Menelusuri Jejak Manusia dan Mangrove Madura Lewat Pameran Foto “Nyeser Paseser”

Pengunjung mengamati foto seri yang memotret kehidupan masyarakat Lembung Paseser dalam pameran bertajuk Nyeser Paseser di Wisma Jerman, Surabaya, Sabtu (24/02/2026). (Foto : Muhammad Iffan Maulana)

Surabaya, HeadlineJatim.com – Lebih dari sekadar menangkap keindahan bentang alam, deretan foto di dinding ruang pamer itu bicara tentang kehidupan. Ada jejak kaki di lumpur mangrove, tangan-tangan yang akrab dengan jala, hingga memori masa kecil yang perlahan terkikis zaman.

Read More

Melalui pameran foto cerita bertajuk “Nyeser Paseser”, wajah Madura dihadirkan di Surabaya. Bukan sebagai objek wisata eksotis semata, melainkan sebagai ruang hidup di mana manusia dan alam saling membentuk satu sama lain.

Pameran ini merupakan hasil akhir dari lokakarya fotografi eksperimental yang melibatkan 16 peserta. Uniknya, para fotografer ini datang dari latar belakang yang sangat kontras—mulai dari tenaga pendidik, seniman, mahasiswa, hingga fotografer profesional.

Mereka turun langsung memotret kawasan pesisir Lembung Paseser, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan. Hasilnya? 14 tema foto cerita (photo story) yang menggugah empati.

Kurator pameran, Gata Mahardika (34), menegaskan bahwa Nyeser Paseser adalah sebuah ruang belajar. “Ini bukan sekadar pameran foto. Ini presentasi dari sebuah proses tentang bagaimana fotografi digunakan untuk menghadirkan pengetahuan secara bertanggung jawab,” ujar Gata.

(foto: Muhammad Iffan Maulana)

Berbeda dengan pameran konvensional yang mengandalkan foto tunggal, Nyeser Paseser mengedepankan foto seri. Setiap tema memiliki jumlah bingkai yang berbeda, tergantung pada kedalaman narasi yang ingin disampaikan.

“Ada tema yang hanya memuat satu foto karena membahas spesies mangrove langka yang tinggal satu-satunya, namun ada juga yang sampai 22 foto untuk merangkai satu cerita utuh,” tambah Gata.

Tak hanya visual, pengunjung juga diajak membaca esai pendek yang reflektif sebagai pendamping karya. Esai ini berfungsi sebagai konteks (teks), sementara foto berperan sebagai penyampai pesan visual.

Inti dari pameran ini adalah konsep Sistem Sosial-Ekologi. Di Lembung Paseser, pelestarian mangrove bukan hanya isu lingkungan teknis, melainkan berkaitan erat dengan budaya, tradisi, dan keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir.

Mentor aspek biologi dan konservasi, Agus Satriyono (40), mengapresiasi kejujuran karya para peserta. Ia menyoroti salah satu karya yang merekam perubahan pengetahuan antar-generasi di Madura.

“Ada jarak yang terlihat antara memori masa kecil warga lokal dengan apa yang dipahami anak-anak hari ini terhadap lingkungannya. Karya-karya ini memotret hubungan timbal balik itu dengan sangat kuat,” kata Agus.

Mengenal Lembung Paseser: Hutan Mangrove di Utara Madura

Secara geografis, Desa Lembung Paseser terletak di pesisir utara Bangkalan, sekitar 1-2 jam perjalanan dari Surabaya. Kawasan ini merupakan permata hijau dengan luas hutan mangrove mencapai lebih dari 95 hektare. Memiliki 34 spesies mangrove (sejati dan asosiasi), Ekosistem lengkap, yakni Terumbu karang, padang lamun, hingga hutan pantai.

Sejak 2017, wilayah ini menjadi fokus program pemberdayaan masyarakat Pertamina EP Poleng Field. Dukungan tersebut mencakup rehabilitasi mangrove hingga pengembangan wisata minat khusus berbasis edukasi.

Didukung oleh Wisma Jerman, pameran ini diharapkan menjadi jembatan antara pengetahuan lokal masyarakat pesisir dengan warga perkotaan serta akademisi.

Bagi pengunjung, pameran Nyeser Paseser menawarkan pengalaman “wisata” yang berbeda. Pengunjung diajak ‘plesir’ ke Madura tanpa harus menyeberangi Jembatan Suramadu, namun tetap mendapatkan esensi keseharian masyarakatnya.

“Fotografi tidak selalu harus spektakuler atau cantik secara visual. Yang terpenting, ia harus jujur dalam bercerita,” tutup Gata.

Related posts