Menikmati Mangrove Lewat Rasa di Nyeser Paseser

Pengunjung menyaksikan live cooking dalam pameran bertajuk Nyeser Paseser di Wisma Jerman, Surabaya, Minggu (25/01/2026). (Foto : Muhammad Iffan Maulana)

Surabaya, Headlinejatim.com — Ekosistem mangrove ternyata tidak hanya berfungsi sebagai pelindung pesisir, tetapi juga menyimpan potensi kuliner yang menjanjikan. Melalui program “Nyeser Paseser”, pengunjung diajak menyelami kekayaan alam pesisir lewat kegiatan Live Cooking Boga Bahari Lembung Paseser di Wisma Jerman, Surabaya, baru-baru ini.

Read More

​Dalam acara tersebut, tiram mangrove menjadi bintang utama. Hidangan ini merupakan hasil budidaya masyarakat Lembung Paseser yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan Pertamina EP Poleng. Selain mencicipi tiram, pengunjung juga disuguhi presentasi karya Sherly Aprilia bertajuk “4 Sehat 5 Gratisan”.

​Agus Satriyono (40), mentor aspek biologi dan konservasi, mengungkapkan bahwa kehadiran menu ini adalah bentuk edukasi nyata bagi publik. Jika sebelumnya warga hanya mengambil tiram liar yang menempel di akar mangrove, kini masyarakat telah beralih ke metode budidaya yang lebih berkelanjutan.

​“Kini kami mengembangkan budidayanya, dan hari ini yang disajikan adalah hasil murni dari program tersebut,” ujar Agus.

​Sesi live cooking yang dipandu oleh Ibu Fatima, warga asli Lembung Paseser, menyajikan tiram dalam berbagai varian: segar dengan perasan lemon (oyster on the half shell), dibakar menggunakan torch, hingga dikukus. Tak ketinggalan, kepiting bakau dari kawasan CMBR Lembung Paseser dan sayur alor—tanaman khas mangrove—turut dihidangkan.

​Menariknya, hidangan yang disantap pengunjung merupakan objek yang sama dengan karya foto yang dipamerkan oleh fotografer Lili.

Sherly Aprilia (Kanan) mempresentasikan hasil karyanya dengan tema “4 Sehat 5 Gratisan” kepada pengunjung, Minggu (25/01/2026). (Foto : Muhammad Iffan Maulana)

​“Kemarin orang melihatnya lewat foto. Hari ini kami ingin memberi pengalaman yang lebih utuh—bahwa apa yang ada di foto itu nyata, bisa disentuh, dan bisa dicicipi,” tambah Agus.

Menuju Destinasi Edukasi “Oysterlicious

​Pemilihan Wisma Jerman sebagai lokasi acara bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan upaya memperkenalkan Lembung Paseser sebagai kawasan wisata edukasi. Menurut Agus, belajar ekologi akan lebih efektif jika dibarengi dengan pengalaman sensorik seperti mencicipi hasil alam.

(Foto : Muhammad Iffan Maulana)

​Meski hasil laut lain seperti siput dan gurita belum bisa dihadirkan karena faktor cuaca, pihak penyelenggara sudah menyiapkan agenda besar bertajuk “Oysterlicious”. Acara ini akan dikemas dalam bentuk expo atau bazar kuliner yang digelar langsung di kawasan Lembung Paseser.

​“Kami berharap masyarakat Surabaya bisa datang langsung ke Lembung Paseser untuk merasakan sensasi belajar ekologi sekaligus menikmati hasil lautnya,” pungkasnya.

​Melalui sinergi pameran, kuliner, dan edukasi, “Nyeser Paseser” membuktikan bahwa pelestarian alam pesisir dapat memberikan nilai ekonomi dan rasa yang autentik bagi masyarakat luas.

Related posts