahan mulai terjadi pada abad ke20 melalui upaya tokoh Buddhis.

Y.A. M.N.S. Ashin Jinarakkhita, biksu Indonesia yang konsisten memperjuangkan pengakuan resmi agama Buddha di negara ini dengan menekankan aspek spiritual dan universal ajaran Buddha.

Pembentukan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) sejak 1955 dan Sangha Agung Indonesia (Sagin) sejak 1974 sebagai badan organisasi untuk pembinaan biksu dan biksuni lintas tradisi Buddhis.

Terbentuknya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha (Bimas Buddha) di Kementerian Agama Republik Indonesia, memastikan administrasi dan hak beribadah umat Buddha setara dengan pemeluk agama lain.

Transformasi sejarah ini, dari ketidakakuan administratif hingga praktik keagamaan terbuka seperti pembersihan patung menjelang Imlek 2577, menjadi memoar edukatif yang penting. Kebebasan beribadah yang dinikmati saat ini adalah hasil perjuangan panjang kolektif dan kesepakatan konstitusional bangsa.

Peran Gus Dur dalam Kebebasan Merayakan Imlek

Selain perjuangan internal umat Buddha, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memegang peran penting. Pada tahun 2000, Gus Dur mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, yang sebelumnya membatasi ekspresi budaya dan keagamaan masyarakat Tionghoa dan pemeluk tradisi Konghucu / Buddha di ruang publik. Tindakan ini secara langsung membuka ruang bagi komunitas untuk merayakan Imlek secara sah dan terbuka di seluruh Indonesia, termasuk di viharavihara Jawa Timur.

Keputusan ini memberikan dasar hukum bagi praktik budaya keagamaan yang lebih bebas dan inklusif, serta menjadi simbol kemajuan pluralisme dan toleransi beragama di Indonesia.

Perayaan Imlek 2577 di vihara Jawa Timur, dari ritual pembersihan patung hingga ibadah utama adalah ilustrasi kedewasaan kehidupan beragama, harmoni sosial, dan kebebasan beribadah. Kisah sejarah umat Buddha, peran tokoh seperti Ashin Jinarakkhita, kiprah MBI dan Sagin, serta kebijakan Gus Dur memberikan pembaca wawasan bahwa toleransi dan kebebasan beribadah yang ada saat ini adalah buah perjuangan panjang sejarah Indonesia.

Perayaan Imlek 2026 menjadi pengingat sejarah, refleksi spiritual, dan pelajaran sosialbudaya. Harmoni dan kebebasan beribadah bukan hadiah, tetapi hasil proses panjang kolektif dan kesadaran pluralisme bangsa.

 

Sumber Berita dan Data

Distribusi Vihara di Jawa Timur – Rentech Digital: daftar vihara aktif di wilayah Jatim.

Ritual Pembersihan Patung Buddha – Liputan6 (foto & informasi kegiatan di Surabaya).

Kutipan Bante Dharma Maytri Mahathera – Liputan/ringkasan wawancara media lokal (Ketik / media hiburan rohani).

Peran Gus Dur untuk Kebebasan Merayakan Imlek – Wikipedia & artikel sejarah kebijakan.

Konteks Organisasi Buddhis Modern – Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) dan Sangh

a Agung Indonesia (Sagin), informasi historis umum publik.

 

 

 

Related posts