Tim grafis HeadlineJatim.com
“Momentum Perubahan Antara Budaya, Simbol Nasional, dan Harapan Bangsa”
Surabaya, HeadlineJatim.com — Ketika kalender lunar Tionghoa mencatat 17 Februari 2026 sebagai awal Tahun Kuda Api atau Fire Horse. Masyarakat di Indonesia, termasuk di Surabaya dan Jawa Timur, tengah menyambut sebuah fenomena budaya yang tidak sekadar pergantian angka kalender. Tahun ini merupakan momen langka yang hanya terjadi setiap 60 tahun sekali, bukan setiap 12 tahun seperti banyak dipahami umum. Peristiwa ini dianggap membawa energi baru ini, dorongan inovatif, dan peluang percepatan perubahan sosial serta ekonomi dalam berbagai aspek kehidupan.
Sederhananya, kalender astrologi Tionghoa tidak hanya bekerja dengan 12 shio hewan, tetapi juga dengan sistem lima unsur (Kayu, Api, Tanah, Logam, Air) yang masing-masing memiliki fase Yin dan Yang. Kombinasi kedua siklus,12 hewan dan 10 fase unsur membentuk siklus seksagesimal (60 tahun) yang secara tradisi digunakan untuk penanggalan tahunan hingga bulan dan hari. Dengan begitu, sementara shio Kuda memang muncul setiap 12 tahun, kombinasi Kuda dengan unsur Api (Fire Horse) baru akan kembali setelah kedua siklus itu selaras kembali setelah 60 tahun.
Fenomena ini sebelumnya terjadi pada 1966–1967 dan setelah 2026 diperkirakan baru akan muncul lagi pada 2086–2087, menandakan ritme kombinasi simbolik waktu yang khas dalam budaya Tionghoa.
Dalam tradisi itu, Fire Horse dipandang sebagai tahun yang penuh dinamika. Kuda mewakili kebebasan, mobilitas, keberanian, dan kemampuan bertindak cepat, sementara Api memberi gairah, intensitas, dan dorongan untuk inovasi. Gabungan kedua simbol ini dipahami sebagai energi yang memacu langkah awal, semangat perubahan, dan dorongan untuk bergerak lebih cepat dalam berbagai bidang bila dibandingkan dengan tahun-tahun biasa.
Perayaan Imlek 2026 sendiri berlangsung lebih dari dua minggu, dimulai dari malam Tahun Baru lunar hingga Festival Lentera. Selama periode ini, tradisi membersihkan rumah, reuni keluarga, hingga pemasangan lampion merah menjadi bagian dari praktik budaya yang melambangkan penyambutan energi baru serta keberuntungan. Warna merah yang dominan bukan sekadar estetika, tetapi juga merupakan manifestasi simbolik dari unsur Api yang dipercaya mampu menarik keberuntungan dan mengusir nasib buruk.
Menariknya, makna simbol Api dan warna merah ini tidak hanya utuh dalam tradisi Tionghoa, tetapi juga memiliki resonansi kuat dalam konteks identitas nasional Indonesia. Pada perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia (17 Agustus 2025), penggunaan warna merah pada logo resmi perayaan itu dimaknai sebagai simbol keberanian, semangat perjuangan, serta kukuhnya tekad kolektif bangsa untuk terus maju dari tantangan sejarahnya hingga era modern. Ketika semangat simbolik Fire Horse ini dipadukan dengan wacana garuda merah-putih sebagai identitas bangsa, muncul narasi filosofis yang harmonis, bahwa dorongan untuk bertindak, berinovasi, dan mengambil langkah besar bisa menjadi cita bersama dalam bingkai budaya dan kebangsaan.

Pandangan simbolik itu dikokohkan oleh Freddy Handoko Istanto, tokoh budaya dari Surabaya yang dikenal luas sebagai pemerhati heritage serta akademisi arsitektur Universitas Ciputra Surabaya, melalui perannya dalam Surabaya Heritage Society dan aktivitasnya dalam pelestarian budaya lokal.
“Simbol tidak pernah berdiri sendiri. Kuda menunjukkan gerak maju, Api adalah intensitas yang membara, sementara Garuda mewakili keberanian serta persatuan bangsa. Ketika energi Fire Horse hadir, itu menjadi momentum untuk bertindak dengan keberanian dan inovasi, sambil tetap menghormati akar budaya dan identitas kolektif yang menjadi dasar perjalanan bangsa Indonesia,” ujar Freddy Handoko Istanto.
Komentar ini memberi perspektif bahwa makna Fire Horse tidak hanya relevan dalam tataran antropologi budaya Tionghoa semata, tetapi juga bisa dibaca dalam konteks sosial budaya Indonesia yang lebih luas. Terutama sebagai simbol momentum kolektif untuk memperkuat kreativitas, kolaborasi, dan perubahan yang berpihak pada kemajuan bersama.
Pandangan simbolik ini sejalan dengan karakter yang secara tradisional dikaitkan dengan mereka yang lahir di bawah tahun Kuda Api. Individu yang dikenal energetik, berani mengambil risiko, kreatif, dan mandiri dalam tindakan. Namun, karakter intens seperti ini juga menuntut keseimbangan internal agar energi besar tersebut tidak berubah menjadi impulsivitas atau ketidaksabaran.
Di Surabaya dan Jawa Timur, Imlek telah berkembang menjadi perayaan budaya yang melampaui sekadar komunitas etnis, menjadi momentum kebersamaan lintas komunitas dan refleksi atas kekayaan budaya lokal. Atraksi barongsai, liong, pasar kuliner, serta kegiatan seni turut menjadi bagian dari perayaan yang memperkaya nuansa pluralisme sosial di kota besar.
Fenomena Fire Horse 2026 bukan hanya soal ritus budaya tahunan, tetapi juga menggambarkan kesempatan untuk menggabungkan gairah tradisi dengan aspirasi masa depan. Di tengah tantangan zaman yang cepat berubah, ini menjadi panggilan bagi masyarakat untuk bergerak lebih cepat, berani mengambil langkah strategis, dan memperkuat ikatan kolektif demi kemajuan sosial, budaya, dan ekonomi. Tahun ini bisa menjadi titik tolak bagi individu dan bangsa untuk mengelola energi besar itu dengan bijak. Berani namun penuh perhitungan, dinamis namun berpijak pada nilai budaya yang kuat.






