De DOLARISASI CHAPTER INDONESIA jaya
Oleh: Dr. Ir. JAMHADI, MBA (Penasehat IDEI, Ketua APVOKASI JATIM serta Ketua YKPN)
Sebagai seorang akademisi, dan bergerak di sektor riel tentu mengamati bahwa diskursus mengenai dedolarisasi di Indonesia telah bergeser dari sekadar wacana geopolitik menjadi kebijakan moneter yang sangat terukur. Memasuki awal tahun 2026, fenomena ini semakin krusial bagi ketahanan ekonomi nasional.
Berikut adalah ringkasan komprehensif mengenai status dan dampak dedolarisasi bagi Indonesia
1. Definisi dan Mekanisme Utama: LCT
Dedolarisasi di Indonesia bukan berarti menghilangkan dolar AS sepenuhnya, melainkan mengurangi ketergantungan (dependensi). Instrumen utamanya adalah Local Currency Transaction (LCT)—sebelumnya dikenal sebagai Local Currency Settlement (LCS).
• Cara Kerja: Memungkinkan eksportir dan importir bertransaksi langsung menggunakan Rupiah dengan mata uang negara mitra (misal: Rupiah-Yuan, Rupiah-Won) tanpa perlu dikonversi ke Dolar AS terlebih dahulu.
• Perkembangan 2025/2026: Hingga pertengahan 2025, nilai transaksi LCT telah melonjak tajam mencapai lebih dari US$ 11,7 miliar, dengan Tiongkok sebagai mitra terbesar.
2. Dampak Strategis bagi Ekonomi Indonesia
Dedolarisasi memberikan beberapa keuntungan struktural yang signifikan:
• Stabilitas Nilai Tukar: Mengurangi tekanan permintaan terhadap Dolar AS, sehingga fluktuasi Rupiah tidak lagi terlalu “disetir” oleh kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed).
• Efisiensi Biaya Transaksi: Menghilangkan biaya konversi ganda (double conversion cost) yang biasanya dibebankan dalam transaksi berbasis Dolar, sehingga menurunkan biaya operasional bagi pelaku usaha.
• Kedaulatan Moneter: Memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mengelola likuiditas domestik dengan lebih mandiri dari guncangan eksternal (ekspor-impor lebih tahan terhadap global shock).
3. Posisi Geopolitik: ASEAN dan BRICS
Indonesia berada di persimpangan dua kekuatan besar dalam gerakan dedolarisasi:
• ASEAN: Pada KTT 2025, para pemimpin ASEAN telah meluncurkan peta jalan untuk memperkuat penggunaan mata uang lokal di kawasan, yang diproyeksikan semakin masif di tahun 2026.
• BRICS: Seiring dengan ketertarikan Indonesia terhadap blok BRICS, wacana penggunaan sistem pembayaran alternatif (seperti sistem pembayaran lintas batas non-SWIFT) menjadi peluang strategis untuk memperluas pasar ekspor ke negara-negara berkembang (emerging markets).
4. Tantangan bagi Akademisi dan Kebijakan
Meskipun menjanjikan, proses ini menghadapi hambatan nyata:
• Dominasi Struktural: Sekitar 80-90% perdagangan internasional dan utang luar negeri masih sangat bergantung pada Dolar AS.
• Kepercayaan Pasar: Pelaku usaha besar masih menganggap Dolar sebagai safe haven yang paling likuid.
• Infrastruktur Perbankan: Diperlukan sistem kliring antarbank yang lebih terintegrasi dengan negara mitra untuk memastikan transaksi mata uang lokal secepat dan semurah transaksi Dolar.
Catatan untuk Analisis Anda:
Pada awal 2026 ini, nilai tukar Rupiah diprediksi berada di kisaran Rp16.300 – Rp16.700 per USD. Keberhasilan program LCT akan menjadi bantalan kritis agar pelemahan ini tidak mengganggu sektor riil dan inflasi domestik.


