Catatan Rekor Dunia dan Ancaman Kepunahan Satwa Liar Indonesia di Depan Mata

Surabaya, Headlinejatim.com – Di hening hutan Maros, Sulawesi Selatan, sebuah rekor dunia lahir bukan dalam kebanggaan, tetapi dalam bisikan peringatan, seekor sanca kembang betina sepanjang 7,22 meter, ditemukan akhir 2025, diukur resmi pada 18 Januari 2026, dan dicatat oleh Guinness World Records sebagai ular liar terpanjang yang pernah diukur secara ilmiah.

Ular ini dinamai Ibu Baron. Tubuhnya yang membentang hampir seukuran gawang sepak bola standar FIFA adalah bukti nyata, bukan fantasi, bahwa manusia kini hidup berdampingan dengan makhluk yang terus kehilangan ruang. Namun, di balik gelar dunia, terhampar kisah panjang konf ko kolik satwa–manusia dan kegagalan pengelolaan habitat.

Read More
Ular Ibu Baron

Ketika kabar muncul di akhir 2025, ketakutan warga sekitar menjadi nyata ternak hilang, hewan peliharaan dililit, bahkan beberapa insiden nyaris merenggut nyawa manusia. Dalam situasi itu, Budi Purwanto, konservasionis lokal, bergerak cepat mengevakuasi Ibu Baron ke lahan konservasi pribadi, menyelamatkannya dari ancaman parang dan perdagangan ilegal.

“Kalau terlambat sedikit saja, ular ini kemungkinan sudah mati,” ujar seorang pegiat konservasi.

Di tangan para ahli, pengukuran ilmiah dilakukan oleh Diaz Nugraha, pemandu satwa berlisensi, bersama Radu Frentiu, fotografer sejarah alam. Berat tubuh 96,5 kilogram dan panjang 7,22 meter yang tercatat hanyalah awal dari cerita yang lebih besar: habitat satwa ekstrem terus menyusut, memaksa mereka menyusup ke ruang manusia.

Krisis Habitat dan Alih Fungsi Lahan

Ibu Baron adalah indikator nyata dari desakan ekologis. Hutan yang terfragmentasi, alih fungsi lahan yang masif untuk perkebunan, tambang, dan permukiman, serta perburuan liar menciptakan lingkungan tanpa keseimbangan. Ular-ular besar, harimau, orangutan, dan satwa lain terpaksa keluar dari habitat alami mereka, berhadapan langsung dengan manusia.

Investigasi lapangan menunjukkan kelemahan regulasi: izin hutan sering diberikan tanpa pengawasan ketat, alih fungsi lahan dilakukan tanpa mitigasi ekologis yang memadai, dan konflik satwa–manusia dibiarkan berkembang hingga ancaman nyata muncul.

“Ketika habitat menyusut, makhluk hidup tidak memilih untuk datang ke pemukiman. Ruang mereka diambil,” kata Nugraha.

Pola Nasional: Satwa Liar dan Manusia

Ibu Baron bukan kasus tunggal. Dalam lima tahun terakhir, tren serupa terlihat di berbagai penjuru Indonesia:

Badak Jawa: Kelahiran lebih dari 10 anak badak di TN Ujung Kulon (2020–2024) namun seluruh populasi terkonsentrasi di satu lokasi rawan bencana.

Harimau Sumatra: Sering masuk kebun dan permukiman di Aceh, Riau, Jambi (2021–2024) karena habitat menyusut.

Orangutan Kalimantan: Puluhan dievakuasi dari sawit dan tambang aktif (2020–2025).

Komodo: Pola jelajah mendekati wilayah aktivitas manusia akibat tekanan wisata (2022–2024).

Pola ini menegaskan pergeseran ekologis yang nyata: bukan karena satwanya agresif, melainkan karena manusia menyingkirkan ruang hidup mereka.

Rekor Dunia sebagai Peringatan Ekologis

Secara biologis, sanca kembang memang ular terpanjang di dunia, dengan panjang rata-rata 3–6 meter. Namun Ibu Baron, sebagai individu ekstrem, menunjukkan dampak tekanan lingkungan: spesies yang idealnya tersebar di hutan luas kini muncul di halaman rumah manusia.

Sebelum Ibu Baron, rekor sanca kembang liar terpanjang tercatat 6,95 meter di Kalimantan Timur (1999). Banyak klaim ular lebih besar muncul, tetapi sebagian besar spesimen tak bertahan hidup atau tidak terdokumentasi. Rekor dunia kali ini adalah alarm: bukan pencapaian manusia, tapi peringatan alam yang terdesak.

Refleksi Kebijakan dan Konservasi

Ibu Baron selamat karena kecepatan tindakan individu. Namun keberhasilan satu orang bukan solusi sistemik. Regulasi konservasi harus diperkuat: pengawasan izin hutan, mitigasi alih fungsi lahan, serta strategi konflik satwa–manusia yang proaktif.

Jika tidak, rekor-rekor berikutnya akan muncul dari ruang konflik yang lebih dramatis—pertanda terakhir dari ekosistem yang kehilangan napasnya.

 

Sumber Data & Referensi

Guinness World Records – Longest snake measured in the wild

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)

Balai Taman Nasional Komodo

WWF Indonesia

Related posts