Ketika Cuaca Ekstrem Menjadi Alarm Infrastruktur Kota Surabaya 

Fakta di balik ambruknya Papan Reklame di Jalan Tidar

Surabaya, HeadlineJatim.com – Selasa sore (3/2/2026), peristiwa yang menggetarkan terjadi di jalan Tidar, Surabaya. Sebuah papan reklame besar patah dan menggantung di tiang penyangganya. Materialnya berjatuhan ke jalan, sementara hujan deras dan angin kencang mengguyur kota. Meski tidak ada korban jiwa dan mengancam serta menimpa pengguna jalan, kejadian ini menjadi alarm nyata bagi ketahanan infrastruktur perkotaan dan keselamatan publik, sekaligus membuktikan bahwa cuaca ekstrem bukan sekadar prediksi meteorologi, tetapi tantangan operasional bagi kota metropolitan.

Read More

Fenomena ini berlangsung di tengah peringatan dini BMKG Juanda (https://www.bmkg.go.id/cuaca/prakiraan-cuaca/35), yang berlaku untuk Surabaya dan wilayah Jawa Timur hingga 10 Februari 2026.

BMKG mencatat curah hujan tinggi disertai angin dengan kecepatan hingga 35–40 km/jam di sebagian besar kota, dan memperingatkan risiko pohon tumbang, genangan, hingga kerusakan ringan pada bangunan dan fasilitas publik.

Sekitar pukul 16.00 WIB, hujan lebat dan angin kencang membuat papan reklame yang seharusnya kokoh di Jalan Tidar patah di bagian strukturalnya. Beberapa seng, besi, dan lampu jatuh ke jalan. Warga yang menyaksikan kejadian segera memasang garis pembatas untuk mengamankan area, sementara Satpol PP, Damkar, BPBD Surabaya, dan unit Command Center kota langsung dikerahkan. Menurut petugas di lapangan, penurunan papan reklame dijadwalkan malam itu setelah teknisi pihak swasta tiba, menegaskan bahwa tanggung jawab struktural tetap berada pada pemilik reklame.

Insiden ini bukan kasus tunggal. Sejak awal Januari 2026, Surabaya dilanda periode cuaca ekstrem yang menyebabkan gangguan serius: pohon tumbang di Jalan Ngagel Jaya, Kembang Kuning, Pahlawan, atap rumah warga beterbangan, serta kerusakan lampu jalan dan spanduk. Awal Februari, tekanan angin dan hujan deras memicu laporan kerusakan papan reklame lain, menunjukkan rentannya struktur perkotaan terhadap fenomena ekstrem.

Menurut Irvan Widyanto, Kepala BPBD Kota Surabaya, peristiwa papan reklame ini adalah peringatan dini untuk meningkatkan mitigasi risiko.

“Kami terus meningkatkan koordinasi lintas perangkat daerah dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem, mulai pemantauan cuaca, sosialisasi tanggap bencana, hingga pemeliharaan drainase. Dinas Lingkungan Hidup kami libatkan untuk memonitor pohon berisiko roboh, dan semua struktur publik tinggi, termasuk papan reklame besar, kami inspeksi. Tujuannya mencegah jatuhnya material yang dapat membahayakan warga.” Tegasnya.

BPBD Surabaya bersama instansi terkait telah menyiapkan langkah antisipatif. Inspeksi berkala tiang dan sambungan papan reklame, standar teknis pemasangan sesuai prediksi BMKG, koordinasi dengan pemilik swasta untuk menurunkan atau memperkuat papan yang berisiko, pengamanan darurat area publik, hingga edukasi masyarakat untuk melaporkan kondisi papan yang longgar atau rusak.

Insiden Jalan Tidar membuka mata tentang kesenjangan antara perencanaan infrastruktur dan cuaca yang semakin ekstrem. Kota besar seperti Surabaya memang memiliki banyak papan reklame sebagai bagian dari dinamika urban, namun fakta ini menunjukkan bahwa pemeliharaan rutin, pengawasan teknis, dan protokol mitigasi risiko harus diperkuat agar ancaman tidak menjadi fatal.

BMKG Juanda menegaskan bahwa peringatan dini adalah kesempatan bagi pemerintah, pengelola bangunan publik, dan masyarakat untuk bertindak sebelum risiko terjadi.

Kasus papan reklame ambruk ini adalah alarm nyata bagi ketahanan perkotaan: cuaca ekstrem bukan fenomena sesaat, infrastruktur harus dipasang dan dipelihara sesuai standar, dan koordinasi lintas instansi serta mitigasi berbasis data BMKG menjadi kunci keselamatan publik dan kelancaran kota. Surabaya kini menghadapi tantangan besar: membangun kota yang tidak hanya berkembang, tetapi juga tangguh menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

Related posts