Dr. Ir. Jamhadi, MBA (tengah, selaku penasehat IDEI,Ketua Apvokasi jatim & Ketua YKPN ) berfoto bersama Dr. Ichsanuddin Noorsy (kiri) dan Prof. Hary Soegiri (kanan) di sela pelaksanaan Kongres Insan Doktor Ekonomi Indonesia (IDEI) 2026 di Surabaya, Selasa (13/1/2026). (Foto: istimewa)
Oleh: Dr. Ir. JAMHADI, MBA
HeadlineJatim.com – Pertumbuhan ekonomi yang “tersendat” dan risiko masyarakat “melarat” hanya akan terjadi jika kita terjebak dalam pola Business as Usual. Untuk mencapai angka 8%, kita harus beralih dari ekonomi konsumsi ke ekonomi produksi berbasis nilai tambah.
Solusi Sektor Riil: 5 Pilar Transformasi
1. Hilirisasi Massal di Sektor Padat Karya
Hilirisasi jangan hanya berhenti di pertambangan (nikel/tembaga). Untuk menyejahterakan rakyat, hilirisasi harus merambah ke:
• Agroindustri: Mengolah hasil tani menjadi produk jadi di pedesaan agar nilai tambah dinikmati petani, bukan pengepul.
• Maritim: Pembangunan pabrik pengolahan ikan di sentra nelayan untuk menekan angka kemiskinan pesisir.
2. Penguatan Rantai Pasok Lokal (TKDN 2.0)
Mendorong proyek strategis nasional dan swasta besar untuk wajib menggunakan vendor lokal.
• Solusi: Menciptakan ekosistem di mana perusahaan besar membina (mentoring) UMKM agar standar kualitasnya masuk dalam rantai pasok global.
3. Kedaulatan Energi & Pangan sebagai Penekan Inflasi
Masyarakat merasa “melarat” karena daya beli tergerus inflasi kebutuhan pokok.
• Solusi: Pemanfaatan lahan tidur (termasuk verifikasi lahan RTH agar produktif terbatas) untuk urban farming dan energi terbarukan skala komunitas guna menurunkan biaya hidup rakyat.
4. Akses Pembiayaan Pro-Pertumbuhan
Sektor riil sering terkendala agunan.
• Solusi: Mendorong skema Credit Scoring berbasis rekam jejak digital/transaksi bagi UMKM, bukan hanya berbasis aset fisik (tanah/bangunan), agar modal kerja mengalir ke bawah.
5. Kepastian Tata Ruang & Investasi (Ganti Rugi ke Ganti Untung)
Menuntaskan masalah seperti status lahan (contoh: kejelasan zonasi RTH vs Lahan Budidaya) sangat krusial agar investor tidak ragu menanamkan modal yang menciptakan lapangan kerja.
Ekonomi Indonesia tidak sedang gelap, kita hanya perlu menyalakan lampu-lampu di sektor riil.
Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah yang suportif dan kreativitas pengusaha di daerah, angka 8% bukan sekadar impian, melainkan kebutuhan untuk membawa berkah

