Foto ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence AI.
Jakarta, HeadlineJatim.com – Menjelang pelaksanaan musim Haji 2026, kewaspadaan terhadap penyakit menular kembali menjadi perhatian otoritas kesehatan dunia. Salah satu yang sedang dipantau adalah virus Nipah, infeksi zoonotik yang dilaporkan muncul kembali di Asia Selatan. Meski Indonesia belum mencatat kasus, pemerintah memperkuat langkah antisipasi seiring meningkatnya mobilitas internasional jamaah haji dalam beberapa bulan ke depan.
Virus Nipah bukan penyakit baru. Patogen ini pertama kali dikenali saat wabah di Malaysia pada 1999 dan sejak itu muncul secara sporadis di Bangladesh dan India, dengan tingkat kematian yang tergolong tinggi dibanding banyak penyakit menular lainnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan Nipah sebagai salah satu penyakit prioritas karena potensi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Apa Itu Virus Nipah?
Virus Nipah adalah penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, dengan kelelawar buah (genus Pteropus) sebagai reservoir alaminya. Penularan ke manusia bisa terjadi melalui makanan yang terkontaminasi cairan tubuh kelelawar, kontak dengan hewan perantara, atau kontak erat dengan pasien yang terinfeksi. Berbeda dengan COVID-19, penularan Nipah tidak dominan melalui udara jarak jauh, melainkan lewat paparan cairan tubuh dan kontak dekat.
Gejala awal biasanya menyerupai infeksi umum, yakni demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan gangguan pernapasan. Pada kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi ensefalitis (radang otak) yang menyebabkan kebingungan, penurunan kesadaran, hingga koma. Masa inkubasi umumnya 4–14 hari setelah paparan.
Situasi Global yang Memicu Kewaspadaan
Dalam beberapa waktu terakhir, India kembali melaporkan klaster kasus Nipah yang ditangani dengan pelacakan kontak ketat dan pengawasan fasilitas kesehatan. Bangladesh juga dikenal mengalami kemunculan kasus hampir setiap tahun dalam pola musiman. Meski wabah biasanya berskala terbatas, angka fatalitas yang tinggi membuat setiap kemunculan kasus menjadi perhatian global.
WHO menilai risiko penyebaran internasional tetap ada melalui perjalanan manusia, meski potensi pandemi luas dinilai lebih rendah dibanding virus yang menular lewat udara secara efisien.
Mengapa Dikaitkan dengan Musim Haji?
Musim Haji adalah salah satu pergerakan manusia lintas negara terbesar di dunia. Jutaan orang berkumpul di satu wilayah dalam periode waktu yang sama, kemudian kembali ke negara masing-masing. Situasi ini membuat otoritas kesehatan berbagai negara, termasuk Indonesia, memperkuat surveilans penyakit menular sebagai langkah pencegahan dini.
Kementerian Kesehatan RI menekankan bahwa peningkatan kewaspadaan bukan berarti ada ancaman langsung, melainkan bentuk kesiapsiagaan menghadapi risiko global yang dinamis. Skrining kesehatan jamaah, edukasi sebelum keberangkatan, serta pemantauan kesehatan setelah kepulangan menjadi bagian dari strategi berlapis yang diterapkan.
Sejumlah langkah yang diperkuat pemerintah Indonesia meliputi:
- Pengawasan pintu masuk internasional di bandara dan pelabuhan utama melalui pemantauan kesehatan pelaku perjalanan.
- Sistem deteksi dini di fasilitas kesehatan, agar kasus dengan gejala mencurigakan dapat segera diidentifikasi dan dirujuk.
- Koordinasi lintas sektor termasuk otoritas haji, dinas kesehatan daerah, dan laboratorium rujukan nasional.
- Langkah ini merupakan kelanjutan dari penguatan sistem surveilans penyakit menular pasca pandemi COVID-19, dengan pendekatan berbasis data dan komunikasi risiko yang transparan.
- Edukasi Publik: Waspada Tanpa Panik
Para ahli menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik, namun tetap perlu memahami cara pencegahan dasar:
✔ Rutin mencuci tangan dengan sabun
✔ Menghindari konsumsi buah atau makanan yang kemungkinan terkontaminasi hewan
✔ Menggunakan masker jika mengalami gejala pernapasan
✔ Segera memeriksakan diri jika demam tinggi atau gangguan kesadaran setelah perjalanan luar negeri
Langkah sederhana ini efektif mengurangi risiko berbagai penyakit menular, tidak hanya Nipah.
Kesiapsiagaan Jadi Kunci
Pengalaman menghadapi pandemi global sebelumnya membuat banyak negara kini lebih sigap dalam mendeteksi potensi ancaman kesehatan. Dalam konteks Nipah, pendekatan Indonesia menekankan kewaspadaan berbasis ilmu pengetahuan, penguatan sistem kesehatan, serta edukasi publik yang menenangkan.






