Gempa Pacitan M 6,2, Bantul Justru Terparah, Ini Penjelasan BMKG

Ilustrasi Tim grafis HeadlineJatim.com

Pacitan, Headlinejatim.com – Gempa bumi magnitudo 6,4 (dimutakhirkan menjadi M 6,2) mengguncang wilayah tenggara Kabupaten Pacitan Jumat dini hari, (6/1/2026) pukul 01.06 WIB.

Read More

Gempa dangkal berkedalaman sekitar 10 kilometer ini dipicu aktivitas megathrust di zona subduksi selatan Pulau Jawa dan dirasakan luas hingga Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur bagian selatan. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Pacitan, gempa ini mengakibatkan setidaknya 15 bangunan rusak, terdiri dari rumah warga dan fasilitas umum. Kerusakan tersebar di sejumlah kecamatan seperti Pacitan, Arjosari, Nawangan, dan Pringkuku. Proses pendataan masih terus dilakukan seiring asesmen lapangan.

Guncangan juga dirasakan kuat di wilayah lain. Di Kabupaten Ponorogo, beberapa rumah warga dilaporkan mengalami retak dinding dan kerusakan ringan. Sementara di Kabupaten Jember, Jawa Timur, atap salah satu ruang kelas sekolah dasar dilaporkan runtuh akibat getaran gempa.

Namun hasil evaluasi awal justru menunjukkan wilayah Kabupaten Bantul, DIY, mengalami dampak kerusakan yang relatif lebih signifikan, meskipun jaraknya lebih jauh dari pusat gempa.

Analis gempa bumi dari BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Sleman, Dr. Ayu Krisna Ekariati S.Si., M.T, menjelaskan bahwa tingkat kerusakan tidak selalu berbanding lurus dengan jarak terhadap pusat gempa.

“Dari hasil investigasi di lapangan, lokasi yang terparah justru ada di Kabupaten Bantul jika dibandingkan dengan lokasi yang lebih dekat dengan pusat gempa yaitu Pacitan,” ungkap Dr. Ayu dalam unggahan resmi Instagram BPBD Pacitan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kondisi geologi berperan besar dalam memperkuat dampak guncangan.

“Hal ini bisa saja dikarenakan kondisi geologi wilayah Kabupaten Bantul yang merupakan daerah endapan, yang pada saat terjadi gempa cenderung mengaktifkan atau memperbesar amplitudo gelombang gempa,” jelasnya.

BMKG menegaskan bahwa wilayah dengan tanah endapan lunak berpotensi mengalami efek amplifikasi gelombang seismik, sehingga guncangan terasa lebih kuat dan berisiko menimbulkan kerusakan lebih besar dibanding wilayah dengan batuan keras.

BMKG mencatat hingga 34 gempa susulan terjadi setelah gempa utama, dengan magnitudo terbesar sekitar 4,2.

Meski tidak menunjukkan tren peningkatan kekuatan, masyarakat tetap diimbau waspada, terutama terhadap bangunan yang sudah mengalami kerusakan struktur.

Pemerintah melalui BNPB bersama BPBD di wilayah terdampak telah mengambil langkah-langkah cepat, antara lain:

– Mengintensifkan koordinasi lintas daerah

– Mengerahkan tim reaksi cepat untuk kaji cepat kerusakan

– Memantau potensi gempa susulan

– Mengimbau masyarakat mengikuti informasi resmi BMKG

BNPB menegaskan bahwa kawasan selatan Pulau Jawa berada di jalur megathrust aktif, sehingga penguatan mitigasi bencana dan ketahanan bangunan menjadi faktor krusial dalam menekan risiko korban di masa mendatang.

 

Sumber:

ANTARA News – BPBD Pacitan catat 15 bangunan rusak akibat gempa magnitudo 6,4

https://www.antaranews.com/berita/5401866/bpbd-pacitan-catat-15-bangunan-rusak-akibat-gempa-magnitudo-64

ANTARA News – BNPB intensifkan koordinasi tangani dampak gempa Pacitan

https://www.antaranews.com/berita/5401794/bnpb-intensifkan-koordinasi-agar-dampak-gempa-pacitan-tertangani-cepat

detikNews – 34 gempa susulan terjadi usai gempa M 6,2 Pacitan

https://news.detik.com/berita/d-8344502/34-gempa-susulan-terjadi-usai-gempa-m-6-2-guncang-pacitan-jatim

BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Sleman – Pernyataan Dr. Ayu Krisna Ekariati melalui unggahan Instagram BPBD Pacitan

Related posts